PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 29 : PUBER KEDUA


__ADS_3

Midlife crisis yang lebih di kenal dengan sebutan puber kedua, kerap di alamai wanita dalam usia kisaran30-40 tahun, bisa juga lebih dari angka itu. Yang pasti kisaran itulah. Hal ini memangt tidak mutlak terjadi pada setiap orang. Hanya terjadi bagi mereka yang tidak mendapatkan kebahagiaan yang haqiqi dari pasangan masing-masing. Pada usia ini terjadi penurunan kebahagiaan dan kepuasan hidup. Perasaan tidak puas dan bosan dengan hubungan karier, juga pasangan hidup. Pada fae ini akan terjadi perubahan suasaba hati, termasuk mudah marah dan sedih secara mendadak, bahkan tanpa sebab yang jelas dan penting.


Tidak semua orang mengalaminya, tergantung dari pribadi seseorang dalam hal mengelola hati dan dirinya. Dan Mutia sedang berada dalam fase ini. Celakanya, pada masa ini, ia justru di pertemukan dengan Dirga. Brondong trendy yang memiliki sejuta aksi, seolah begitu menginginkannya. Perhatian, perlakuan bahkan posesifnya pada tante Mutia. Membuat logika Mutia berhasil meyakinkan hatinya sendiri, merasa jika Dirga sungguh menginginkan dan mencintainya.


Ketidakpuasan Mutia akan minimnya perhatian Pras, tersalurkan pada Dirga. Mutia itu haus pujian, sanjungan juga kata-kata manis yang mampu membuat suasana hatinya bahagia. Dan yang Dirga buat padanya menghasilkan enzim endorfin tersendiri. Dirga mampu memeberikan energi positif dalam diri Mutia, yang menghasilkan rasa bahagia.


Dan segala rasa ‘ingin’nya Mutia pada Dirga. Dapat pula ia salurkan pada Pras, pasangan halalnya. Akhir-akhir ini Mutia kerap lebih agresif pada suaminya. Meminta lebih dahulu, bahkan memimpin permainan. Mutia mememjamkan mata setiap berada di atas tubuh Pras, demi mencari bayangan Dirga seolah sedang di taklukannya. Mutia itu salah. Tapi baginya itu mampu membuat hatinya senang. Sehingga sedikit demi sedikit pikirannya sudah terbagi antara Pras dan Dirga.


“Mama Ra-Ra. Nanti malam kita ada undangan ke acara Hasan. Bisa luangkan waktu? Supaya kita bisa hadir.” Se-bangun tidur Pras mengajak Mutia bicara, ia tau istrinya masih sangat terlihat lelah. Setelah pencapaiannnya semalam, sebagai penunggang kuda yang cukup lama di atasnya. Membuat Pras bahagia, mendapat layanan luar biasa dari sang istri. Mana Pras tau jika semua gerakan dan gelora yang menyerangnya semalam, adalah bagian dari pelampiasan Mutia yang sudah mengganti Pras dengan Dirga dalam benaknya.


“Huum … di mana?” tanya Mutia dengan mata yang masih ingin terpejam lebih lama.


“Nanti Indah yang kirim undangannya.” Apa susahnya sih, Pras langsung bilang lokasinya dan konsep acaranya. Tapi … jika Pras bilang Hasan. Mutia harus sudah paham. Hasan itu bagian dari teman-temannya dahulu. Sama seperti Berto. Mereka adalah orang-orang yang pernah muncul di masa pertemuan pertamanya denganPras. Dan Mutia tau ini pasti ajang reuni kecil-kecilan mereka yang masih sangat getol merawat kebersamaan pertemanan mereka.


“Aku pake baju apa Mas …?” tanya Mutia memancing, berharap sang suami bisa memberikan masukan, saran juga pendapat agak banyak. Agar ia punya acuan dalam hal berpenampilan.


“Mama Ra-ra pakai baju apa saja bagus kok. Sekarang perut mu juga agak kempes dan sedikit rata ya.” Waiiit. Itu tadi kalimat apa? Pujiankah? Kenapa terdengar kaku sekali.


“Aku kurusan ya, Mas?” Mutia terduduk ingin mendengar ucapan selanjutnya, agar lebih jelas di dengar.


“Sering nimbang ga sih, kalo pas ngeGyim …?” eh dia nanyae … hanya bertanyae-tanyae. Bilang cantik dan kamu lebih kurusan kek gitu. Huh. Batu.

