
Siang yang dihiasi teriknya matahari kini berganti dengan malam yang berselimut langit mendung.
Tik tik tik....
Akhirnya langit mendung itu kini meneteskan titik-titik air yang membasahi permukaan bumi dan menyegarkan tanaman-tanaman yang sedari siang terpancar teriknya sinar matahari.
Di atas sebuah danau, seorang pria yang tertidur di dalam perahu bebek kini mengerjakan matanya.
"Hm!!" Rangga hendak merenggangkan tubuhnya saat menyadari seorang perempuan masih bersandar di bahunya dengan tangan mereka yang saling menggenggam.
"Astaga,," Rangga langsung mengulurkan tangannya meraba wajah Vierra.
"Sayang," katanya membangunkan Vierra.
Tapi sepertinya, perempuan itu masih sangat lelap dalam tidurnya hingga Vierra sama sekali tidak menyadari Rangga yang membangunkannya.
Rangga menatap ke atas, untunglah perahu bebek itu memiliki atap jadi mereka tidak terkena air hujan.
Rangga kemudian mengambil ponselnya dan menyalakan ponselnya.
30 panggilan tak terjawab dari Satya.
Rangga mengabaikan hal tersebut dan menyalakan senter ponselnya.
Berbekal penerangan dari senter ponselnya, Rangga mengayuh perahu bebek mereka menembus hujan untuk kembali ke tepi danau.
Tetapi karena penerangan yang terlalu pendek hingga jarak pandang mereka juga menjadi sangat pendek maka Rangga tidak bisa menemukan jalan keluar dari danau itu.
"Dimana tepi danaunya?" Rangga bertanya-tanya karena sedari tadi dia hanya menemukan pulau-pulau kecil yang ada di tengah danau.
__ADS_1
"Hngggg!!!!" Vierra akhirnya bangun, perempuan itu masih memejamkan matanya sembari menarik tubuhnya dari Rangga.
"Hoam!!" Vierra membuka matanya dan terkejut melihat kegelapan di depannya dengan suara rintik hujan yang ada di sekitar mereka.
"Sayang, mengapa tidak membangunkanku?" Tanya Vierra menoleh pada pria di sampingnya.
"Aku juga ketiduran dan baru beberapa menit yang lalu terbangun." Ucap Rangga sembari melepas jaketnya dan memberikan jaket itu pada Vierra.
"Kau tidak boleh kedinginan," ucap Rangga.
"Terima kasih, tapi kita harus segera keluar dari tempat ini." Ucap Vierra yang merasa cemas.
"Iya," jawab Rangga kembali meroda perahu bebek mereka
Namun beberapa kali berputar, mereka tidak menemukan jalan keluar dari danau.
Rangga terpaku menatap Vierra, Mengapa tadi tidak kepikiran?
"Apa yang kau lihat?" Cepat telepon seseorang untuk membebaskan kita dari tempat ini." Kata Vierra akhirnya membuat Rangga tersadar lalu pria itu menelpon asistennya.
Setelah menelpon asistennya, Rangga melihat Vierra yang tampak menggigil di tempatnya.
"Kemarilah,," ucap Rangga mengulurkan tangannya lalu menarik perempuan itu ke pangkuannya.
Rangga memeluk Vierra dengan erat agar perempuan itu tidak kedinginan.
"Ini salahku, seharusnya aku mendengarkan omonganmu dan tidak memaksa untuk menaiki wahana ini." Ucap Vierra sembari menyandarkan dadanya di dada suaminya.
Rangga menggosokkan hidungnya di puncak kepala Vierra sembari berkata, "Jangan menyalahkan diri sendiri, Ini juga salahku karena aku ketiduran."
__ADS_1
"Maaf, lain kali aku pasti akan mendengarkanmu." Kata Vierra sembari menghela nafas.
Rangga tersenyum, "Baiklah, aku pegang kata-katamu."
"Tentu saja kau bisa mempercayai kata-kataku. Tapi,, Apakah kau tidak dingin?" Tanya Vierra yang baru menyadari bahwa pria itu hanya memakai baju kaos.
"Tentu saja dingin, apakah kau mau menghangatkan ku?" Tanya Rangga.
"Tentu saja mau! Kenakan kembali jaketmu," ucap Viera hendak melepaskan jaket Rangga yang ada di tubuhnya, tapi Rangga menghentikannya dan hanya mengangkat dagu.
"Di peluk olehmu saja bisa menghangatkan ku," kata Rangga.
Wajah Vierra langsung bersemu merah, perempuan itu berkata," Aku akan memelukmu."
Vierra membalikkan posisinya menghadap Rangga lalu memeluk pria itu dengan erat.
"Apakah lebih hangat?" Tanya Vierra merasakan dada bidang Rangga menempel di dadanya.
"Ya,, tapi,," Rangga memegang dagu Vierra lalu mengangkat wajah perempuan itu.
"Apa lagi?" Tanya Vierra.
"Bibirku juga butuh dihangatkan," ucap Rangga menundukkan kepalanya melahap bibir mungil Vierra
Vierra begitu tercengang, tetapi beberapa saat dia menikmati ciuman dari Rangga lalu tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah pantatnya.
Jantung Vierra berdegup kencang,, apakah mereka akan melakukannya di tempat itu?
Akan sangat memalukan jika tiba-tiba ada orang yang memergoki mereka berdua.
__ADS_1