Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan

Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan
106. TAMAT


__ADS_3

"Tunggu, apa ini?" Tanya Rangga menatap koper Vierra, "Kau berencana untuk kabur dariku?"


"Itu,," suara Vierra tercekat.


Dia masih bisa melihat sisa-sisa air mata di pipi Rangga.


"Tidak!! Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi lagi dariku." Ucap Rangga kembali menarik Vierra kepelukannya lalu dengan erat memeluk perempuan itu.


"Kau tahu, sudah hampir 5 bulan aku terus mencarimu. Aku hampir saja menjadi gila karenamu, dan sekarang setelah aku menemukanmu mana mungkin aku membiarkanmu pergi lagi?? Tidak! Tidak boleh!!!" Ucap Rangga sambil memejamkan matanya menikmati pelukan mereka.


"Tapi aku tidak bisa kembali lagi. Kalau tidak, akan ada dua keluarga yang hancur. Aku tidak mau kehadiranku menjadi kehancuran untuk orang lain." Ucap Vierra.


Rangga melonggarkan pelukan mereka dan melihat Vierra yang tampak cemas, "Siapa yang akan hancur?? Apa kau tahu selama kepergianmu sudah banyak hal yang berubah? Aku dan Claudia sudah bercerai, keluarga Faraday dan keluarga Edward sudah merestui kita berdua. Tapi apa Kau tahu yang paling menyedihkan diantara semua itu?" Rangga menarik nafas dalam-dalam sembari menatap lekat perempuan di depannya.


"Ketika semua orang sudah setuju untuk kita berdua, kau menghilang,, kau pergi dariku!! Aku hampir gila karenamu dan kau malah berada di tempat seperti ini menyiksa diri?" Ucap Rangga mengagetkan Vierra hingga perempuan itu terpaku di tempatnya.


Setelah beberapa detik Vierra lalu berkata, "Kenapa,, Bagaimana bisa kau bercerai dengan Claudia, dan bagaimana bisa keluargaku dan keluargamu merestui kita?" Tanya Vierra yang kebingungan.


"Apakah alasannya penting? Yang sepenting sekarang, kita harus kembali!!" Ucapan Rangga meraih koper Vierra lalu mengetuk pintu.


"Kalian bisa membukanya." Ucap Rangga.


Akhirnya pintu kamar terbuka memperlihatkan Sabrina yang sedari tadi menguping pembicaraan kedua orang itu.


Rangga menatap perempuan tua itu lalu berkata, "Terima kasih telah menjaga istri saya selama 5 bulan. Sebagai ucapan terima kasih saya bolehkah saya meminta nomor rekening Nyonya?" Tanya Rangga.


Sabrina langsung mengangguk lalu berkata, "Tentu, tentu saja, orang yang ingin membalas budi harus diberi kesempatan." Ucap Sabrina segera mengeluarkan sebuah kertas yang sudah disiapkan untuk Rangga.


"Terima kasih." Ucap Rangga dijawab anggukan Sabrina.


Vierra kebingungan di tempatnya, tetapi dia tidak sempat berterima kasih lagi pada Sabrina, karena Rangga sudah menariknya menuruni tangga.


Kedua orang itu langsung memasuki mobil Rangga lalu memacu cepat mobilnya ke bandara.


Vierra duduk dengan hati cenat-cenut memikirkan dirinya akan kembali lagi ke ibukota.


"Kau,, kau yakin ini pilihan yang tepat?" Vierra bertanya pada Rangga karena dia begitu cemas.


Jika saja nanti ketika dia tiba di ibukota malah orang-orang menolaknya, apa yang harus ia lakukan?


"Bukankah dulu kau sudah berjanji untuk percaya padaku? Kau mengingkari janji itu berkali-kali!!" Ucap Rangga melirik Vierra lalu pria itu kembali menatap ke depan.

__ADS_1


Vierra tak mampu berkata-kata lagi, perempuan itu hanya terdiam di tempatnya karena dia menyadari kesalahannya.


Berani berjanji tapi tidak berani menepati janji.


Akhirnya, dengan cepat mereka telah tiba di kediaman Faraday.


Semua orang sudah berkumpul karena dalam perjalanan Rangga sudah menghubungi semua orang bahwa mereka akan segera kembali.


Vierra turun dari mobil dengan jantung berdegup kencang kembali melihat kediaman yang sudah menjadi rumahnya selama belasan tahun terakhir.


"Putriku!!!" Kartika berlari dengan cepat dari dalam rumah lalu memeluk Vierra dengan erat.


