
Mutia mengakui jika sedang berduaan Pras lumayan cepat dalam urusan mewmeluk atau menciumnya. Semacam itulah usaha terakhirnya untuk membuat hati istrinya lebih tenang, saat Mutia merasa resah dan tidak aman. Tetapi tidak dengan kali ini. Dalam pelukan Pras, Mutia justru semakin sesungukkan. Airmata yang keluar itu cukup mewakili varian rasa yang berseliweran dalam hati Mutia.
Empat hari tanpa mengaktifkan ponsel, demi usaha untuk menciptakan jarak dengan brondong trendy. Beruntung Mutia memutuskan hubungan saar Dirga tidak berada di kota yang sama dengannya. Jika tidak, tentu dapat di pastikan. Tuh Tengil, pasti sudah nekat meminta konfirmasi atas keputusan Mutia.
"Maaf ya mama Ra-ra." Sekali lagi Pras mengulang permintaan maafnya.
"Mas ... " Mutia bersuara dengan agak gemetar.
"Iya."
"Bisa gak ... Kalo ada kabar apa-apa. Mas saja yang chat atau call. Bukan Indah." Sepertinya Mutia mulai akan jujur dan terus terang tanpa berteka-teki ria pada suaminya.
"Oh ... Iya. Lagi pula cukup merepotkan juga, karena dia sudah tidak di ruanganku." Jawab Pras agak panjang.
"Kenapa?"
"Sudah lama Indah sudah tidak jadi sekretarisku." Pras kali ini memang terlihat sedang berupaya menciptakan komunikasi yang baik dengan Mutia.
"Oh ... Kenapa?"
"Suaminya cukup terganggu dengan jadwal lembur kami yang tak terduga." jawabnya menjelaskan.
"Huuum." Mutia hanya berdehem. Makin malu rasanya. Saat pasangan muda itu merasa jadwal kerja sang istri mulai menyita waktu bersama, maka pindah bidang adalah solusi. Bukan pindah hati sepertinya.
"Kita pulang besok atau lusa?" tanya Pras, belajar tidak egois, yang mulai meminta pendapat istrinya. Bukan hanya menjalani inginnya.
"Lusa itu senin Mas, anak anak juga sudah masuk sekolah lagi. Besok saja kita pulangnya." Jawab Mutia memberikan pendapatnya.
__ADS_1
"Tapi aku belum jalan-jalan dengan Radit dan Raisa di sini."
"Pakai penerbangan sore saja, agar besok pagi kita sempat jalan bersama." Simpul Mutia.
Hari berganti dengan anak dan suani yang ada di sisi. Ponsel Mutia masih sebagai benda mati. Dalam keadaan tidak aktif. Untuk urusan salon, Mutia menghubungi Cia dengan ponsel milik Raisa. Artinya, usaha Mutia tidak lah terbengkalai. Ia sungguh hanya terputus hubungan dengan brondongnya.
Sementara di sebuah desa, tepatnya desa di mana Dirga bermukim. Beberapa hari lalu sempat heboh. Karena kedatangan keluarga Ustads Arfan juga orang tua dari Cintya. Yang memang di hubungi keduanya untuk akan melaksanakan pernikahan dadakan yang di cetuskan Arfan setelah kejadian tubrukan di selasar Langgar tempo hari.
"Arfan ... Abi bangga jika kamu sudah menjalankan hidupmu sesuai dengan syariat agama yang kita yakini. Adalah haram seorang pria bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Tetapi, semua itu ada konteksnya. Hal di maksud adalah jika kalian melakukan kontak tubuh secara sadar, itulah zinah. Tetapi yang Abi dapatkan informasi. Kalian tidak sengaja, bahkan di celakai seseorang. Maka, kamu tidak sepenuhnya wajib bertanggung jawab." Jelas ayah Arfan saat hanya mereka bertiga dalam satu ruangan. Abi, Arfan dan Umminya.
Walaupun menikah adalah hal yang baik, namun sepanjang perjalanan. Ummi atau ibunda dari Arfan sudah wanti-wanti pada suaminya, agar Arfan tidak gegabah mencari istri. Mengapa harus wanita biasa yang putranya nikahi. Tidak bermaksud pilih-pilih. Bukankan banyak Ukthi di Pesantren mereka yang bibit dan bobotnya jelas. Juga dapat dipastikan kualitas beragamanya. Sebab Arfan adalah anak tunggal laki-laki mereka. Bukankah nanti Arfanlah yang akan mewarisi pesantren milik Abinya. Lalu, bagaimana jika putranya salah memilih istri. Yang nantinya sang istri juga akan jadi panutan di lingkungan pesantren mereka.
