
"Aku menyuruhnya? Hei, kau jangan ke gr-an! Aku tidak pernah menyuruhnya membelikan peralatan pribadi untukmu. Kau harus tahu kalau kita menikah bukan karena saling menyukai sehingga aku harus memperhatikanmu sebagai seorang suamiku, kita menikah karena bisnis, bisnis!!" Claudia menekankan kata bisnis.
Rangga yang hendak memasuki kamar mandi kini menghentikan langkahnya lalu menatap perempuan yang sibuk dengan ponselnya.
"Kau bilang apa? Bukan kau yang menyuruhnya untuk membeli peralatan ini?" Tanya Rangga dengan jantung yang kembali berpacu dengan cepat.
"Ya!" Jawab Claudia dengan cuek.
Begitu mendengarnya, Rangga langsung memeluk erat paperbag di tangannya lalu memasuki kamar mandi dan dan menatap paperbag itu.
Detik berikutnya pria itu tersenyum lalu dengan semangat membongkar isinya.
Semua yang ada disini adalah peralatan-peralatan yang tidak terlalu mahal, tapi juga tidak terlalu murah.
Rangga juga tidak menggunakan merek yang sama dengan yang dibeli oleh Vierra, tetapi pria itu dengan segera melemparkan semua barang-barang pribadinya ke dalam tempat sampah.
"Mulai sekarang aku tidak akan menggunakan barang-barang mahal ini, aku akan menggunakan barang-barang dari Vierra saja." Ucap Rangga melemparkan barang-barang pribadi yang ia beli ke dalam tempat sampah.
__ADS_1
Meski barang pribadi yang ia beli itu memiliki harga dan merk yang berkelas, tetapi pemberian Vierra jauh lebih berkelas di hatinya dari pada barang-barang tersebut.
Akhirnya malam itu Rangga dengan semangat membasuh wajahnya menggunakan semua peralatan yang diberikan oleh Vierra lalu pria itu dengan perasaan gembira pergi ke sofa untuk memasuki dunia mimpinya.
...
Pagi hari sekali Rangga bangun dengan tubuh yang segar dan wajah berseri-seri, pria itu langsung membasuh wajahnya sebelum turun ke lantai bawah.
Dari dapur terdengar bunyi pisau yang beradu dengan talenan, jadi pria itu bersemangat melangkahkan kakinya ke dapur dan mendapati Vierra sedang memotong memotong sayur.
Vierra yang sedang fokus memotong sayur kini berbalik dan terkejut melihat Rangga menghampirinya.
"Selamat pagi," ucap Vierra membalas sapaan Rangga lalu perempuan itu memperhatikan senyum Rangga yang dilemparkan padanya.
Deg!
Vierra langsung tertunduk dengan wajah yang agak merona sebab semalam dia benar-benar merasa bahagia hingga dia agak sulit tidur karena memikirkan kedekatannya dengan Rangga.
__ADS_1
"Apa yang bisa kubantu?" Tanya Rangga sambil memperhatikan Loren yang sedang memotong batang wortel.
Vierra dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Kakak ipar tidak perlu membantuku, ini sudah menjadi tugasku, kakak ipar pergi saja bersiap lalu 1 jam lagi kakak ipar bisa turun untuk sarapan." Ucap Vierra.
Rangga menghela nafas mendengar Vierra yang tidak mau dibantu oleh Nya, "Ah,, sepertinya aku memang benar-benar tidak berguna. Kalau begitu aku per--"
"Tidak!" Sela Vierra menatap Rangga yang kini terlihat murung di depannya.
"Itu,, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kakak ipar tidak berguna, tapi aku hanya merasa bahwa kakak ipar tidak seharusnya berada di dapur mengerjakan pekerjaan perempuan." Ucap Vierra yang tidak mau membuat Rangga tersinggung.
"Pekerjaan perempuan? Apa maksudmu dengan itu?" Tanya Rangga sambil mengerutkan keningnya.
Vierra tertegun karena dia tidak menyangka Rangga akan menanyakan tentang pekerjaan perempuan.
Dia pikir pria itu akan segera pergi meninggalkannya setelah dia mengatakannya, tapi ternyata,, pria itu masih tinggal dengannya?
'Apakah ini artinya Rangga sebenarnya datang kemari benar-benar ingin mendekatiku? Mana mungkin pria seperti Rangga mau menghabiskan waktunya di dapur?' pikir Vierra dalam hati.
__ADS_1