"Putriku akhirnya kembali," ucap Kartika merasa sangat senang karena sekarang dia sudah bisa memeluk Vierra secara langsung, bukan lagi dalam angan-angan, ataupun dalam mimpi.


"Ibu, Tolong jangan memeluknya terlalu erat, nanti bayi kami bisa sesak." Ucap Rangga saat melihat Kartika sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda untuk berhenti memeluk Vierra.


"Ah,," Kartika langsung melepaskan pelukan mereka dan melihat pipi Vierra sudah digenangi oleh air mata.


"Sayang, jangan menangis," ucap Kartika membantu Vierra dengan air matanya.


Vierra mengangguk lalu dia melihat Claudia ikut keluar dari rumah lalu perempuan itu menatap Vierra dengan kesal.


Tetapi Vierra yang dengar mendengarnya, dia merasa sangat senang lalu menyekah air matanya.


Perempuan itu baru saja berkata bahwa semua orang tidak tidur dengan nyenyak karena kepergiannya. Itu artinya, Claudia juga termasuk salah satu dari semua orang itu.


Jadinya Vierra langsung berlari dan memeluk Claudia dengan erat.


"Kakak! Hiks hiks!!" Vierra menangis dengan keras.


Meski dia selalu mengeluh akan Claudia yang terus membentak dan menyuruh-nyuruhnya, tetapi setelah 5 bulan berpisah, ternyata dia juga merindukan kakaknya itu.


Claudia yang dipeluk erat kini menatap ke atas langit, dia berusaha menahan air matanya.


"Kalau mau menangis, ya menangis saja, tidak perlu ditahan begitu." Ucap Kartika menggoda putrinya ketika menyadari bahwa putrinya berusaha menahan air matanya.


"Siapa juga yang mau menangis??" Kesal Claudia dengan suara seraknya lalu setelah berbicara, dia tanpa sadar mengedipkan matanya hingga air matanya jatuh di pipinya.


Vierra yang sudah melepaskan pelukannya dari Claudia langsung menahan tawanya saat melihat air mata di pipi Claudia, lalu perempuan itu segera berbalik meninggalkan semua orang.


Setelahnya, Vierra memeluk ayah angkatnya lalu memeluk Windri dan Aldan.

__ADS_1


Vierra pun sangat terkejut saat melihat Satya juga ada di sana bersama dengan Melci.


Melcy langsung memeluk Vierra, "Untunglah kau pulang hari ini, kalau tidak, kau tidak akan bisa menghadiri pernikahanku dengan Satya yang akan digelar satu bulan lagi." Ucap Melci mengejutkan Vierra.


"Apa?! Kau,, kalian akan menikah?" Tanya Vierra terkejut melihat dua orang di depannya.


"Ya," jawab Satya sembari melemparkan senyumnya ke arah Vierra.


"Wah,, kalau begitu selamat ya." Ucap Vierra turut berbahagia untuk dua orang itu.


Satya dia ingin mengatakan permintaan maafnya pada Vierra, tetapi pria itu masih menahannya, sebab saat ini Melcy ada di sampingnya.


Dia tidak mau membiarkan calon istrinya sedih mengetahui masa lalu mereka.


Rangga mendekati Vierra lalu merangkul perempuan itu.


"Ayo pergi ke kamar mu, kau harus istirahat setelah perjalanan yang panjang." Ucap Rangga merangkul Vierra ke dalam rumah lalu naik ke lantai 2 meninggalkan semua orang.


Tak ada satupun orang yang memprotes mereka, karena mereka tahu dua orang itu memang perlu beristirahat.


Dan terlebih, dua orang itu butuh waktu pribadi untuk melepas rindu.


Begitu mereka memasuki kamar, Vierra terkejut melihat semua perabotan usang dalam kamarnya kini diganti dengan yang baru.


Perempuan itu langsung berbalik menatap Rangga, "Apakah ini semua ulahmu?" Tanyanya.


"Memangnya siapa lagi?" Tanya Rangga sembari tersenyum lalu pria itu membawa Vierra kepelukannya, ia menahan tengkuk Vierra untuk mendaratkan ciuman di bibir Vierra.


Cup cup cup....


Akhirnya mereka bisa kembali lagi berciuman di dalam kamar milik Vierra.


Vierra tersenyum bahagia, darahnya berdesir menikmati ciuman mereka.


Seluruh kerinduan kini dilepaskan lewat ciuman penuh cinta.


...TAMAT...


Mampir di novel baru otor ya...


__ADS_1


__ADS_2