
Setelah makan siang dan membahas kerjasama mereka, Viera kembali ke kantor dengan keadaan linglung.
Sepanjang hari duduk dia duduk di meja kerjanya sembari memikirkan ketidakpercayaannya dengan apa yang sudah ia bicarakan dengan Rangga.
Sampai ketika jam pulang kantor, semua orang sudah berdiri untuk meninggalkan ruangan sementara Vierra masih duduk memainkan pulpen di tangannya.
"Hei!!! Kau tidak mau pulang?!!" Tanya Melci.
"Oh, eh,," Vierra melihat semua orang sudah berdiri jadi perempuan itu dengan cepat ikut berdiri mengambil tasnya, "Aku melamun," katanya sembari tersenyum kikuk pada semua orang.
Akhirnya, mereka keluar dari ruang kerja mereka dan tepat berpapasan dengan CEO mereka yang juga hendak pulang.
Semua orang menghentikan langkahnya lalu Vierra melihat Claudia menatapnya, "Kita pulang bersama." Kata perempuan itu sembari berjalan ke arah lift.
"Baik," jawab Vierra mengikuti Claudia sembari melambaikan tangan pada rekan kerjanya yang masih tinggal.
"Hati-hati,,," Melci setengah berbisik pada Vierra.
Akhirnya dua orang itu berada dalam satu mobil dengan Vierra mengemudi sementara Claudia duduk di kursi penumpang belakang.
"Mengendaralah lebih cepat, Aku sangat lelah." Kata Claudia Di tengah perjalanan mereka.
__ADS_1
"Baik Kak," jawab Vierra lalu menambah kecepatan mobilnya hingga mereka tiba lebih cepat di rumah.
Begitu turun dari mobil, Claudia langsung berkata, "Pergi ke kamarku untuk memijatku."
Vierra yang mengikuti Claudia dari belakang langsung menjawab, "Baik Kak," katanya.
Akhirnya Vierra masuk ke kamarnya mengganti pakaiannya lalu memesan makanan secara online dan tak lupa pula memberitahu Satya agar pria itu menerima pesanannya.
Setelahnya, Vierra naik ke kamar Claudia lalu memijat perempuan itu.
Dia masih sementara memijat Claudia yang sudah tertidur ketika Rangga memasuki kamar.
Tatapan mereka bertemu sesaat, tetapi Vierra langsung kembali fokus pada Claudia.
"Hm," jawab Rangga dengan singkat lalu pria itu keluar dari kamar meninggalkan dua perempuan yang berada di ranjang.
"Bantu aku luluran," ucap Claudia setelah pintu kamar tertutup lalu Vierra langsung membantu perempuan itu.
Cukup lama meladeni Claudia, akhirnya perempuan itu puas dan mengatakan akan berendam jadi Vierra langsung keluar dari kamar.
Baru saja membuka pintu, Vierra terkejut melihat Rangga berada di sana dan dia langsung ditarik ke ruang kerja pria itu.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja? Apa kau lelah?" Tanya Rangga langsung melihat tangan Vierra.
"Aku sudah biasa melakukannya, ayo turun untuk makan malam," kata Vierra yang masih merasa canggung untuk berduaan saja dengan Rangga.
Tetapi, begitu perempuan itu hendak membuka pintu dia terkejut ketika dari belakangnya sebuah tangan melingkar di pinggangnya, lalu diikuti sebuah punggung kekar menempel ke punggungnya.
"Kenapa kau terus menghindar?" Tanya Rangga yang menyadari Vierra masih belum bisa menerimanya.
Vierra terdiam dalam pelukan erat Rangga, perempuan itu berpikir sesaat lalu menjawab, "Aku tidak menghindar, aku hanya perlu adaptasi."
"Benarkah?" Tanya Rangga menambah kekuatan pelukannya.
Dia sudah tidak bisa membebaskan Vierra, pokoknya apapun yang terjadi di akan membuat perempuan itu terus berada di sisinya!
"Ya, aku lapar, bisakah kita pergi makan sekarang?" Tanya Vierra yang memang merasa sangat lapar.
"Oh, ok," akhirnya Rangga melepaskan pelukannya pada Vierra lalu kedua orang itu turun ke meja makan.
Mereka hanya makan bertiga karena Claudia masih sibuk di kamarnya.
Sembari makan, Vierra berusaha mencegah dirinya agar tidak makan terlalu banyak sebab dia teringat akan keluhan Rangga yang mengatakan bahwa tubuhnya gemuk.
__ADS_1
Tetapi, meski dia berusaha menahan diri untuk mengurangi porsi makannya, tetapi dia terus merasa sayang kalau tidak menghabiskan makanan, jadi tanpa sadar ia terus makan dan makan.