__ADS_1


Mutia sekarang tidak hanya lebih ringan berat badannya. Tapi penampilannya jauh lebih kecil, segar juga cantik. Alasannya karena dia adalah owner sebuah salon kecantikan. Maka ia merasa perlu melakukan perawatan teratur, selain tidak membuang banyak biaya. Ia juga harus menjadi pemakai segala item perawatan yang Salonnya tawarkan pada pelanggan. Mana orang percaya ia pemilik sebuah salon kecantikan, kalau dia buluk.


Juga sekarang ada Dirga yang kadang bisa komen dengan prontal soal penampilannya. Walaupun brondong itu tidak pernah menuntut agar Mutia harus kurus. Tapi, dengan sendirinya, Mutia merasa perlu berjuang lebih keras untuk menghempas lemak yang tumbuh di tempat yang tidak tepat.


“Ga …” Mutia pagi itu tidak mengantar Radit juga Raisa. Pras sendiri yang memutuskan ingin mengantar dua anak mereka bahkan tanpa supir. Entah kenapa Pras terlihat longgar dengan aktivitas kantornya. Atau karena servisan luar biasa semalam dari sang istri, sehingga terlihat bersemangat memulai hari juga lebih perhatian pada anak mereka. Dan kekosongan waktu itu Mutia gunakan untuk menghubungi brondongnnya.


“Pagi tante imut kesayannganku. Cantik banget siih pagi ini.” Iya mereka melakukan panggilan Video Call. Mutia berada di dalam kamarnya, setelah mandi dan sedikit menyapukan bedak dan lipstick tipis di bibir yang sudah di cicipi si ketceh itu.


“Tante dapat ajakan ke undangan teman Mas Pras.” Ujarnya langsung. Tanpa merespon pujian dari Dirga yang sebenarnya sempat membuatnya berbunga-bunga.


“Dimana …?” tanya Dirga kepo.


“Wow … horang kaya tuh.” Jawab Dirga merespon.


“Lumayan sukses sih, Bang Hasan. Memang masih keturunan sultan, udah dari orok dia kaya. Dan itu sahabat Mas Pras.” Jelas Mutia.


“Oh.” Jawab Dirga tak tau harus komen apa.


“Tante pake baju apa yak? Kalo reuni biasa aja sih, tante ga serepot ini mikirnya. Hanya ini pasti ada hubungannya dengan urusan bisnis.” Curhat Mutia.


“Ya iya donk sayang. Tante kan istri CEO. Penampilan menentukan masa depan bisnis suami, dari pakaian sampai perhiasan tamu. Akan jadi perhatian tamu lainnya.” Rinci Dirga dengan cermat.

__ADS_1


“Tante pake baju yang mana?” Mutia terdengar bingung.


“Sayang … ngapain bingung. Bentuk tubuh kesayangku sekarang udah OTW Goal. Mau pake apa aja pasti terlihat cantik, iih … makin buat ku klepel-klepek deh sama tante.” Rayu Dirga. Begitu … Mutia maunya Pras begitu. Ia lupa jika itu Pras, bukan Dirga. Kenapa menuntut suami menjadi orang lain.


“Acaranya jam berpa?” tanya Dirga ingintau lebih banyak.


“Biasa … pukul 7 malam.” Jawab Mutia cepat.


“Dirga punya waktu 3 jam di dari pukul 11 sampai siang ini. Mau ku temani cariin baju yang cocok buat tante?” tawar Dirga tanpa di minta.


Huh … emamg sesuatu yang lebih baru selalu lebih keren dari yang telah usang. Tapi bukan berarti kita membuang yang lama demi sesuatu yang baru itu. Yang masih belum jelas akan kepastian dan ketulusannya bukan.


“Dirga jemput di rumah atau salon nih?” Waduuuh si brondong seberani itu.


Berani jemput di rumah?


Mutia yang tidak berani. Cari mati?


Itu mata penjaga gerbang depan mau di colok dulu biar buta? Trus mulut mereka harus di sumpel pake apa, biar ga kasih laporan untuk tuannya. Walau Dirga memang pernah sekali mengantarnya pulang sampe di depan rumah. Tetapi, Mutia bisa beralasan jika Dirga tak lebih dari seorang pengemudi gojek.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2