PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 68 : MUNAFIK


__ADS_3

Tentu Dirga bukan bocah, ia hanya segelintir manusia yang sudah cukup umur hanya sedkit ranum. Jika di ukur dari usia yang sudah pada angka dua puluh dua. Tentu saja ia sudah dapat menimbang mana hal baik dan tidak untuknya. Termasuk untuk memilih Mutia menjadi tempatnya bersandar. Walaupun wanita empat puluh tahun itu ia tau sudah bersuami dan memiliki anak yang tentu sangat amat, masih butuh oerhatiannya. Tapi Dirga nekat saja, maksa untuk nyempil di bagian kecil hati Mutia.


Dan itu bukan tanpa alasan. Sebab baginya, Mutia masih paling bersih dibandingkan beberapa temannya, Nunuk, Shane dan Vinsha. Dirga sudah mencium gelagat mereka bahkan sudah sangat sering melihat secara langsung kelakuan para tante girang itu.


Dalam Mutia, Dirga menemukan kesehajaan, kesetiaan, dan kenyamanan. Br3ngseknya Dirga ingin juga merasakan kasih sayang dari wanita yang bukan janda itu. Awalnya Dirga memang iseng, sebab ia memang sudah punya kekasih. Aline adalah kekasih Dirga yang overthinking padanya. Dan bodohnya, Dirga justru risih dengan perhatian Aline yang menurutnya berlebihan. Gak ada tantangannya. Maka, sejak ia bertemu dengan Mutia di sebuah balkon hotel itu, pikirannya terbuka untuk menjalani sesuatu yang baru dan lebih menantang baginya.


Hingga semua yang awalnya hanya rayuan gombal pada Mutia, kini sungguh menjadi nyata ia rasakan. Sekarang, Mutia sudah sangat jelas memutuskan untuk tidak lagi mau menjalin hubungan terlarang mereka. Dirga patah hati. Bisa saja, terselip dendam dalam hatinya, saat Mutia menolaknya. Ada Nunuk yang sangat jelas ingin memanjakannya bahkan lebih segalanya dari Mutia.


“Oh … kamu takut tante jadikan mangsa, kaya dua lelaki di hadapan Shane dan Vinsha itu?” Nunuk menunjuk dengan mulut yang di monyong-monyongkan ke arah Vinsha dan Shane yang sudah seperti tidak berada di dunia yang sama dengan mereka.


“Mangsa … memangnya tante sebangsa predator?” kekeh Dirga berusaha terlihat tenang, untuk memberi ruang otaknya berpikir untuk mencari alasan menolak Nunuk.


“Ya …, bisa sajakan kamu mikirnya. Kalo nanti tinggal di apartemen tante. Jadi kamu akan terikat dan merasa hutang budi sama tante. Lalu bucin deh sama tante.” Pancing si perayu ulung profesional tersebut.


“Haha … ha. Klasik tante.” Jawab Dirga tanpa ragu. Malas baginya untuk menghindari apa yang ada di kepalanya.


“Tante ini tipe wanita pembosan. Jadi… bukan hal yang aneh jika brondongannya tante itu mirip kayak koleksi tas n barang branded. Tapi …gak semua brondong itu tante ganggu. Dalam artian … tante ‘makan’, seperti yang kamu kira atau kamu tuduhkan, heeem … mungkin kamu takutkan.” Nunuk tertawa sambil menatap tajam ke arah Dirga yang terlihat tenang.


“Huum … Dirga percaya. Tante Nunuk orang baik.” Puji Dirga seolah sungguh percaya jika wanita di depannya adalah malaikat.


“Jangan nyindir. Hanya karena kamu tau status kami sudah menikah. Lalu kamu kira kami tabu untuk bergaul dengan makhluk berbeda jenis.”


“Tidak tante. Bergaul itu bebas kok. Gak harus dengan cewek aja, kalo sudah menikah.” Dirga seolah di pihak para wanita jablay tersebut.


“Tante ga liat ketulusan di wajah kamu, bilang tante baik. Kamu hanya sedang berencana menolak tawaran apartemen dari tante. Ya kan.” Bukan Nunuk namamya kalo tidak cerdas membuat lawan icaranya tak berkutik. Hanya Dirga ternyata sudah sangat terniat untuk tidak goyah. Dirga sepertinya malas untuk berurusan panjang dengan wanita-wanita ini.

__ADS_1


Sekarang Dirga hanya sedang terperangkap, akibat rasa penasarannya tentang Mutia. Hanya oleh demi ingin tau kabar Mutia, Dirga rela dekat bahkan sudah berada di ujung jurang kejam perjinahan, mungkin.


