
Masih pagi-pagi sekali ketika Vierra terbangun lalu perempuan itu membersihkan diri.
Setelah ritual paginya selesai, Vierra memegang ponselnya untuk memesan makanan sebagai sarapan mereka di pagi hari itu.
Tepat pada pukul 7 pagi sarapan yang ia pesan akhirnya diantar oleh seorang kurir.
"Terima kasih," kata Vierra membayar tagihan pesanannya pada kurir yang mengantar makanan.
"Sama-sama, jangan lupa memesan lagi." Kata Sang kurir sembari tersenyum kearah Vierra lalu pria itu berjalan ke motornya.
Tidak menjawab ucapan sang kurir, Vierra langsung masuk ke rumah lalu menata makanan itu di atas meja makan.
Setelahnya, Vierra naik ke lantai 2 lalu berjalan ke depan pintu kamar Claudia dan Rangga.
Tok tok tok...
Vierra mengetuk pintu itu sembari menunggu penghuninya membukakan pintu baginya.
Setelah pintu terbuka, Vierra begitu terkejut melihat Rangga berdiri di depannya memakai handuk piyama dengan rambut yang masih basah.
"Ada apa?" Tanya Rangga menatap Vierra.
"Eh, itu,, sarapan sudah siap." Kata Vierra dengan wajah memerah,, ini pertama kalinya ia melihat pria yang baru selesai mandi.
Terlebih pria itu adalah Rangga!!!
"Vierra, masuk dulu ke sini!!" Tiba-tiba suara teriakan Claudia dari kamar mandi membuat dua orang yang sedang berbincang langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"Masuklah," ucap Rangga pada Vierra.
__ADS_1
"Maaf," kata Vierra yang sebenarnya merasa tidak enak memasuki kamar sepasang suami istri itu, tetapi dia benar-benar tidak bisa membantah Claudia.
Akhirnya Vierra masuk ke kamar mandi dan melihat Claudia sedang duduk di pinggir batu up menatap Vierra.
"Ada apa Kak?" Tanya Vierra.
"Bantu aku mencukur bulu kaki ku." Ucap Claudia memberi kode pada Vierra agar mengambil pisau cukur dan krim yang sudah ia siapkan di atas meja.
"Ah, baik," kata Vierra mengikuti perintah Claudia lalu perempuan itu mulai mengoleskan krim di kaki Claudia.
Sembari menunggu Vierra menyelesaikan pekerjaannya, Claudia mengambil tablet yang ada di sampingnya lalu membaca berita bisnis yang baru saja dirilis pada pukul 6 pagi tadi.
Sembari mencukur bulu kaki Claudia, Vierra sesekali mengangkat wajahnya menatap wajah Claudia yang terlalu serius menatap i-padnya.
'Apakah kemarin malam mereka melanjutkan malam pertama mereka yang tertunda di hotel?' Vierra bertanya-tanya dalam hati sembari menahan rasa sesak nya.
Bahkan sekarang Vierra sedang duduk di lantai membantu istri baru Rangga mencukur bulu kaki nya!!
'Astaga,, nasibku benar-benar tidak beruntung,,' Vierra menghela nafas sembari melanjutkan tugasnya.
"Sudah?" Claudia akhirnya bertanya setelah ia tidak merasakan lagi pergerakan Vierra di kakinya.
"Ya," jawab Vierra berjalan ke wastafel membersihkan tangannya.
"Kau boleh keluar," ucap Claudia pada Vierra.
"Baik," jawab Vierra lalu perempuan itu beranjak meninggalkan kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, ia melihat Rangga sedang berdiri memakai dasinya.
__ADS_1
Dasi pria itu sedikit miring, tapi dia tidak berani mengomentarinya sebab dia takut kalau Rangga sampai berpikir bahwa dia sengaja merayu pria itu.
Jadi Vierra tidak menghiraukannya dan hanya melangkahkan kakinya ke arah pintu untuk meninggalkan kamar.
"Tunggu!" Tiba-tiba suara Rangga dari belakang menghentikan langkah kaki Vierra lalu perempuan itu berbalik menatap Rangga.
"Ada apa?" Tanya Vierra.
"Bagaimana penampilanku?" Tanya Rangga pada Vierra membuat Vierra tertegun di tempatnya.
Deg!
Mengapa pria itu malah menanyakan pendapatnya tentang penampilan pria itu?
Jelas-jelas yang menjadi istri sah Rangga adalah Claudia, jadi seharusnya pria itu menanyakannya pada Claudia saja, bukan padanya.
"Ah,, ya,, kakak ipar terlihat tampan, tapi dasi kakak ipar sedikit miring." Ucap Vierra.
"Benarkah??" Rangga menyentuh dasinya untuk memperbaiki posisi dasinya, tetapi pria itu malah membuatnya semakin miring.
Hal itu membuat Vierra tidak bisa menahan diri lalu berjalan mendekati Rangga dan membantu pria itu memperbaiki posisi dasinya.
Melihat perempuan yang memperbaiki dasinya, Rangga tersenyum dengan jantung berpacu ke cepat.
'ini seperti dibantu oleh seorang istri untuk memasang dasi,' pikir Rangga dalam hati.
Dia memang sengaja membuat dasinya miring supaya Vierra membantunya memperbaiki dasinya, dan ternyata hal itu benar-benar berguna!!
Meski dia dan Vierra memiliki jarak yang sangat jauh, tetapi hal-hal seperti ini cukup membuatnya merasa senang.
__ADS_1