PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 75 : SPESIES ARCA


__ADS_3

Terpaksa Dirga memberikan alamat kota mana yang akan mereka tuju. Dimana kini ibunya tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit yang jarak tempuhnya kurang lebih 2 jam dari desa mereka tinggal.


Dirga di setir oleh Pras. Lelaki yang harusnya ia dan Mutia hindari. Agar tak tercium hubungan terlarang mereka. Tapi, Dirga tidak punya daya untuk menolak. Bahkan kini, kunci motornya saja di sandera oleh Mutia.


Sebenarnya Dirga tidak takut ketahuan oleh Pras, akan perasaannya pada istri pria baruh baya itu. Tetapi, lebih kepada rasa cemasnya. Jika ia melihat kemesraan pasangan suami istri itu, saat didekatnya. Dirga overthingking. Merasa insecure dengan posisinya di antara Mutia dan Pras.


"Mas ... Ini sudah hampir jam dua. Kita belum makan siang." Ucap Mutia, sambil menoleh ke suaminya yang sedang fokus menyetir.


Mendengar suara Mutia, Dirga yang di belakang, memasang telinga. Lehernya sedikit maju kearah kiri. Demi melihat sisi wajah Mutia. Dan setelah Mutia selesai bicara, leher Dirga, maju sedikit dan agak condong ke kanan. Dirga ingin melihat respon Pras, yang sedang Mutia ajak bicara. Dan bahkan itu adalah sebuah ajakan makan. Yang tentu butuh jawaban paling tidak, anggukan sebagai respon dari orang yang di ajak bicara.


Lama leher Dirga condong ke kanan, seperti kepala kura-kura yang keluar dari cangkangnya. Sumpah, Dirga kepo mau tau jawaban Pras.


Dan akhirnya sampai di menit kesepuluh pun. Hanya leher Dirga yang terasa pegal akibat tegang. Sedangkan Pras tak bergeming. Dirga melemaskan lehernya dengan mencuri pandang ke Mutia, Dirga juga penasaran bagaimana rupa Mutia, yang di kacangin suaminya.


Oh ... Mutia itu sudah biasa. Dia tampak tenang saja menatap ramainya lalu lintas didepannya.


"Sebegini sepinya hidup tante imut ku ini. Bahkan hanya minta berhenti untuk makan siang saja, tidak di respon si Om langka ini." Batin Dirga agak ngenes.


[Tante ... Apa Dirga aja yang minta makan sama Om Pras. Biar kita bisa turun. Tante udah laper banget kan?] Dirga mengirim chat untuk Mutia. Yang sangat jelas, saat itu Mutia sedang memegang ponselnya.


Tapi... Ajaib. Mutia terlihat tetap tenang dan acuh saja. Dan ponselnya tidak berdering dan tak bergetar.

__ADS_1


"Kalo kita tidak berhenti di tempat makan. Setidaknya kita singgah di apotek ya Mas. Aku gak bawa obat maag. Dan itu buat jaga-jaga perutmu juga sih." Mutia bersuara lagi, tanpa menoleh pada Pras. Ia seperti sedang bicara sendiri saja. Dan Pras masih dengan ekspresi yang sama. Diam, datar kayak sedang gak denger suara apa-apa gitu.


Itu sumpah, Dirga mau treak lhoo. Itu istri minta stop di tempat makan, bahkan bukan karena dia laper. Tapi untuk menjaga kesehatan lambung suaminya.


"Pliiis deh Om. Kalo udah bosen ama niih Mumut, kasih aku aja. Sumpaaah gua sayang bini lu, bambaaaang...!!!" Pekik Dirga dalam hati. Kesel lhoo, Dirga. Liat betapa datarnya suami Mutia. Wajarlah, itu orang. Di chat dikit udah kesenengan. Laah, punya suami kok spesies arca gini.


Dirga menghempas tubuhnya di bangku mobil. Menyandarkan punggungnya. Lelah otaknya memindai apa yang Mutia rasakan. Tujuh belas tahun usia pernikahan mereka. Bagi Dirga, Mutia adalah wanita yang tegar. Wajar ia oleng, saat di jumpakan dengan Dirga yang super care sama dia. Jelas, Mutia merasa jiwanya terhibur oleh kehadiran Dirga. Bodohnya, sekarang Dirga bahkan lebih cemas akan hati Mutia, ketimbang keadaan sang ibunda. Sebesar itukah rasa cinta Dirga pada Mutia. Ia mempertemukan kelopak bawah dan atas matanya. Untuk berpejam sebentar, berharap bisa tertidur. Untuk sekedar lupa, betapa sedihnya di cuekin.


