
Vierra sangat merasa sangat nyaman tidur di atas tubuh Rangga, jadi perempuan itu dengan cepat memasuki dunia mimpi.
Tetapi pria yang berada di bawah Vierra, selain menahan hasratnya pada Vierra, dia juga menahan rasa sakit karena kasur yang tidak memenuhi syarat untuk Ia tiduri.
Pria itu gelisah sepanjang malam, dia ingin bergerak tetapi tidak mau membangunkan Vierra, dia berusaha memejamkan matanya tetapi dia tidak bisa melakukannya, rasa sakit di sekujur punggungnya selalu menghantuinya.
Akhirnya, Rangga terjaga sampai pukul 03.00 dini hari.
"Hah..." Rangga menghela nafas lalu pelan-pelan menurunkan Viera dari tubuhnya.
Pria itu mencium Vierra beberapa kali sebelum meninggalkan perempuan itu.
"Aku harus pergi," katanya pada perempuan yang sedang lelap dalam tidurnya.
Akan buruk jika ada yang memergoki mereka berdua.
Pagi hari ketika Vierra terbangun, perempuan itu langsung mencari Rangga dan tidak mendapati pria itu di manapun.
"Hah,, Mungkin dia sudah pergi." Vierra menghilangkan kekhawatirannya lalu perempuan itu memulai ritual paginya sebelum turun ke ruang makan untuk sarapan.
Saat itu, ayah dan ibu angkatnya sudah berada di ruang makan.
__ADS_1
"Yang hari ini bersiap sangat awal karena karena akan pergi berkencan!!" Kartika langsung menggoda putrinya membuat Vierra tersenyum kikuk sembari duduk di kursinya.
Arman mengangkat wajahnya menatap Putri angkatnya, "Ayah akan terus terang saja padamu, kau harus memenangkan hati Satya supaya kalian bisa menikah dengan cepat." Ucap Arman membuat Vierra yang hendak menggigit rotinya langsung membeku di tempatnya. Perempuan itu menatap ayah angkatnya dengan wajah bekunya
Menikah dengan Satya?
Kartika memperhatikan Putri angkatnya yang tertegun, jadi perempuan itu langsung mencairkan suasana dengan berkata, "Sayang, apa yang kau bicarakan? Kita tidak perlu memburu-buru pernikahan mereka." Ucapnya pada Arman lalu melihat Vierra, "Putriku, kami baru berencana untuk menjodohkan mu dengan Satya, tapi semuanya juga tergantung padamu. Kalau kau tidak nyaman dengan Satya maka--"
"Tidak ada yang tidak nyaman!! Pokoknya dia akan menikah dengan Satya!!" Sela Arman.
"Sayang,, kau menakuti Putri kita dengan berbicara seperti itu." Ucap Kartika.
Kartika menghela nafas, tidak ada gunanya berdebat dengan suaminya jadi perempuan itu hanya menatap Vierra, "Sayang, kami tahu ini begitu mendadak untuk diberitahukan padamu, tapi ini barulah rencana, apapun keputusanmu ibu akan mendukungmu." Ucap Kartika.
Vierra berusaha tersenyum, "Terima kasih Bu," ucapnya dengan jantung berdegup kencang.
"Sudah,, jangan terlalu memikirkan masalah ini, sekarang sarapanlah, sebentar lagi Satya akan menjemputmu. Ingat,, kau harus mengenal Satya dengan baik. Jika kau cocok, langsung beritahukan pada ibu agar kami bisa mempersiapkan segala sesuatunya." Ucap Kartika.
"Baik Bu," Jawab Vierra sembari menggigit rotinya dengan rasa roti itu seperti sayur pahit yang meluncur ke tenggorokannya.
'Apakah Rangga sudah mengetahui hal ini? Kemarin aku lupa menanyakan pada pria itu mengapa dia tiba-tiba marah.' pikir Vierra dalam hati sembari memaksakan dirinya menghabiskan selembar roti miliknya.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Viera benar-benar dijemput oleh Satya.
Pria itu keluar dari mobil membukakan pintu penumpang depan untuknya.
"Terima kasih," uca Vierra menaiki mobil dan terkejut saat melihat di dalam mobil itu sudah ada Rangga dan Claudia yang duduk di belakang.
"Selamat pagi," ucap Vierra pada dua orang di belakangnya.
"Selamat pagi," jawab Rangga.
"Satya menyalakan mesin mobil lalu mereka meninggalkan kediaman keluarga Faraday.
"Nanti ketika kita jalan-jalan aku dan Vierra akan pergi berdua dan kalian berdua sebagai sepasang suami istri juga bisa menikmati waktu kalian berdua." Ucap Satya melirik dua orang di belakang dari kaca spion mobilnya.
Pria itu melihat dua orang di belakang tampak tidak bersemangat, tapi dia tidak mengharapkan mereka bersemangat. Sangat tidak penting untuknya.
Satya balik menatap Vierra, "Di sana ada danau buatan, Bagaimana kalau kita mendayung perahu ke tengah danau?" Tanya Satya.
Ketika dia berpikir Vierra akan menjawabnya, tapi perempuan di sampingnya ternyata sedang melamun menatap kosong ke luar jendela.
Hal itu membuat Satya merasa aneh, 'Diantara keempat orang ini, mengapa hanya aku saja yang bersemangat?' pikirnya.
__ADS_1