Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan

Pernikahan Dan Kehamilan Yang Dirahasiakan
50. Vierra mabuk


__ADS_3

"Oh ya,, lalu coba katakan, apa saja yang baru kau tertawakan bersama Satya?" Tanya Rangga.


"Eh,, itu,," Vierra menggigit bibir bawahnya, dia berharap Satya segera datang hingga pria itu bisa menolongnya dari Rangga.


"Apa itu?" Tanya Rangga sembari mengangkat alisnya menatap perempuan yang terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaannya.


"Ini dia minumannya!!!" Suara Satya dari belakang Rangga akhirnya membuat Vierra bisa bernafas lega lalu perempuan itu segera berdiri.


"Biar aku mengambil gelas!!" Kata Vierra berlari ke arah dapur mengambil 3 gelas.


Begitu kembali, Satya dengan semangat menuang anggur tersebut ke dalam gelas lalu membagikannya pada semua orang.


Rangga mengerutkan keningnya melihat Vierra dengan semangat mengambil gelas yang berisi setengah anggur, "Kau tidak boleh minum!" Katanya pada Vierra.


Vierra yang baru saja akan mencicipi anggur mengangkat wajahnya menatap Rangga, "Lho, kenapa?" Tanya nya bingung.


Satya pun tak kalah bingung, mereka semua sudah cukup umur untuk mencoba minuman itu, "Kenapa Vierra tidak boleh minum?"


Rangga menatap dua orang yang kini melihat ke arahnya, "Besok kau harus bekerja." Katanya datar.


"Ohh, kupikir apa,, aku hanya akan menghabiskan setengah gelas ini," Ucap Vierra langsung menengok habis anggur di dalam gelasnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?!!" Satya ingin menghentikan perempuan itu, tetap itu sudah terlanjur karena semuanya telah tertuang ke tenggorokan Vierra.


"Hah,,,, rasanya benar-benar melegakan!!" Ucap Vierra menikmati sisa-sisa anggur dalam mulutnya.


Dia tahu, Jika dia meminumnya sedikit-sedikit maka bisa-bisa nanti ada seseorang yang akan menghentikannya.


Makanya dia langsung meneguknya sampai habis.


"Astaga, apa kau baik-baik saja?" Tanya Satya khawatir.


Vierra kebingungan mendengar pertanyaan Satya, "Apa maksudmu? Tentu saja aku baik-baik saja," jawab Vierra sambil memainkan gelas kosongnya di atas meja.


"Ah,, baguslah,," Satya tersenyum menyengir.


Tetapi beberapa menit setelah mereka mengobrol sambil menikmati anggur, wajah Vierra mulai memerah dan perempuan itu tampak tak fokus berbicara.


"Kau mulai mabuk!" Ucap Satya menatap Vierra yang tersenyum dengan wajah merona.


"Mana ada,, lihat mataku, aku baik-baik saja!!" Kata Vierra sembari tersenyum.


"Uh,, baiklah,, lagi pula kita berada di rumah jadi kau akan baik-baik saja jika mabuk di sini." Kata Satya tersenyum.

__ADS_1


Perempuan yang mabuk di depannya begitu menggemaskan, jadi dia merasa beruntung bisa melihat Vierra dalam keadaan seperti itu.


Tetapi Rangga, pria itu memperhatikan tatapan adiknya dan semakin cemburu pada pria itu.


"Bukankah besok kau ada pertemuan pagi-pagi sekali?" Katanya pada Satya.


Tersenyum menatap kakaknya, Satya kemudian menjawab, "Ya,, Tapi ini masih belum terlalu larut, aku akan tidur sebentar lagi." Katanya lalu kembali menatap Vierra yang terlihat terkantuk-kantuk menahan kepalanya tetap berdiri tegak.


Rangga tidak mengatakan apapun, ia hanya diam saja memandangi Vierra sampai akhirnya perempuan itu terjatuh ke sandaran sofa.


"Ngg!!!" Suara Vierra menikmati posisi tidurnya.


"Dia tertidur,, aku akan memindahkannya ke kamarnya." Ucap Satya merasa sangat senang karena bisa menyentuh perempuan itu, apalagi Ini pertama kalinya dia akan melihat rupa kamar perempuan itu.


Tapi, baru saja dia berdiri ketika dia merasakan tubuhnya hampir jatuh ke belakang.


"Ughh,," pria itu kembali duduk memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


Tersenyum melihat adiknya, Rangga sudah memperkirakannya, dari tadi pria itu terus memandangi Vierra dan lupa mengontrol banyaknya minuman yang ia habiskan.


'Heh,, kau tidak bisa mengalahkan kakakmu,' pikir Rangga dalam hati lalu pria itu berdiri, "Kau kembalilah ke kamarmu, biar aku yang membawanya ke kamarnya." Ucap Rnagga.

__ADS_1


Satya mendengus dengan kesal lalu melihat Rangga, "Aku tidak akan membiarkan Kakak pergi sendiri ke kamar Vierra, aku akan pergi mengawasi kalian!!" Katanya dengan suara tegas.


Rangga mengerut kan keningnya, "Baiklah," jawab Rangga dengan singkat.


__ADS_2