Tetapi, saat Dirga belum sungguh terlelap. Dirga merasa arah mobil yang ia tumpangi tidak lagi lurus. Melainkan sedikit berbelok dan kini terasa berhenti.


Dirga memicingkan matanya. Rupanya mereka sedang berhenti di sebuah pasar tradisional. Bukan mall. Sebab mereka sudah di area luar kota.


"Kita makan dulu, di sana juga ada toko pakaian. Beliah beberapa potong pakaian, mungkin kita bermalam. Di bagian dalam, juga ada apotek. Mama Rara bisa beli beberapa obat yang cocok di konsumsi, untuk menjaga stamina." Papar Pras panjang. Ia, kali ini sangat panjang dan jelas ya gaes. Rupanya diamnya Pras tadi, akibat sedang mikir. Akan berhenti dimana, agar semua yang Mutia inginkan semua tercover di satu tempat. Luar biasa.


Sangat terlihat sekali jika Mutia itu sangat hormat dan penuh pengabdian pada suaminya. Semakin mengertilah Dirga, jika sesungguhnya selama ini Mutia sangat tertekan. Benar saja suaminya memberikan semua yang ia inginkan. Tapi tidak begitu caranya.


"Huh ... Sini Om. Dirga ajarin cara ngebahagiain istri Om." Batin Dirga lagi.


"Maaf ya Om. Jadi merepotkan." Sumpah Dirga sungkan saat hanya ia dan Pras duduk di satu meja. Setelah mereka selesai makan dan Mutia tinggal berbelanja. Pras hanya menggangguk pelan, dan terus asyik saja mengisap batang tembakau di tangannya.


Huh ... Menyesal Dirga bicara. Istrinya minta makan saja di cuekin. Apalagi Dirga yang cuma bicara basa basi, ya pasti gak di jawab donk.

__ADS_1


"Iya ... Dit." Jawab Dirga pada ponselnya yang baru sekali berdering.


"Mungkin dua jam lagi kakak tiba di rumah sakit itu." Jawabnya lagi.


"Heem... Iya. Syukurlah." Lanjut Dirga menerima informasi dari Dita, adik perempuannya.


Dita memberitahukan, kalau ibu mereka sudah sampai di Rumah Sakit yang di tuju. Dan sudah di tanganni oleh dokter setempat.


Dirga sedikit merasa lega. Dan ingin berbagi sedikit kelegaan itu pada orang yang berada di dekatnya, tetapi ia urungkan niatnya. Sebab ia tau, jika ia sampaikan. Pasti di kacangin lagi oleh si Arca itu.


"Mas ... Ku beli beberapa stel pakaian juga ya, untukmu." Sapa Mutia saat sudah dekat dengan mereka. Dan tetap saja, respon Pras hanya mengisap batang tembakau yang bagian ujungnya sudah ia bakar.


"Eh ... Ga. Kamu juga gak bawa pakaian ganti ya. Mestinya tante belikan kamu juga tadi." Mutia tidak bisa tiba-tiba berubah jadi orang yang cuek seperti Pras. Sisi baiknya Mutia selalu kerap muncul.


"Tidak ... Tidak. Jangan. Malah bikin repot saja. Biar Dirga yang atur itu nanti, sendiri. Di anterin oleh seorang CEO dan istri saja, sudah bikin aku merasa tidak nyaman, tante." Jawab Dirga jujur. Dan makin profeaional dalam hal menutupi kedekatan mereka yang sesungguhnya.


"Tidak repot Ga. Kan tadi yang mau nganter memang Mas Pras." Usap Mutia pada lengan suaminya. Seolah mereka adalah memang pasangan suami istri yang hangat.


"Kita lanjutkan perjalanan?" ujar Pras melirik Mutia.


"Sebentar. Aku minta buatkan kopi hitam panas dulu. Untuk mas di jalan." Gegas Mutia berjalan kearah orang yang bisa melayaninya.

__ADS_1


"Oh ... Istri pengertian. Idaman beet sih ini tante."


Bersambung ...


__ADS_2