
[Saat sinar mentari masuk lewat celah gorden. Aku terlonjak. Dan merasa bahagia, akhirnya aku terbebas dari kelamnya malam. Sebab semalam aku tersesat, tak menemukan tanda dan kode. Di belahan mimpi sebelah mana, ku bisa ketemu tante Imut yang cantik. Selamat pagiii.]
Ini chat nyasar atau narasi gombal yang sedang di tujukan untuk siapa?
Pagi Mutia itu rutin ya. Bangun sebelum ayam berkokok. Untuk memastikan ART sudah merebus air dan menyiapkan bahan untuk ia membuat sarapan. Mutia suka dan enak memasak. Suami dan anak-anaknya sudah sangat terbiasa dengan masakan olahannya. Tak perduli kini suami memiliki jabatan secagai CEO, bagi Mutia di dapur adalah tempat menyenangkan, setelah kamar tidur.
Saat Pras sudah berangkat ke kantor dan dua anaknya sudah ia antar kesekolah. Juga setelah dirinya sudah bercengkrama dengan para pedagang di pasar tradisional. Hampir pukul 10 pagi, Mutia memiliki waktu memegang ponselnya. Untuk sekedar melihat jam atau membaca beberapa celotehan di grup rempongnya seperti biasa.
Tapi berbeda dengan pagi ini. Isi chat tadi terasa aneh untu di baca. Dirga. Chat itu dari Dirga, yang sekedar mengucap selamat pagi tetapi di sertai dengan narasi menggelikan. Dan Mutia tak sanggup untuk membalasnya. Baginya itu ga penting.
[Maaf, lupa kalo ibu rumah tangga emang lebih sibuk dari wanita karier. Sampe balas sapaan selamat pagi saja, tante ga ada waktu.] Chat itu terkirim tepat setelah anak-anak Mutia telah tiba di rumah, setelah di jemput supir. Tugas Mutia selanjutnya ialah memastikan anak-anaknya mengganti pakaian dan akan bersiap menyantap makan siang. Sembari menunggu Pras pulang agar mereka bisa makan siang bersama di rumah. Tetapi kali ini, Pras sudah ijin jika akan makan di luar bersama klien. Bukan ijin sih, tapi ada chat dari Indah, sekretarisnya. Semacam laporan rutin saja untuk Mutia.
Mutiara IRT tulen, yang aktivitas sehari-harinya memang dapur, sumur dan kasur. Pras tidak pernah membebaninya dengan riwehnya mencari uang. Walau ia seorang sarjana, yang mestinya memiliki peluang untuk ikut membanting tulang mencukupi keuangan dan meningkatkan perekonmian keluarga. Tapi, sejauh ini Pras masih konsisten dengan lamarannya 17 tahun yang lalu. Untuk menjadikan Mutiara sebagai tulang rusuknya, bukan tulang punggung.
Berleha-leha di rumah itu adalah bonus yang bisa Mutia lakukan. Saat semua pekerjaan rutinnya selesai. Tidak seribet dulu, saat keungan mereka belum mapan, anak masih balita tak punya ART pulak. Jangan tanya kenapa Mutia ga sempat sisiran. Semua mamah muda juga pernah mengalami hal serupa.
__ADS_1
Hal ini jauh berbeda dengan sekarang, seiring waktu. Jabatan suami sudah pada puncaknya. Anak-anak pun sudah mulai tak butuh bimbingannya. Semua tercukupi di sekolah juga guru les untu sal pelajaran. Alhasil Mutia hanya kebagian waktu weekend bisa banyak waktu bercengkrama dengan mereka. Sepi melanda seorang Mutia. Beruntung baginya memiliki gang with tante hebring itu. Yang membuatnya kadang lupa waktu jika sedang hang out.
Mutia menarik nafasnya dalam, saat membaca lagi isi chat kedua. Yang datang di siang hari, dan pada pukul 4 sore baru ia buka, setelah bangun tidur.
“Ini anak maunya apa sih …?” Gumam Mutia sendiri. Sambil mengusap ponselnya dan akan mengetik pada papan ketik gawainya.
