Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan

Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan
69. Tidak mau berbagi toilet


__ADS_3

Cukup lama bercerita bersama, akhirnya semua orang itu melangkah ke ruang makan untuk makan malam bersama.


Saat pergi ke ruang makan, Rangga memperhatikan Vierra yang tampak pucat.


Pria itu pura-pura mendekati Vierra lalu berbisik pelan, "Ke toilet sebentar," katanya lalu pria itu berbalik ke arah toilet.


"Kau mau kemana?" Aldan langsung bertanya saat melihat putranya tiba-tiba berjalan ke arah yang lain.


"Aku ke toilet dulu ayah," ucap Rangga lalu melanjutkan langkahnya menuju toilet.


Vierra memperhatikan pria itu tapi dia tidak mengikutinya dan hanya berjalan ke ruang makan.


'Aku tidak boleh membuat orang-orang curiga kalau aku dan Rangga menghilang secara bersamaan,' Pikir Vierra.


"Silahkan," Satya dengan senyum sumringahnya menarikan kursi untuk Vierra.


"Terima kasih," ucap Vierra langsung duduk di kursi itu lalu melihat semua orang juga ikut duduk di kursi masing-masing.


"Dimana suamimu?" Kartika bertanya pada putrinya saat melihat kursi di samping Claudia kosong.


"Ah,," Claudia melihat ke arah pintu, dia juga heran kenapa pria itu tiba-tiba menghilang.


"Aku ke toilet sebentar," tiba-tiba kata Vierra segera berdiri lalu perempuan itu berjalan ke arah toilet.

__ADS_1


"Lho sayang, wajahmu tampak pucat, Apakah kau sakit?" Kartika bertanya saat melihat wajah Vierra yang tampak tidak nyaman.


"Tidak Bu, aku baik-baik saja," ucap Vierra lalu meninggalkan ruang makan.


"Jadi kemana rangga?" Windri kini bertanya saat melihat tidak ada satupun orang yang mengatakan ke mana pria itu menghilang.


"Hah,, kalian ini,, tadi Rangga pergi ke toilet. Kita makan saja dulu lalu mari menunggu mereka berdua selesai dari toilet." Ucap Aldan.


Sementara di toilet, Vierra baru saja berjalan ke arah toilet saat melihat Rangga sudah menunggunya di sana.


Begitu tiba di hadapan Rangga, pria itu langsung menariknya ke salah satu toilet dan menutup pintu.


Pria itu langsung memperhatikan wajah Vierra yang tampak pucat, "Apa kau sakit?" Tanya Rangga dengan cemas.


Perempuan itu lalu menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak sampai separah itu hingga perlu dikhawatirkan. Aku hanya merasa sedikit lelah," katanya.


Rangga masih merasa cemas, "Kalau begitu nanti aku akan menaruh vitamin di dalam lemari dapur di rak ketiga, kamu ambil dan minum. Mengerti?"


Vierra mengangguk, "Iya, tapi sekarang kita harus kembali ke meja makan atau semua orang akan curiga," ucap Vierra.


"Baiklah, kau kembalilah dulu, nanti aku akan menyusulmu." Ucap Rangga mendaratkan sebuah ciuman di bibir Vierra lalu pria itu membuka pintu toilet.


Baru saja terbuka toilet, ia melihat Satya berdiri di depan toilet.

__ADS_1


"Astaga Kakak!! Kenapa lama sekali? Aku sudah kebelet!!" Ucap Satya hendak mendorong pintu agar terbuka semakin lebar ketika Rangga menahannya.


"Kenapa kau si sini?! Pakai toilet lain!" Ucap Rnagga.


"Ng?!! Kakak ini kenapa sih? Aku tidak biasa menggunakan toilet sebelah sana! Lagi pula Kakak kan sudah selesai, ayo cepat keluar, biar aku menggunakan toilet ini." Ucap Satya hendak meraih tangan kakaknya untuk menariknya keluar Ketika Rangga malam menutup pintu toilet.


"Gunakan toilet lain!!" Kata Rangga kesal.


"Apaan sih kak?!" Satya berdesis kesal dengan kelakuan kakaknya lalu tanpa ada pilihan lain pria itu menggunakan toilet di sebelah.


"Bagaimana ini?" Vierra bertanya dengan setengah berbisik pada Rangga.


"Jangan khawatir, biar aku lihat lagi di luar," kata Rangga membuka pintu dan melihat tempat itu sudah kosong Jadi dia mengangguk pada Vierra lalu membiarkan perempuan itu keluar.


Vierra buru-buru meninggalkan tempat itu lalu bergabung dengan semua orang di meja makan.


"Lho Vierra sudah kembali, tapi Rangga kok belum ya," Kata Windri merasa bingung dengan putranya yang sudah terlalu lama menghilang dengan alasan pergi ke toilet.


"Jangan-jangan dia malah bertengkar lagi dengan Satya yang baru saja izin ke toilet." Kata Aldan.


"Sayang, mana ada begitu, kita tunggu sebentar lagi, mereka pasti akan kembali." Ucap Windri sembari melemparkan senyumnya pada besannya.


Sangat memalukan bila keburukan keluarga mereka terbongkar di depan besan mereka.

__ADS_1


Apa lagi di hari peringatan pernikahan anak-anak mereka.


__ADS_2