
Setelah Vierra keluar dari toilet, Rangga pun ikut keluar dari toilet. Tapi pria itu terkejut ketika toilet di sebelahnya langsung terbuka memperlihatkan Satya yang kini memandangnya dengan tatapan marah.
Rangga mengerutkan keningnya melihat pria itu, "Ada apa?" Tanya Rangga.
Nafas Satya berhembus tak karuan dengan tangan pria itu terkepal kuat menatap kakaknya dengan mata memerah, "Kakak tidak usah pura-pura lagi, kakak selingkuh dengan Vierra 'kan?!" Tanya Satya pada Rangga.
Awalnya dia mengikuti Vierra karena cemas Vierra mungkin sedang sakit, tapi ketika dia tiba di toilet dilihatnya salah satu toilet itu kosong dan yang lainnya digunakan.
Tetapi ketika dia mengira Vierra menggunakan toilet yang sebelah, ternyata yang keluar dari toilet adalah Rangga.
Lalu Rangga yang bersikeras tidak mengijinkannya menggunakan toilet yang sama dengan pria itu......
Apa lagi kalau orang itu tidak berdua di toilet? Rangga sengaja menahannya untuk menyembunyikan Vierra.
Rangga terkejut, dari mana Satya mendapat pikiran seperti itu?
"Apa maksudmu?" Tanya rangga. 'Mungkinkah tadi Satya memang melihatku dan Vierra berduaan di kamar mandi?' pikir Rangga cemas.
"Kalau tidak selingkuh lalu apa?!! Pasti tadi kakak dan Vierra berduaan di kamar mandi ini bukan?!" Tanya Satya menahan kemarahannya.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Siapa yang berduaan di kamar mandi? Kau ini selalu bicara omong kosong saja." Ucap Rangga kembali berbalik meninggalkan Satya.
"Tunggu!" Satya menghalangi jalan Rangga, "Jangan berpura-pura, Kalau kalian tidak berduaan di kamar mandi lalu di mana toilet yang digunakan Vierra? Tadi aku melihatnya berjalan kemari!" Ucap Satya menatap tajam kakaknya.
"Hah,, berjalan kemari bukan berarti ke toilet. Ada banyak tempat lain di sekitar sini," kata Rangga mendorong adiknya lalu meninggalkan Satya.
Satya berdiri memandangi punggung kakaknya sembari mengepalkan tangannya, 'Aku tidak mungkin salah, kalau tadi kakak benar-benar tidak bersama dengan Vierra maka tidak mungkin Kakak menghalangiku untuk menggunakan toiletnya.' pikir Satya dalam hati.
Pria itu cukup lama terdiam dan meredakan emosinya sebelum menyusul semua orang ke meja makan.
Saat di meja makan, Satya memperhatikan Vierra dan Rangga, sesekali dia melihat Rangga menatap ke arah Vierra, tetapi Vierra, perempuan itu hanya tertunduk menikmati makanannya.
'Tapi Vierra tidak mau mengatakan apa pun pada orang lain karena dia takut melukai kakaknya.' Satya terus berpikir sembari menghabiskan makanan di piringnya.
Begitu makan malam selesai, satu persatu orang meninggalkan ruang makan, termasuk Vierra yang kini bergabung bersama Satya di ruang keluarga sembari menonton TV.
Dua orang itu duduk di karpet sembari terfokus pada TV, sementara yang lainnya duduk di atas kursi sambil berbicara masalah hubungan keluarga Faraday dengan keluarga Edwar.
Sambil menonton, Satya memperhatikan Vierra yang masih tampak pucat, "Apakah kau sakit? Mengapa wajahmu begitu pucat?" Tanya Satya cemas.
__ADS_1
'Apakah wajahnya pucat seperti ini karena Rangga mengganggunya? Bagaimanapun, Vierra pasti tidak akan menceritakan hal seperti itu pada siapapun sebab istri Rangga adalah kakak angkatnya' pikir Satya.
Vierra menjalankan kepalanya, "Tidak, aku baik-baik saja. Oya, Apakah kau mau minum jus?" Tanya Vierra
"Hm, boleh juga," ucao Satya hendak berdiri untuk mengambil jus di dapur ketika Vierra menahannya.
"Biar aku saja," ucap Vierra lalu berdiri meninggalkan semua orang dan mengambil beberapa kaleng jus yang diletakkan di dalam kulkas.
Setelah menyusunnya di baki, Vierra teringat akan ucapan Rangga, jadi perempuan itu menghitung lemari lalu membuka lemari ketiga.
Dilihatnya sebuah kotak yang berisi vitamin, Ia langsung mengambil kotak itu dan membukanya.
Sebuah kertas diletakkan di sana dengan tulisan, MINUM OBATNYA SEKALI SEHARI ❣️.
Vierra tersenyum melihat simbol hati di belakang tulisan itu, "Pria kaku itu bisa juga menggambar hati," ucapnya membuka obat yang ada di dalam kotak lalu meminumnya.
Setelahnya, Vierra menyimpan obat itu ke dalam kantongnya lalu membawa jus ke ruang keluarga.
Ketika tiba di ruang keluarga, ia melihat Rangga sudah ada di sana dengan pria itu ikut duduk di lantai di samping Satya.
__ADS_1