“Ya maaf … jika Dirga tidak pandai bersandiwara. Tapi, Dirga terima kasih banget untuk tawarannya. Hanya, Dirga gak bisa menerima apapun dari tante. Kecuali JOB lewat tempat kerja Dirga.” Tegas dan lugas. Kalimat itu mampu membuat jantung Nunuk berdesir. Walau terdengar sopan, tapi bagi Nunuk ini adalah penghinaan. Masa, dia di tolak brondong. Sok suci … atau memang Dirga anak Soleh? Nunuk merasa geram.


Dirga sudah kembali ke penginapan dengan di antar oleh salah satu pria hidung belang yang tadi tangannya sudah lama di atas paha Vinsha. Dengan wajah tak suka, ia terpaksa menjalankan perintah Nunuk untuk mengantar Dirga. Jika Dirga membawa mobil ke penginapan. Artinya, perjumpaan mereka berlanjut di desa itu. Tetapi, saat perintah Nunuk turun. Untuk mengantar Dirga ke penginapannya bersama teman KKNnya. Berarti, Nunuk memang zonk. Tak mendapat celah untuk melakukan pendekatan lebih dengan Dirga.


“Rugi lhoo … kita sampe mau-maunya ke desa ini ngejar brondong sok suci itu. Gemesh aku.” Geram Nunuk saat mereka bertiga dalam kamar penginapan yang tidak sesuai spek idaman Nunuk itu.


"Sok suci gimana?" tanya Shane meminta penjelasan.


"Kalian kan tau gimana caraku memikat para lelaki. Udah pro. Masa si Dirga ini nolak aku. Dia nolak lhoo... Ku kasih appartemen. Koyo banget." Ungkapnya kesal.


"Masa ...? Sekaya apa seeh tuh brondong. Sampe nolak satu unit Appartemen." Vinsha menyeletuk.


"Iya juga siih ... " Shane tampak berpikir dan mengutak-atik ponselnya.


"Eh ... Gimana kalo kerjasama ku dengan EO mereka itu ku batalin aja. Biar tau rasa dianya." Rupanya Nunuk sedang berpikir keras ingin membuat Dirga sakit. Biar ikut merasakan sakit hati, akibat penolakan Dirga yang sangat jelas tadi.


"Buseeet ... Patah hati banget si ibuk." Vinsha berusaha meledek Nunuk yang terlihat kesal.


"Miskin aja sombong, itu lhoo." Pungkas Nunuk lagi.


"Haha ... Ha ha... Segitunya." Kilah Vinsha lagi.


"Ya baru dia kali yang susah di dapetin. Apa emang gak doyan cewek kali yak?" tanya Nunuk.

__ADS_1


Sumpah ... Mereka ini masuk golongan gak tau diri beeut. Lupa jika yang nikah bulan depan itu adalah anaknya. Hallo... OTW nenek-nenek kali. Serasa masih gadis apa, yaa?


"Tuh otaj Dirga memang harus di gurah kali. Bukannya yang lain, pada ngejar mbak Nunuk ya?" Vinsha masih sibuk ikut berpikir.


"Nah, makanya itu. Ini pake satu unit apartemen gak mau. Maunya apa coba?" suara Nunuk masih terdengar jengkel dengan Dirga.


"Sabar ... Jangan dulu di jauhin. Kurang lama aja kali pendekatannya." Shane ikut lagi nimbrung.


"Ya kalo dia gak bisa terima fasilitas dari aku. Setidaknya dia juga harus nyesel, kehilangan pekerjaan. Adilkan?" Nunuk melanjutkan emosi yang terlanjur keluar sejak tadi.


Vinsha dan Shane saling berpandangan. Mereka tau, tipe Nunuk yang memang tidak pernah mau kalah


"Eh ini ... rekaman apa?" tiba-tiba Shane bicara setelah selang beberapa menit, suasana kamar mereka senyap.


"Apaan?" Vinsha kembali bertanya pada Shane.


Kemudian Shane menekan peninggi volume suara pada ponselnya. Jarinya gabut sejak senyap menyerang tadi. Sehingga iseng membuka aplikasi apa saja pada ponselnya. Ponsel Shane yang ia setting untuk selalu dapat merekam panggilan suara. Sebab, kadang baginya sangat membantu saat ia rindu pada pria-pria cadangannya. Dan kini, ketiga wanita itu tengah dengan seksama mendengar semua percakapan antara Dirga dan Mutia.


"Hah ...?"


"Jadi selama ini Mutia dan Dirga itu ...?"


"Dasar Munafik...!!!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2