
Pagi Mutia cerah, semerah lipstik yang ia poles di bibir indahnya. Senada dengan dress selutut bermotif floral kecil berwarna merah bercampur pink juga nude. Sangat serasi dengan bentuk tubuh yang terlihat semakin aduhai. Dengan semangat 45, Mutia sudah memastikan bekal Raisa dan Radit lengkap juga banyak. Tak lupa ia pun menanyakan pada Pras, apakah merasa perlu membawa bekal untuk makan siangnya nanti. Tapi, seperti biasa hanya di jawab dengan gelengan tanpa senyuman.
Mobil Mutia sudah terparkir rapi di depan ruko salonnya. Ia merasa perlu menjenguk sebentar tempat usaha juga sahabatnya yang tinggal di sana. Waktu sudah lewat dari pukul 8, hampir pukul 9 sebab Mutia lumayan lama putar putar di pasar. Sekedar membeli stok obat dan vitamin untuk di bawa Dirga di tempat KKN nanti. Untuk Stok buahan dan makanan, Mutia mengurungkan dulu niatnya. Berharap nanti akan punya waktu berbelanja bersama, jika waktunya memungkinkan.
“Owner emang bebas yaah. Mau jam berapa aja ke salon ga ada yang ngelarang.” Celetuk seseorang dari ruang tunggu VIP di tempat usaha Mutia tersebut.
“Shane …? Pagi banget sih. Mo perawatan?” Mutia agak terkejut melihat kedatangan Shane yang bahkan datang sebelum papan Open itu menghadap jalan. Yang artinya, salon Mutia masih tutup. Karyawannya masih harus bersiap-siap untuk melayani pelanggan yang datang dan sebagian sudah membuat janji temu.
“Di sanggar udah makin jarang ketemu sama kamu. Dan hari, ini jangan bilang kamu lupa hari ulang tahun mbak Nunuk.” Lanjut Shane yang sungguh membuat Mutia kaget. Sumpah demi apa, Mutia sungguh lupa jika itu adalah hari istimewa ibu bos besar mereka.
“Oh … masa aku lupa. Liat nih aku udah pake pakaian bagus. Dan anak-anakku sudah ku siapain bekal dan lainnya. Supaya ga terbengkalai jika hari ini kita akan party.” Bohong Mutia cepat. Yes, sejak selingkuh Mutia mulai ahli dalam mengarang. Nilai Bahasa Indonesianya mendadak naik dari nilai rata-rata. Kenapa coba?
“Ya kaliii kamu lupa. Tapi, kamu tau sendiri kan mbak Nunuk orangnya gimana. Dia mana bisa konsisten dengan pikirannya. Dia gak terima alasan. Pokoknya hari ini kita wajib ikut terbang ke Bali.” Buset, entuh Bali cuma di ujung gang ya buk. Dah kaya mo balik ikan kering di jemuran aja.
“Bali …? Ampun. Aku absen aja kali ini. Aku gak bisa.” Tolak Mutia tegas.
“Yakin kamu bisa nolak?” tantang Shane.
“Ya … ga segampang itu lah Shane. Semudah itu ngajak aku pergi ke Bali lagi, dadakan gini.” Mutia merasa gak bisa semudah itu untuk pergi. Dia belum ijin dengan Pras, juga hari ini tuh dia udah punya janji penting dengan brondongnya. Yang mungkin dalam dua bulan tidak akan ia bisa temui sesukanya.
Shane ingin lanjut bicara, tapi ponsel di tangan Mutia menyala tanda panggilan suara masuk. Dan itu dari Indah.
“Iya Ndah …?” sahut Mutia datar.
“Bapak mau bicara buk.” Jawab Mutia sopan.
__ADS_1
“Mama Ra-Ra …”
“Iya Mas.”
“Repot …?”
“Tidak.”
“Pulang ya. Siapkan pakaian kita untuk dua hari. Ada perjalanan bisnis ke Bali, juga ultah istri Pak Yudho. Kamu pasti sudah di undang juga kan.” Itu perintah, ajakan atau hanya sebagai informasi. Hanya Pras dan Mutia yang paham dengan untaian kalimat tersebut.