“Gimana Ga …?” Mutia tidak tau harus balas apa. Dari sapaan selamat pagi hingga ungkapan sejenis prtes karena hingga siang, chatnya di acuhkan oleh ibu beranak dua itu.
Tidak ada balasan. Dan kemudian Mutia tenggelam.
Tenggelam dalam serunya kebersamaannya bersama teman-teman rempongnya.
[Lain kali, kalo nge-Gym. Bareng donk tan. Biar lebih seru.] Mutiara celingukan. Mencari sosok orang yang baru saja mengirim chat untuknya. Lagi lagi itu adalah Dirga. Tapi, sampai lehernya memanjang bagai jerapah pun. Mutiara tidak melihat bayangannya sekalipun. Mutia di buat penasaran olehnya.
Setan mana yang merasuki otak Mutia, ia segera menekan tanda gagang telepn pada gawainya. Tak sabar ingin meminta konfirmasi si ketceh Dirga.
__ADS_1
Bukan berdering, tetapi tulisan memanggil tertera pada ponsel Mutiara. Dan anehnya dia kesal.
Memasukkan kembali benda pipih itu pada tasnya. Kemudian memilih fokus dan mulai membentuk ototnya, bagi Mutia cukuplah untuk segera lupa jika ia baru saja di kacangin si brondong yang kadang datang, kadang ngilang itu. Skip.
Baru lima belas menit Mutia memulai aktivitasnya, yang artinya baru akan mulai masuk pada gerakan inti yang lebih berat. Sebab sepuluh menit sebelumnya ia habis kan untuk pemanansan. Agar ototnya tidak kaget. Tapi, matanya sudah hampir copot. Mau keluar dari tempatnya. Saat bola mata itu menangkap sosok yang baru saja ia telpon tetapi tidak aktif itu, sudah duduk bersenda gurau dengan temannya.
Dirga dan Nunuk tampak sedang asyik berbincang, di kantin yang hanya terpisah ram baja yang di pasang jarang-jarang. Sehingga baik yang sedang berolah raga atau hanya sekedar menikmati rasa makanan di kantin itu, bisa saling melihat satu sama lain. Kenapa juga mata Mutia tadi keliaran, sampai tak sengaja melihat Dirga yang begitu cute, tersenyum pada Nunuk, si buaya betina.
Parahnya, hati Mutia sedikit berkedut. Semacam tak rela, pemuda tanggung itu kini sedang bersama temannya itu. Tapi, bukannya semalam Mutia yang bilang ke Dirga. Jika Nunuk siap menjadi donatur, untuk mendukung biaya perkuliahannya. Lalu kenapa sekarang ia seolah tak rela, mereka dekat.
Beban yang di berikan sang tutor terasa semakin berat untuk di jalani oleh Mutia. Bukan karena ototnya tak mampu mengangkat beban itu. Tetapi pikirannya yang tak bisa di ajak kompromi. Terlalu kepo ingin segera tau apa saja yang Dirga dan Nunuk ceritakan, hingga tak sekali si ketceh itu terbahak. Dan ga sopannya. Saat Mutia melakukan gerakan pendinginan, Dirga tampak sudah berpamitan pada Nunuk dan Vinsha. Fix, Mutia hanya kebagian melihat Dirga dari kejauhan. Ingin menghentikan latihannya. Terlalu mencolok rasanya, ia ingin ikut bercengkrama dengan buaya betina dan atek-anteknya. Meneruskan latihannya, tapi sumpah. Pikirannya tidak pada beban dan alat Gym di depannya. Ada apa dengan hati Mutia.
[Latihanya serius sekali sih, sampe ga liat aku di kantin] Mutia membaca chat itu dengan sinis. Saat baru saja mendudukan pant4tnya di kursi masih satu meja dengan Nunuk dan yang lainnya.
[Tante Imut, maaf ya. Dirga pulang duluan. Ada tugas yang harus kelar malam ini.] Itu chat lanjutan setelah yang tadi.
__ADS_1
[Nanti malam Dirga VC ya … see U] Fix. Ini meresahkan.
Bersambung …