PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 59 : PUTUS


__ADS_3

"Mengapa kamu bilang, kamu yang mengalah? Kalian itu satu tim. Bukan lawan yang harus bersaing." Kalimat yang di lontarkan Alifa memenuhi ruang dalam pikiran Mutia.


Bayangan chat manisnya bersama Dirga bagaikan potongan kliping bertaburan di pelupuk matanya. Bersilih dengan masa kebersamaannya dengan Pras yang tidak hambar juga tidak pernah manis, tetapi selalu stabil. Tidak pernah kurang juga tidak berlebihan.


[Belum tidur. Kok masih online] Isi chat Dirga. Saat ia baru akan merebahkan tubuhnya di tempat tidur bersama teman lainnya.


[Kita perlu bicara serius, Ga.] Balas Mutia sambil berjingkat dari tempat tidurnya, menuju teras samping, bercahaya temaram semi outdoor. Sama dengan Dirga yang memilih teras depan penginapannya, untuk menghubungi kekasihnya.


"Sayank kenapa? Kepikiran tingkah Inge tadi. Maaf yaaank. Sudah ku bilang kan, kalo dia itu gilak." Tanpa sapaan hallo dan sebagainya. Dirga sudah memulai obrolan. Dan tentu curiga, jika Mutia pasti merasa kesal dengan perbuatan Inge yang mendadak.


"Bukan Inge yang gilak. Tapi kayaknya memang tante yang tidak waras. Baper dengan hubungan kita ini." Jawab Mutia lirih.


"Tante ngomong apa? Tante berhak marah, dia main sosor tadi. Maaf aku gak bisa jaga diri demi tante." Jawab Dirga dengan nada suara yang sangat menenangkan Mutia.


"Gak ... Kamu gak harus jaga diri untukku. Siapalah aku Ga. Hanya emak beranak dua yang gak tau diri. Ku rasa, hubungan kita sudah harus berakhir, Ga." Ada linangan air bening disudut mata Mutia. Entah kenapa, hati nya tak benar ikhlas meminta pengakhiran kisah singkat mereka tersebut.


"Masalah kita apa tante? Selama ini hubungan kita sehat. Kita gak merugikan siapa-siapa." Dirga membela diri.


"Gak ... Sejak awal hubungan kita gak benar Ga. Awalnya saja kita berkomitmen tidak ada kontak fisik. Tapi buktinya, kita sama sama tau kan. Dan sialnya, semua itu membuat tante nyaman." Mutia tak menampik perasaan yang muncul dalam hatinya.


"Gak benar gimana? Dirga beneran serius sayang ke tante Kok. Lagian yang merasa nyaman bukan hanya tante. Dirga malah pake banget nyamannya. Tante bikin Dirga betah." Kilah Dirga.


“Bukan soal keseriusanmu Ga. Tapi tentang status tante, sebagai istri orang.” Mutia menekankan suaranya, pada bagian kalimat istri orang.

__ADS_1


“Itu sudah kita bahas bahkan sejak awal akan menjalani ini. Aku tau posisiku hanya sebagai yang kedua. Pernah gak sih, aku nuntut semua waktu tante buat Dirga? Walau iya, pun. Hanya sekedar Dirga minta, tapi gak pernah tante berikan juga. Dan aku gak pernah protes, aku masih tau porsiku yang cuma numpang di hati tante. Sesuai kesepakatan awal.” Protes Dirga panjang lebar.


"Gak bisa Ga. Tante sudah ga bersedia menampungmu dalam hati tante." Tegas Mutia.


"Salah ku di mana?" tanya Dirga tidak terima.


"Salah mu terlalu mempesona. Dan kehadiranmu membuat rumah tanggaku di ujung tanduk." Jawab Mutia dengan nada suara lebih serius.


"Om Pras udah tau tentang kita? Bukannya selama ini kita main rapi?" tanya Dirga lagi.