“Heeem. Iya aku pulang dan siapkan Mas.” Jawab Mutia datar bahkan tak nyaring.
Bali merupakan pulau terindah yang selalu rindu untuk di datangi berkali-kali. Apalagi kali ini Mutia berkesempatan ke sana dengan suami. Apa ini semacam perjalanan bisnis berkedok bulan madu atau sebaliknya. Mutia tak merasa perlu memikirkan alasan. Sebab otaknya hanya sedang penuh dengan kegagalannya berdua-duaan dengan sang brondong di kost.
“Siapa ?” tanya Shabe dengan senyum penuh bangga.
“Mas Pras.”
“Kenapa, dia larang kamu pergi?” Ujarnya bagai mengejek.
“Mas Pras juga berangkat.” Jawab Mutia menatap ponsel yang baru saja bergetar karena ada notid masuk.
[Ayank aku … jadi ke kost kan? Jam berapa katanya pagi-pagi sekali. Dedeg kira, pagi ini bakalan di bangunin oleh si ayank.] Gak usah tanya … itu pasti Dirga si borokokok.
[Maaf Ga. Tante ga jadi mampir. Mendadak siang ini tante ke Bali.]
__ADS_1
[Oh … obrolan kita kemarin hanya PHP?] sakit hati Mutia di tuduh sebagai Pemberi Harapan Palsu oleh si brondong.
[Gak gitu Ga, ini mendadak.] balas Mutia cepat.
Dan selanjutnya ponsel Mutia bergetar-getar akibat serangan VC dari si Brondong.
Mutia segera menyentuh layar pipih itu, pada tanda silang. Yang artinya panggilan itu ia tolak.
Ingat … Dirga turunan pahlawan. Mana mungkin menyerah hanya sekali saja. Lagi, ia melakukan panggilan kembali. Dan nasibnya masih sama, di tolak oleh Mutia.
“Siapa sih … kayaknya itu panggilan kamu riject terusa deh Mut.” Shane memperhatikan Mutia sejak tadi.
“Gak … bukan siapa-siapa. Hum … pesawat jam berapa?” Mutia mematikan ponselnya agar tidak berisik dan menggangu.
“Santai jeeenk. Jam 2 siang. Masih banyak waktu buat siap-siap. Dan kali ini kamu kudu tenang. Mbak Nunuk, aku dan Vinsha. Berangkat kali ini bakalan bawa laki halal.” Bisik Shane di dekat telinga Mutia. Shane tidak mau cap jeleknya di ketahui karyawan Mutia yang mungkin saja nguping atau mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Serah kalian ah.” Mutia merasa tak penting untuk tau, nanti mereka pasangan halal atau haram para teman rempongnya itu. Baginya sekarang adalah, harus pandai membelah diri. Agar cepat tiba di kost Dirga, lalu pulang kerumah untuk prepare bawannya dan Pras.
“Hihihii…. Oke. Gue cabut dulu bebeph, bababbaaaayy.” Tawa Shane tergerai, merasa senang misinya membawa kabar alias undangan untuk Mutia sudah tersampaikan.
Mutia melirik arlojinya, jarum pendek di antar angka 9 dan 10. Sedangkan jarum panjang menuju angka 6 di sana. Artinya setengah 10. Dan Mutia masih punya beberapa jam untuk berjumpa dengan Brondongnya. Kendaraan roda empatnya pun berbaur dengan para pengemudi lainnya untuk segera menuju kost brondong kesayangan. Jangan tanya hatinya, Mutia sekarang bahkan tidak hanya memerlukan sabuk pengaman untuk menjaga dada yang juga teikat pada bagian bawah perutnya. Tapi hatinya yang kini terasa harus di amankan dari guncangan. Akibat keterkejutan di ajak ke Bali dengan mendadak dan semua itu merusak mimipi indahnya, bersama Dirga pagi ini.
“Tante makin sering ke sini ya …? Ngapain lagi?”
Bersambung …
__ADS_1