Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan

Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan
72. Maaf dari Rangga


__ADS_3

Kartika yang sedang berbincang dengan Windri sesekali memperhatikan bagaimana kedekatan Vierra dengan Satya, jadi dia kemudian berbisik pada Windry.


"Coba lihat dua orang itu," bisik Kartika sembari menunjuk Vierra dan Satya yang tampak tertawa bersama melihat ponsel Satya.


Windri memperhatikan mereka berdua dan dia langsung mengerti dengan kode yang diberikan oleh Kartika.


"Kau benar,, Bagaimana kalau kita memikirkan masa depan mereka berdua? Akan sangat baik jika dua anak kita dijodohkan, hubungan keluarga kita akan menjadi semakin dekat." Ucap Windri.


Kartika mengangguk dengan semangat, "Ide bagus, kalau begitu nanti aku akan membicarakannya dengan suamiku." Ucap Kartika.


"Baiklah,," ucap Windri tersenyum senang dan membeku Ketika Rangga tiba-tiba berdiri menggebrak meja dengan keras lalu pria itu berjalan ke lantai dua.


Semua orang melihat punggung pria yang kini menjauh dari mereka.


"Ada apa dengannya?" Satya mengerutkan keningnya.


Rangga tidak pernah bersikap seperti itu, pria itu selalu tenang, bahkan ketika dia menghadapi masalah.


Kartika langsung menoleh pada putrinya yang tampak tenang menatap ipad-nya, "Claudia, ada apa dengan suamimu?" Tanya Kartika.


Claudia mengangkat wajahnya menatap ibunya, "Ibu.. Kenapa bertanya padaku? Dia sendiri yang memukul meja, jadi apa urusannya denganku?" Tanya Claudia sembari mengangkat bahunya lalu perempuan itu dengan wajah tenangnya kembali melihat ipad-nya.

__ADS_1


Masalah pekerjaan jauh lebih penting daripada mengurusi pria itu!!


Sangat menjadi beban!


Arman yang melihat sikap putrinya sangat mempermalukannya di depan besannya, pria itu langsung menghela nafas lalu berkata, "Pergi kejar suamimu dan tenangkan dia!"


"Hah,, ayah,, dia sudah dewasa,, jadi untuk ap--"


"Pergi!" Bentak Arman pada putrinya membuat Claudia menghela nafas dengan kasar lalu perempuan itu menyusul Rangga ke lantai 2.


Arman menghela nafasnya lalu melihat dua besannya, "Putri kami memang keras kepala, tetapi sebenarnya dia berhati lembut. Kalian tidak usah khawatir, dia pasti akan membujuk Rangga." Ucap Arman.


Kartika mengangguk, "Benar sekali, tidak ada yang lebih nomor satu selain pasangan kita sendiri." Ucap Kartika.


Vierra memperhatikan percakapan itu lalu dia pura-pura melihat ke TV sembari menopang dagunya.


'Mengapa Rangga tiba-tiba marah? Apakah saat ini Claudia sedang menenangkannya?' Vierra mengatup erat giginya merasa sangat cemburu pada Claudia.


Padahal perempuan itu tidak tahu saja bahwa di lantai 2 Rangga sedang berdiri di balkon kamar sementara Claudia berbaring santai di tempat tidur sembari memainkan ipad-nya.


Tidak ada interaksi apapun di antara mereka berdua, Rangga hanya berdiri di balkon sembari mengepal erat tangannya menatap langit yang gelap.

__ADS_1


Dia merasa sangat kesal setelah mendengar percakapan Ibunya dan ibu mertuanya.


'Perjodohan itu tidak akan pernah terjadi karena Vierra sudah menjadi istriku. Hah,, tapi tadi aku memukul meja terlalu keras, apakah Vierra baik-baik saja?' Rangga menghela nafas mengingat wajah terkejut Vierra saat dia memukul meja.


Pria itu sangat cemas jika Vierra terkejut dan malah berpikir aneh-aneh, jadi Rangga menenangkan dirinya lalu keluar dari kamar untuk mengecek keadaan Vierra di lantai 1.


Begitu tiba di lantai 1 dia bisa melihat Vierra duduk termenung dengan Satya yang berusaha berbicara padanya.


"Hei,, Vierra?!" Satya menggoyang-goyangkan tangannya di depan Vierra, tapi perempuan itu tampak tidak bergeming seolah Vierra sedang terkunci dalam pikirannya.


Hal itu membuat Rangga menghela nafas jadi dia mendekat ke sana, "Maaf tadi membuat kalian khawatir." Ucapnya.


Vierra yang terbengong langsung tersadar begitu mendengar suara Rangga.


Dia melihat pria itu, dan perasaannya menjadi lebih lega.


Tetapi orang lain yang berada di tempat itu, semuanya menatap Rangga dengan tatapan tak percayanya.


Apa yang baru saja dikatakan Rangga?


Maaf?!

__ADS_1


__ADS_2