
Setelah meninggalkan kamar Vierra, Rangga kembali ke kamarnya dan melihat Claudia masih tertidur dengan nyenyak. .
Pria itu lalu berjalan ke sofa dan melanjutkan tidurnya di sofa dengan wajah tersenyum.
Entah sampai jam berapa dia tertidur, dia terkejut ketika tirai kamar tiba-tiba dibuka oleh seseorang sehingga cahaya matahari membuatnya merasa sangat silau.
Pria itu mengerjapkan matanya dan melihat perempuan yang menarik tirai ternyata adalah Vierra.
Sesaat tatapan mereka bertemu, keduanya terdiam sampai sebuah suara terdengar.
"Vierra kemari!!" Suara Claudia dari kamar mandi membuat Vierra langsung berlari kearah kamar mandi tanpa memperhatikan Rangga yang tidur di sofa.
"Iya Kak!" Jawab Vierra memasuki kamar mandi dan melihat Claudia sedang duduk di pinggir bath up.
"Cukur bulu kakiku," ucap Claudia.
"Oh, ok," jawab Vierra mengambil alat cukur lalu membantu perempuan itu mencukur bulu kakinya.
Sembari menunggu Vierra selesai melakukan tugasnya, Claudia memeriksa beberapa email pada i-pad miliknya.
"Proyek yang kuberikan padamu, Apakah kau sudah mulai membereskannya?" Tanya Claudia.
__ADS_1
Vierra mengangguk, "Ya, Hari ini aku berencana untuk menghubungi perusahaan Kak Rangga." Jawab Vierra.
"Bagus, kau harus mengerjakan itu dengan baik karena itu merupakan salah satu proyek penting kita." Kata Claudia.
"Baik Kak," jawab Vierra terus melanjutkan pekerjaannya mencukur bulu kaki Claudia.
Setelah selesai, Vierra membersihkan tangannya lalu perempuan itu keluar dari kamar mandi.
Vierra melihat seluruh kamar Claudia dan tidak menemukan Rangga di mana pun, jadi perempuan itu segera turun ke lantai bawah menuju dapur.
"Selamat pagi!!" Seru Satya yang baru saja keluar dari kamar.
"Selamat pagi,, Kenapa rambutmu seperti itu?" Tanya Vierra memperhatikan rambut Satya yang sangat berantakan.
"Kau tidak minum kopi dulu?" Tanya Vierra menyusul Satya ke ruang makan dan terkejut melihat Rangga duduk di meja makan sembari membaca majalah bisnis.
"Hei,, selamat pagi Kakak!! Oya,, kemarin malam kakak langsung keluar dari kamar Vierra setelah mengantarnya ke dalam kamar bukan?!!" Tanya Satya langsung duduk di samping Rangga.
Vierra yang mendengar pertanyaan itu langsung membuang wajahnya dan berpura-pura berjalan ke arah meja untuk membuat kopi bagi kedua pria itu.
Sementara Rangga, pria itu mengangkat wajahnya melihat Satya, "Menurutmu?" Tanyanya.
__ADS_1
"Eh? Ha ha ha..... Menurutku ya,, tentu saja kakak langsung keluar dari sana. Kalau kakak tidak keluar dari kamar Vierra dan malah tinggal di sana, Kak Claudia pasti akan kesepian tidur sendirian di kamar. Kalian kan pengantin baru, pastilah masih hangat-hangatnya ber-hmmm..." Satya tersenyum penuh arti pada Rangga.
"Jaga ucapanmu," ucap Rangga memperingatkan adiknya.
"Baik!" Jawab Satya sembari cengingiran lalu pria itu melihat pada Vierra.
"Vierra, Kenapa kau diam saja? Apakah kemarin malam kau merasa tidak nyaman?" Tanya Satya memandang seksama pada perempuan yang membelakangi mereka.
"Ehmm!! Ya," jawab Vierra.
"Tentu saja dia merasa sangat nyaman, punggungku hampir patah menggendong tubuhnya yang begitu berat!! Lain kali kalian berdua tidak diizinkan lagi minum alkohol!!" Ucap Rangga dengan tatapan masih tertuju pada majalah nya.
Mendengar ucapan kakaknya, Satya mendekatkan diri pada Vierra, "Uh!! Kakak!! Terlalu keterlaluan mengatakan Vierra berat! Itu sebuah penghinaan untuk perempuan!" Katanya setengah berbisik.
Tapi, meski pria itu setengah berbisik namun ruangan itu sangat hening jadi Vierra bisa mendengarnya.
'Apa?!! Aku begitu gemuk?!!'
***(Kamus perempuan: Berat \= Gemuk)
Wajah Vierra tampak tidak baik, tetapi dia berusaha menenangkan diri sebelum berbalik memberikan dua gelas kopi pada pria yang duduk di meja makan.
__ADS_1
"Minumlah, aku ke kamar dulu," kata Vierra lalu perempuan itu terburu-buru meninggalkan ruang makan mencari timbangan di gudang.
"Astaga,, di mana aku meletakkan benda itu?" Gerutu Vierra mencari timbangan di sudut-sudut gudang.