
Setelah selesai menjelaskan semua dokumen di tangannya, Rangga mengembalikan berkas itu pada Vierra.
"Terima kasih kakak ipar," ucap Vierra.
"Sama-sama."
"Kalau begitu aku pergi sekarang," Kata Vierra berbalik untuk pergi.
"Tunggu!" Tiba-tiba kata Rangga menghentikan langkah Vierra lalu perempuan itu berbalik menatap Rangga.
Jantungnya yang sedari tadi berpacu dengan kencang semakin cepat berdetak karena tak sabar menantikan apa yang akan dikatakan oleh Rangga.
"Apakah masih ada?" Tanya Vierra dengan gugup.
"Itu, Apakah kau bisa mengajariku cara memasak di dapur?" Tanya Rangga.
Vierra terkejut, "Eh? Kakak ipar ingin belajar cara memasak?" Tanya Vierra tak percaya.
Mana mungkin pria itu mau membuang-buang waktunya berada di dapur untuk memasak ketika pria itu memiliki setumpuk pekerjaan yang lebih berarti untuk dikerjakan daripada bermain-main di dapur?
__ADS_1
"Ya," jawab Rangga dengan singkat.
Dia tidak mau membuat Vierra curiga bahwa dia melakukan itu hanya untuk berdekatan dengan perempuan itu.
"Eh, tapi,, aku rasa kakak ipar tidak perlu belajar memasak. Aku dan Satya bisa memasak untuk kita semua, jadi--"
"Baiklah kalau begitu, kau boleh pergi," Rangga memotong ucapan Vierra karena pria itu berpikir bahwa Vierra berkata demikian karena perempuan itu tidak mau berdekatan dengannya dan hanya mau menghabiskan waktunya di dapur bersama dengan Satya.
"Ng! Ya,, selamat malam," akhirnya Vierra keluar dari ruang kerja Rangga.
Rangga menatap pintu yang telah terkunci, perasaannya menjadi cenat-cenut memikirkan Vierra yang terus memberi kesempatan bagi Satya untuk bersama dengannya tetapi perempuan itu tidak memberinya kesempatan.
Setelah beberapa saat, pria itu keluar dari ruang kerjanya menyusul Vierra ke lantai 1.
"Ha ha ha... Jadi kakakmu pernah jatuh ke selokan dan malah memarahimu?" Tanya Vierra tanpa menghentikan tawanya begitu dia mendengar cerita lucu dari Satya.
"Hm,, Kakakku itu sangat pemarah, dia terus memarahiku setiap kali aku membuat sedikit kesalahan. Itulah sebabnya aku memilih pergi ke luar negeri bersama paman dan tanteku yang sangat menyayangiku. Biar ku ceritakan cerita yang lainnya ketika aku dan dia pergi berlibur ke--"
"Hm!!" Tiba-tiba suara dari belakang menghentikan Satya yang sedang menggosip kakaknya.
__ADS_1
Dua orang itu langsung menoleh ke arah Rangga dan saat ia sangat terkejut melihat kakaknya berjalan ke arahnya dengan wajah yang datar.
"Uh,, Kakak,, sejak kapan kau ada di sana menguping pembicaraan kami?" Tanya Satya merasa gugup.
Dia baru saja menceritakan beberapa aib kakaknya, tapi sekarang pria itu malah berdiri dibelakang mereka!!
Entah sudah berapa lama pria itu menguping pembicaraan mereka!!!
Rangga menatap dua orang itu sembari berjalan kearah sofa, "Aku rasa kalian begitu senang bercerita, Mengapa tidak melanjutkannya?"
"Uh,, kakak,, aku rasa kami sudah selesai bercerita. Oya,, Hari ini aku memberi beberapa anggur. Bagaimana kalau kita meminumnya? Aku akan mengambilnya sekarang!!" Kata Satya langsung berlari ke kamarnya meninggalkan Rangga yang sedari tadi memberinya tatapan penuh peringatan.
Ditinggalkan berdua saja dengan Rangga, Viera langsung menunduk menghindari tatapan Rangga.
"Apakah begitu menyenangkan menertawakan ku?" Tiba-tiba tanya Rangga membuat Vierra langsung mengangkat wajahnya melihat pria itu.
"Uh,, Apa maksud kakak ipar? Aku sama sekali tidak mengerti," ucap Vierra sembari menahan nafasnya.
Memang benar tadinya dia menertawakan pria itu, tetapi dia bukan menertawakan karena mengejek dia hanya merasa gemas mendengar cerita Rangga dari Satya.
__ADS_1
"Oh ya,, lalu coba katakan, apa yang baru saja kau tertawakan bersama Satya?" Tanya Rangga tak memberi kesempatan bagi Viera untuk menghindar dari pertanyaannya.
"Eh,, itu,," Vierra menggigit bibir bawahnya, dia berharap Satya segera datang hingga pria itu bisa menolongnya dari Rangga.