
Rangga sudah berdiri di dalam lift dan menunggu pintu lift terbuka ketika pria itu menyipitkan matanya saat melihat Safya berlari ke arahnya lalu dengan cepat memasuki lift.
"Hah hah hah..." Satya berusaha mengatur nafasnya lalu dia melihat kakaknya, "Terima kasih sudah menungguku." Ucap Satya pada kakaknya tanpa memperdulikan ekspresi pria itu yang mengandung tatapan permusuhan.
"Berani tidak patuh pada atasan, Sepertinya kau sedang mencari kematian?!" Tanya Rangga kini tidak memperdulikan lagi adiknya, dia melihat pria itu seperti karyawan biasa hingga dia memberikan tatapan mematikannya pada pria itu.
Jelas saja Satya merasa takut melihat kakaknya, dia menelan air liurnya lalu menunduk menghindari tatapan pria itu.
"Maaf kak, tapi aku harus mencari calon istriku." Ucap Satya.
Buk!!!
Tanpa aba-aba, sebuah tinjuan mendarat di wajah Satya, lalu tubuhnya dengan cepat di jepit ke sudut lift.
Rangga mencengkram erat kerah kemeja Satya dan menatap mata pria itu, "Sialan!! Kau masih berani mengatakan bahwa istriku adalah calon istrimu?!! Belum pernah merasakan kemarahan seorang suami?!!" Bentak Rangga sembari menggertakkan giginya.
Meski Satya adalah adiknya, namun jika pria itu benar-benar berani merebut istrinya, mungkinkah dia yang adalah suami Vierra bisa tinggal diam saja melihat kelakuan adiknya?
Tidak mungkin!!!
Jika dia melakukan hal itu, maka harga dirinya sebagai seorang suami akan tercoreng!!!
__ADS_1
"Kak,, Kakak bilang pernikahan kakak hanya sebatas adat saja? Tapi Kakak harus tahu kalau kemarin seluruh keluarga sudah membicarakan bahwa aku dan Vierra akan segera menikah dalam 10 hari lagi. Jadi kakak sud--"
"Diam!! Kau orang sialan!! Kau pikir dengan menikahi Vierra hanya aku saja yang tersiksa? Vierra jauh lebih tersiksa jika dia menikah denganmu!! Pernikahan tanpa cinta, apa kau pikir Vierra akan bahagia??!" Teriak Rangga pada adiknya.
Satya tidak mau kalah, ia langsung berkata, "Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu,, aku akan memastikan itu!! Aku akan mendapatkan hati Vierra seperti yang kau lakukan--!"
"He,, diam kau!!! Bocah sepertimu mana bisa mengerti masalah seperti ini?!!" Bentak Rangga.
Ting!
Lift akhirnya berhenti, Rangga langsung melepaskan cengkramannya pada kera Satya hingga membuat pria itu jatuh tersungkur.
Rangga menatap Satya yang kini tergeletak di lantai, "Aku katakan padamu, aku dan Vierra sudah mencintai sejak kami masih sekolah, sampai saat ini kami belum berubah tentang perasaan itu, bahkan ketika aku menikah dengan Claudia.
"Sial!!" Satya menggerutu sembari berpegangan pada dinding lift memandangi punggung Rangga yang sudah menjauh darinya.
"Bagaimana bisa begini? Jadi mereka berdua sudah menyembunyikan perasaan mereka sedari bangku sekolah? Tapi,, kenapa kak Rangga masih menerima perjodohannya dengan Claudia?" Satya mengepal erat tangannya.
"Heh, apa yang sudah kulakukan? Aku yang baru mengenal Vierra selama satu bulan mana bisa membandingkan Sakit hatiku dengan kakakku yang sudah mencintai perempuan itu selama bertahun-tahun?
"Lebih lagi mereka berdua saling mencintai, sementara aku hanya seorang pria dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan dan berusaha mengikat Vierra di sisiku." Satya merasa sangat kalah pada kakaknya, pria itu kembali terduduk di lantai lift dan membiarkan lift itu kembali membawanya naik ke lantai atas.
__ADS_1
"Mengapa aku?? Mengapa begini? Ini pertama kalinya aku menyukai seseorang, tapi mengapa harus menyukai seseorang yang ternyata tak mampu kumiliki?" Satya terus duduk sembari menunduk melihat kakinya.
Beberapa kali lift berhenti di banyak lantai, tetapi orang-orang tidak berani masuk ke lift tersebut saat melihat Satya tengah berada dalam keadaan menyedihkan.
Apalagi, semua orang di perusahaan itu mengenal Satya sebagai salah satu pewaris dari grup Edward.
Setelah pintu lift tertutup, orang-orang kemudian berbisik satu sama lain.
"Apa yang terjadi dengan Tuan kedua? Ini pertama kalinya aku melihatnya begitu hancur."
"Benar, Dia adalah orang yang selalu ceria, tetapi sekarang malah terlihat menyedihkan seperti itu. Sepertinya Dia memiliki masalah yang sangat berat."
"Hm,, tapi paling tidak, jika memiliki masalah maka seharusnya tidak menggunakan lift sebagai tempat untuk menenangkan diri. Dengan begini dia mengumbar pada seluruh perusahaan bahwa dia sedang berada dalam situasi terpuruk."
"Benar sekali,, menggunakan lift seperti ini juga membuat pekerjaan kita terhambat karena kita tidak mungkin mengganggunya dengan memasuki lift yang ia tempati."
"Heh,, apa yang kau katakan? Dia adalah anak dari pemilik perusahaan ini, dia bebas menggunakan apapun di perusahaan ini tanpa harus memikirkan masalah kita para karyawan biasa."
"Oh, iya,, tapi kira-kira apa yang membuatnya jadi seperti itu?"
Seluruh orang bergosip, dengan cepat kabar mengenai Satya yang menyita lift kantor menyebar di seluruh penjuru perusahaan.
__ADS_1
Tapi tidak ada satupun orang yang mengetahui alasan pria itu bersedih. Semuanya menebak dengan sembarangan saja.