Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan

Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan
103. Perempuan yang mirip Vierra


__ADS_3

Berbulan-bulan mencari Vierra, Rangga tak pernah menemukan perempuan itu hingga dia sudah mengitari seluruh kota yang ada di negaranya dan termasuk ke luar negeri.


Selama berbulan-bulan itu pula, perusahaan telah diurus oleh ayahnya dan Satya.


Tak ada satupun dari mereka yang berani mencegah pria itu untuk terus mencari Vierra.


Karena mereka lebih memilih pria itu tetap baik-baik saja mencari Vierra daripada ketika Rangga hanya bisa mabuk-mabukan dengan menghabiskan harinya di bar.


Sehingga saat ini Rangga sedang berada di belahan Selatan negaranya mengitari sebuah kota.


"Sayang, kau dimana?" Ucap Rangga sembari mengendarai mobilnya mencari-cari keberadaan Vierra.


Pria itu terus mengendara sampai dia teringat akan sesuatu.


Pria itu langsung memutar balik mobilnya lalu kembali ke hotel tempat ia menginap sebelum mengendarai lagi ke Bandara.


'Benar, 4 hari lagi adalah tanggal yang kami sepakati untuk melaporkan pernikahan kami pada pena tua desa xx. Aku harap, saat itu Vierra akan datang ke sana.' pikir Rangga sembari berlari memasuki bandara.


Setelah 4 jam mengangkasa, akhirnya pesawat yang ditumpangi Rangga kini mendarat di sala satu bandar udara di ibu kota.


Pria itu dengan cepat mengendarai mobil yang telah disediakan oleh seseorang ke desa yang terletak di pinggir kota.


Begitu tiba di desa, ia langsung mengarahkan mobilnya ke rumah kepala desa.


Tok tok tok.


"Permisi," ucap Rangga dengan hati yang berdesir tak karuan.

__ADS_1


Setelah menunggu selama 1 menit, akhirnya handle pintu rumah kini diputar, lalu seorang pria kecil muncul dari dalam rumah.


"Halo, anda mencari siapa?" Tanya pria kecil itu sembari memperhatikan Rangga.


Wajah pria itu sangat tampan, tetapi di bagian bawah matanya terdapat kantung mata yang mencemari ketampanannya.


Meski kantong mata itu hanya kecil, tetapi tetap saja, sangat kontras mencoreng ketampanan pria itu.


"Aku mencari kepala desa." Ucap Rangga.


"Ah, Ayahku sedang keluar mengikuti sebuah rapat. Sebaiknya Paman menunggu saja di sini. Silakan masuk." Ucap pria kecil itu membukakan pintu untuk Rangga lalu membiarkan Rangga duduk di sofa ruang tamu.


Setelah 3 menit duduk, seorang perempuan yang dikenali Rangga sebagai istri kepala desa kini keluar membawa kopi pemberani. (Kopi pemberani yaitu kopi yang disediakan tanpa temannya yang bernama kue.)


"Maaf, hanya kopi saja." Ucapkan Ibu kades sembari ikut duduk di hadapan Rangga.


"Oya, kalau boleh tahu ada masalah apa mencari suami saya?" Tanya ibu kades pada Rangga.


"Saya ingin membicarakan masalah penting dengan nya." Ucap Rangga.


Ibu kades mengerti bahwa pria itu mungkin tidak mau menceritakannya padanya jadi dia hanya mengangguk-angguk lalu mengambil remote TV.


"Saya masih ada urusan di belakang, jadi sembari menunggu suami saya Tuan bisa menonton TV." Ucap Sang ibu kades meletakkan meremote di depan Rangga.


Rangga tidak memperdulikan nya, dia hanya mengangguk lalu membiarkan perempuan itu meninggalkannya.


Begitu Ibu kades pergi, Rangga langsung duduk bersandar sembari melihat ke sudut ruangan di mana sebuah CCTV terpasang.

__ADS_1


Beberapa saat, pria kecil yang tadi menyambut Rangga kembali menghampiri Rangga.


"Nama Om siapa?" Tanya pria kecil itu sembari mengambil remote yang ada di depan Rangga.


Rangga menatap pria kecil itu lalu berkata, "Rangga."


Pria kecil menekan remote pada TV lalu berkata, "Namaku Fahri."


Rangga mererutkan keningnya, 'Kenapa dia menyebutkan namanya?" Pikirnya yang merasa aneh bahwa dia sama sekali tidak menanyakan nama pria kecil itu, tapi mengapa pria kecil itu menyebut namanya?


Namun, melihat pria kecil itu tampak fokus memindah-mindahkan channel TV, Rangga tidak memperdulikannya lagi, dia kini melihat TV berukuran 32 inci di depannya.


Tuk tuk tuk...


Pria kecil itu terus menekan-nekan tombol remote sampai Rangga tiba-tiba merebut remot darinya.


"Kenapa?" Tanya pria kecil itu merasa heran pada Rangga.


Tapi Rangga sama sekali tidak menjawab. Dia kembali menekan tombol untuk mengembalikan channel yang tadi terlewati.


Seorang perempuan yang sedang memegang mikrofon berdiri di pinggir jalan, "Demikian laporan dari saya," ucap perempuan itu.


Rangga merasakan nafasnya memburu dan jantungnya berdegup kencang.


Sekilas tadi dia melihat di belakang perempuan yang sedang membawakan berita itu, berlari seorang perempuan yang sangat ia kenali.


Rangga langsung meletakkan remote dan mengambil ponselnya mencari channel TV tersebut di ponselnya.

__ADS_1


'Mungkinkah itu Vierra,' tangan Rangga begitu kaku bergerak di atas layar ponselnya.


__ADS_2