"Arfan tau akan hal itu Abi. Tapi, Arfan lebih takut dengan siksaan api neraka. Perihal sengaja atau tidak di sengaja, namun Arfan sendiri yang mengakui jika tubuh kami sempat tak berjarak." jawab Arfan dengan kepala tertuduk penuh hormat pada ayahnya.
"Arfan ... Ummi ingin memiliki menantu yang terbaik. Kamu putra Ummi satu satunya. Kakak dan adik perempuanmu pun, bahkan menikah dengan Gus yang ada di lingkungan kita. Jadi Ummi sangat menginginkan kamu pun menikah dengan yang ada di lingkungan kita." Ummi Arfan ikut bicara.
"Astagafirullanaladzim. Wanita itu bahkan tidak menutup auratnya di tempat umum Fan." Ummi berdiri di depan kaca. Ia sudah di tunjukkan. Mana yang namanya Cintya. Wanita yang konon akan di halalkan putra tinggal laki-lakinya.
"Arfan akan membuatnya hijrah Ummi." Hah ... Ada apa dengan Arfan. Terdengar begitu yakin untuk menikahi Cintya.
"Kalian hanya tidak sengaja jatuh bersama, Arfan. Tidak berbuat zinah. Kamu tidak harus menikahinya." Suara Ummi meninggi. Ia sungguh tak rela Arfan secepat itu memutuskan untuk menikahi seorang gadis yang bahkan belum ia kenal asal usulnya.
Di tambah lagi, sumber informasi Ummi adalah Inge. Cewek gilak itu tentu sudah memberikan informasi yang berlebihan pada ummi Arfan. Agar tidak menyetujui pernikahan tersebut, sebab ia pun berkedut-kedut membayangkan jika dialah wanita yang akan di halalkan Arfan.
"Ummi ..." Suara Abi Arfan sedikit meninggi. Tanda peringatan untuk sang istri. Agar tidak memaksakan kehendak. Dan membiarkan jalan Allah yang terjadi untuk putra mereka. Seketika Ummi tertunduk dan terdiam.
"Kamu sudah melakukan istiqoroh?" tanya Abi Arfan pada putranya.
__ADS_1
Arfan mengangguk.
"Apakah dia yang Allah tunjukkan padamu?" tanya Abi kembali.
"Insya Allah." Jawab Arfan mantap.
"Orang tua wanita itu, apakah sudah di hubungi?" tanya Abi Arfan lagi.
"Dia hanya punya ayah. Sebab ibunya 3 tahun lalu sudah meninggal." Jawab Arfan yang ternyata sedikit tau tentang keluarga Cintya.
"Boleh kita berbicara dengan keluarganya, sebelum kita melangkah lebih jauh?" tanya Abi dengan penuh hati-hati.
"Baik Abi, kita akan siapkan waktunya." dan kemudian terjadilah perkenalan dan pencocokan silsilah, untuk memastikan tak ada pertalian darah yang nantinya membuat hubungan pernikahan itu menjadi tabu.
Dan ternyata obrolan itu memang berakhir dengan sebuah ikatan pernikahan secara siri. Sebab, tujuan Arfan adalah membuat Cintya halal dulu baginya. Untuk pernikahan secara resmi dan lainnya akan di lakukan setelah mereka di kota dan menyelesaikan kegiatan KKNnya.
Maka resmilah Cintya kini menjadi istri seorang Gus Arfan. Yang merasa yakin untuk memperistri orang biasa, yang tentu ilmu agamanya masih dangkal, sebab yang ia nikahi adalah seorang yang lahir dan besar di lingkungan pesantren. Bagi Arfan, itulah jalan yang di gariskan untuknya. Mampu menaklukan istri sendiri menjadi pribadi yang lebih baik adalah pertanda jika kedepan ia akan bisa lebih bijak membina komponen yang lebih luas lagi.
Tinggallah Inge hanya bisa gigit jari, melihat teman gulatnya kini sudah resmi menjadi istri seorang ustadz.
Bersambung ...
(Maaf ya...
Author merasa perlu menginfokan kelanjutan hubungan Arfan & Cintya. Supaya gak penasaran. Jadi setelahnya, bisa balik lagi ke fokus utama kita. Ke Mutia & Dirga.
Semoga setuju)
__ADS_1