
Setelah turun ke lantai bawah, Vierra langsung berlari ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
Vierra lalu bersandar di pintu kamarnya untuk mendengarkan suara-suara dari lantai 1.
"Sial!! Kenapa dia malah duduk di depan TV?" Vierra menggertakan giginya mendengar suara TV yang dinyalakan.
Jika pria itu terus berada di depan TV maka Vierra tidak bisa keluar karena pastilah satya akan melihatnya.
Dengan begitu, Vierra menghela nafas dan membawa berkasnya kembali ke mejanya lalu melemparkan diri ke atas tempat tidur.
"Padahal aku ingin menghilangkan kesalahpahaman ku dengan Rangga, tapi jika begini,,, hah,," Vierra menghela nafas lalu memejamkan matanya.
Sesaat merasa kesal akhirnya perempuan itu membuka matanya dan memiliki sebuah ide.
Vierra kembali mengambil berkas dan ponselnya lalu perempuan itu keluar dari kamarnya.
"Kau mau kemana lagi?" Tanya Satya.
"Aku mau bertanya sesuatu pada kakakku." Ucap Vierra lalu dia segera naik ke lantai dua sembari melihat kebelakang dan Satya sama sekali tidak curiga.
Setelah tiba di depan pintu ruang kerja Rangga, dia kemudian mengetuk pintu tersebut.
Tok tok tok...
Rangga yang sudah lemas sejak mengetahui Vierra memilih pergi bersama Satya ketimbang masuk ke ruangan kerjanya, pria itu kini terkejut mendengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Masuk," ucapnya sembari menatap penasaran pada pintu yang terbuka.
Apakah yang datang adalah Vierra?
"Apakah kakak ipar sibuk?" Tanya Vierra yang muncul dari balik pintu membuat Rangga merasa lega di dalam hatinya.
"Masuklah, aku tidak sibuk." Ucap Rangga lalu Viera langsung masuk dan mendekati Rangga.
"Maaf mengganggu kakak ipar malam-malam begini, tapi aku ingin menanyakan bagian yang kemarin tidak sempat kutanyakan pada kakak ipar." Ucap Vierra sembari menyerahkan berkas di tangannya dengan sengaja ikut meletakkan ponselnya di sisi lain meja kerja Rangga.
Rangga melihat ponsel yang dibawa oleh Vierra lalu menatap Vierra, "Ponsel itu?"
Vierra langsung melihat ponselnya lalu kembali menatap Rangga, "ini ponsel yang kakak ipar berikan padaku." Jawabnya.
"Bukankah tadi di meja makan Satya mengatakan kalau--"
Mendengar penjelasan Vierra, Rangga merasa lebih baik lalu pria itu melihat pada berkas di tangannya.
"Bagian mana yang masih tidak kau mengerti?" Tanyanya.
Vierra langsung mengulurkan tangannya lalu membukakan berkas untuk Rangga.
"Yang ini," katanya.
Setelah melihat bagian yang tidak dimengerti oleh Vierra, Rangga kemudian menjelaskan panjang lebar bahkan bagian yang kemarin sudah dijelaskan pria itu kembali dijelaskan lagi.
__ADS_1
Entah bagaimana, tetapi dia merasa sangat senang bisa berlama-lama dengan Vierra, Jadi dia benar-benar tidak keberatan untuk mengulang lagi semua bagian yang sudah ia jelaskan pada Vierra.
Sesekali sembari menjelaskan, Rangga menatap kearah Vierra dan beberapa kali tatapan Rangga menyadari bahwa perempuan itu tidak melihat kearah berkasnya dan lebih fokus menatap wajahnya.
"Tunggu!!" Tiba-tiba kata Rangga mengejutkan Vierra karena pria itu tiba-tiba berhenti menjelaskan.
'Aataga, Apakah aku sudah ketahuan kalau aku berpura-pura?' Vierra tertegun di tempatnya, ia begitu gugup.
"Katakan alasan sebenarnya kau datang kemari." Ucap Rangga mengejutkan Vierra.
Alasan? Alasan apa??
"Eh,, tentu saja karena ingin menanyakan masalah-"
"Aku rasa kau tidak berniat seperti itu, Apakah kau kemari karena ingin menemuiku saja?" Tanya Rangga.
"Eh?" Vierra terkejut, Bagaimana bisa pria itu menebaknya dengan sangat baik?
Tapi dia tidak boleh mengaku, "Mana ada,, itu sangat konyol, aku datang kemari benar-benar ingin menanyakan hal yang tidak aku ketahui tentang berkas itu." Ucap Vierra.
"Begitu ya,," jawab Rangga dengan suara kecewa sembari menatap ulang berkas di tangannya.
"Kenapa?" Jantung Viera berdegup kencang, dia jelas melihat raut kecewa di wajah pria itu.
Jadi dia berharap bahwa Rangga berharap dia datang karena ingin berduaan dengan pria itu.
__ADS_1
"Tidak masalah," jawab Rangga lalu dia kembali melanjutkan penjelasannya pada berkas di tangannya.