
Vierra melihat punggung Satya yang pergi dengan marah lalu perempuan itu menatap Rangga.
"Biar ku obati lukamu," ucap Vierra menarik serangga ke kamarnya lalu membiarkan pria itu duduk di tepi ranjang sementara dia mencari kotak P3K di lemari.
Setelah menemukannya, Vierra menghampiri Rangga selalu mengobati luka di sudut bibir Rangga.
Setelah mengobati luka Rangga, Vierra dengan cemas melihat Rangga, "Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Tanyanya.
Rangga menghela nafas lalu menarik Vierra ke pangkuannya, "Jangan khawatir, meskipun hubungan kita terbongkar ke publik aku akan tetap memilihmu." Ucap Rangga.
Viera menatap Rangga dengan cemas, "Bagaimana bisa begitu? Itu akan mempermalukan keluarga Faraday dan juga keluargamu, lalu aku,, apa yang bisa kulakukan?" Vierra merasa sangat cemas tidak mungkin dia melukai hati ibu angkatnya.
"Jangan khawatir, aku akan memikirkan masalah ini, sekarang kita harus keluar dari kamar atau kakakmu akan segera bangun." Ucap Rangga mencium pipi Vierra.
Meski masih merasa cemas, Vierra mengangguk lalu membiarkan Rangga keluar dari kamarnya, sementara dia langsung berlari ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Setelah mandi, Vierra pergi ke dapur untuk memasak. Tak seperti biasanya, ketika dia memasak di temani oleh Satya maka saat ini dia hanya sendirian.
__ADS_1
Bahkan ketika sarapan pun, Satya tidak ada, sepertinya pria itu berangkat lebih awal ke kantor karena menghindari mereka.
"Hari ini Aku berangkat ke kantor bersama Vierra." Ucap Claudia yang sedari tadi makan dengan tenang tanpa mempertanyakan keberadaan Satya.
"Baik Kak," jawab Vierra yang saat ini merasa sangat takut dan tertekan.
'Bagaimana kalau Satya kembali ke kediaman Edward lalu menceritakan seluruh kejadian yang ia lihat?' Vierra merasa sangat cemas, ia mengangkat wajahnya menatap Rangga tetapi pria itu malam melemparkan senyum ke arahnya.
'Kenapa dia tersenyum? Tidakkah dia khawatir?' Vierra menghela nafas lalu kembali tertunduk memainkan makanan yang ada di piringnya, sebab dia benar-benar tidak bernafsu untuk makan.
Di tengah perjalanan, Claudia tiba-tiba menyuruh Vierra untuk singgah ke apotek.
Begitu mobil Vierra terparkir di halaman apotek, Claudia langsung memberikan beberapa lembar uang pada Vierra lalu berkata, "Belikan aku obat penunda kehamilan."
Tangan Vierra yang baru saja mengambil uang dari tangan Claudia kini tertahan di udara dengan tatapan perempuan itu memandang heran pada Claudia.
Kenapa Claudia membeli obat penunda kehamilan sementara dia dan Rangga tidak pernah melakukan hubungan suami istri.
__ADS_1
Claudia menyadari keheranan Vierra jadi dia menatap perempuan itu, "Ada apa?" Tanyanya.
Segera, Vierra menggelengkan kepalanya lalu dengan linglung membuka pintu mobil dan berjalan ke apotek.
'Untuk apa obat penunda kehamilan?' Vierra terus bertanya-tanya dalam hati sembari mengantri untuk mengambil obat di apotek itu.
Setelah beberapa menit, giliran Vierra tiba, dia memesan obat yang diinginkan Claudia lalu perempuan itu teringat akan dirinya yang sudah terlambat datang bulan.
"Saya juga memesan satu alat pendeteksi kehamilan." Ucap Vierra.
Setelah mendapatkan semua pesanannya, Vierra memisahkan alat pendeteksi kehamilan lalu memasukkannya ke dalam sakunya dan kembali menghampiri Claudia di mobil.
"Kenapa lama sekali?!" Kesal Claudia mengambil pesanannya dari Vierra.
Sembari menyalakan mesin kendaraannya Vierra berkata, "Maaf Kak, tadi banyak orang yang mengantri."
"Maaf-maaf, aku sudah bosan mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu!" Ucap Claudia sembari menyimpan obat yang diberikan oleh Vierra.
__ADS_1