
Ketika Vierra tiba di keluarga Faraday, perempuan itu langsung kembali ke kamar lamanya dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
'Aku kembali lagi ke kamar ini,' ucapnya memejamkan matanya lalu dia teringat akan sesuatu.
Perempuan itu langsung duduk memegangi perutnya.
"Apakah di perutku sekarang,," Vierra menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Astaga,, ini sangat buruk. Apa yang akan kulakukan kalau aku benar-benar hamil?" Vierra merasa sakit kepala memikirkannya, ia merasa seperti dihempaskan ke jurang.
Perempuan itu terus memikirkannya sampai dia terkejut saat sebuah ketukan terdengar dari jendelanya.
Vierra yang sedang tegang semakin tegang dan ketakutan, siapa yang mengetuk jendela orang di tengah malam seperti ini?
"Sayang?" Tiba-tiba terdengar suara yang familir di telinga Vierra.
"Si,, siapa?" Vierra bertanya dengan jantung berdegup kencang.
Mungkinkah itu benar-benar Rangga? Tapi mana mungkin ada Rangga di sini sementara pria itu sedang berada di kediamannya?
"Ini aku, suamimu,," lagi terdengar suara yang benar-benar mirip dengan Rangga, jadi Vierra pelan-pelan turun dari tempat tidur menghampiri jendela.
__ADS_1
Perempuan itu membuka tirai dan terkejut melihat Rangga berdiri di sana dengan pakaian serba hitam.
Vierra langsung membuka jendela, "Bagaimana bisa kalau ada di situ?" Tanya Vierra sembari membantu pria itu memasuki kamarnya.
Begitu jendela ditutup, Rangga langsung memeluk Vierra dengan erat.
"Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu," kata Rangga menciumi telinga Vierra hingga membuat perempuan itu bergidik geli.
"Uh,, hentikan itu!!! Bagaimana caramu ada di sini? Bukankah kau harusnya tinggal di rumah orang tuamu?" Tanya Vierra sembari menjauhkan telinganya dari jangkauan bibir Rangga.
"Sudah,, aku akan menceritakannya nanti." Kata Rangga melepas pelukannya lalu pria itu melepas jaket hitam dan celana panjangnya.
"Kau benar-benar niat datang kemari? Jangan-jangan kau akan menginap?" Tanya Vierra tek percaya.
"Hm,, Tentu saja aku harus tidur dengan istriku." Ucap Rangga meletakkan pakaiannya di kursi lalu menarik Vierra dan menghempaskan perempuan itu ke kasur.
Rangga ikut menghempaskan tubuhnya di samping Vierra, tetapi dia menjerit kesakitan saat merasakan kasur yang digunakan Vierra sangatlah keras.
"Ini kasurmu? Mengapa begitu keras?" Tanya Rangga.
Mendengar pertanyaan Rangga, Vierra hanya tersenyum lalu memeluk pria itu, "Kasur ini sudah menemaniku selama belasan tahun, Jadi kau tidak boleh menghinanya seperti itu." Kata Vierra membuat Rangga tercengang.
__ADS_1
Pria itu menatap Vierra dengan seksama, "Kau ini,, tidak bisakah kau mengeluh sedikit pada suamimu?" Tanya Rangga sembari menarik Vierra ke atas tubuhnya.
"Kita tidur seperti ini saja supaya punggungmu tidak sakit." Kata Rangga membelai rambut Vierra.
Vierra tidak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum memeluk Rangga, 'Aku tak pernah bermimpi kalau suatu saat akan ada seseorang yang sangat memperhatikanku seperti ini.' pikir Vierra mengingat bagaimana fasilitas yang diberikan Rangga di rumah pria itu sangat lah bagus.
Kasur yang empuk, kamar mandi yang luas ruang ganti yang luas, dan AC yang menyegarkan.
"Hah,, apakah AC di sini juga rusak?" Rangga bertanya sembari melihat ke arah AC di kamar Vierra.
"AC ini rusak beberapa tahun yang lalu, tapi tidak masalah karena di sini cukup adem." Ucap Vierra.
Mendengar itu, hati Rangga mau tak mau terasa sangat sakit, dia tak pernah menyangka kalau Vierra yang selalu tersenyum membicarakan keluarga Faraday dengan sangat baik ternyata malah sangat menderita.
"Apakah tidak ada satupun orang yang menyadari kalau AC di kamarmu rusak?" Tanya Rangga.
"Hm,, aku tidak memberitahu siapapun." Kata Vierra menggosokkan pipinya tidak ada bidang Rangga.
Begini saja, dia merasa sangat nyaman, dia langsung melupakan bagaimana dia yang sangat kahwatir memikirkan dirinya sedang mengandung.
Yang paling penting sekarang adalah menikmati hari-hari bahagianya dengan Rangga, karena mungkin saja besok, lusa atau beberapa waktu ke depan kebahagiaan ini bukan menjadi miliknya lagi.
__ADS_1