“Tidak. Bahkan sebelum Mas Pras tau. Mulai sekarang tante udah gak ijinkan kamu numpang, ngekos atau apalah di hati tante lagi.” Tegas Mutia.


“Hah …?” Jelas Dirga tak setuju.


“Jika karena perbuatan Inge tadi tante begini sama Dirga. Fix,tante sebenarnya sayang banget ke Dirga. Rsa memiliki tante besar banget ke Dirga. Sampai secemburu ini dan minta putus. Itu sangat norak tante.” Terdengar Dirga bagai menertawai Mutia.


“Ini tidak ada hubungannya sama Inge. Hanya, tante tidak mau membuang waktumu lebih banyak. Sampai kapanpun tante ga bakalan bisa jadi masa depanmu Ga. Kasian kamu.” Mutia sudah memutar otaknya untuk memberi alasan.


“Itu biar jadi urusan Dirga. Dirga masih 22, harus menghabiskan waktu 10 atau 20 tahun lagi jalan sama tante juga, aku masih muda dan layak jual. Ha … ha …” Suara tawa Dirga makin renyah saja di rungu Mutia.


“Iya kamu muda, dan tante udah OTW jadi nenek-nenek Ga. Pokoknya kita sudah aja. Kita putus.” Mutia langsung memutuskan panggilan itu dan menonaktifkan ponselnya. Tak sanggup Mutia jika harus terus beradu mulut dengan si tengil itu. Yang selalu punya seribu satu alasan, mirip pengacara, hakim dan jaksa di pengadilan saja.


Mutia mengusap ponselnya. Memastikan jika benda pipih itu sungguh telah mati. Sembari mengenang akan jasa gawainya dalam hal perantara yang membuatnya gila beberapa bulan terakhir.

__ADS_1


“Kenapa memutuskan untuk mengakhirinya secepat ini?”tiba-tiba Alifa sudah berdiri di ambang pintu teras, tempat Mutia melakukan panggilan suara tadi.


“Hah …?” Mutia terkejut. Tak menyangka jika ada saksi mendengar keputusannya malam itu.


"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Mutia memastikan, apakah Alifa mendengar semua obrolannya dengan si brondy.


"Sejak ku dengar suara pintu kamarmu terbuka." Jawab Alifa memastikan, bahwa ia memang memgikuti sejak awal obrolan itu.


"Heem ..." dehem Mutia pasrah.


“Aku tidak suka akan sebuah pengkhianatan. Makanya aku bicara seperti tadi. Dan …. Aku apresiasi banget jika secepat ini responmu. Yang jika ku tak salah dengar, kamu minta semuanya berakhir saja. Padahal kamu tadi juga bilang, kalau kalian hanya teman biasa.” Sindir Alifa, yang sudah memilih duduk di sebelah adik perempuannya yang tidak lagi muda.


“Aku juga tidak mengerti hubungan kami bisa di sebut apa? Sejak awal aku tau usia kami terpaut jauh, aku juga masih sangat sadar akan statusku sebagai istri orang dan ibu beranak dua.”


“Lalu mengapa kalian bisa sedekat itu?” telisik Alifa.


“Aku terbawa suasana.” Jawab Mutia.


“Huum … aku sebenarnya tidak menyalahkanmu. Hubugan kalian tidak akan spesial, tanpa campur tangan dari kalian berdua. Kamu tidak akan melanjutkan rasamu. Jika ia pun tak menunjukkan perasannya yang mungkin berlebihan padamu, atau ia memang merongrongmu?" rebak Alifa asal.


“Dirga tidak hanya merongrong, tapi kerap memaksakan kehendak. Dan celakanya, aku suka dengan caranya memperhatikanku. Sejak dekat denganya, aku merasa punya teman sefrekuansi, merasa memilik teman bicara yang imbang. Aku merasa ada yang di dengar dan mendengar. Sedangkan dengan mas Pras, kamu tau sendiri. Dia hanya selalu jadi pendengar, tanpa ada niat untuk bicara atau sekedar menanggapi.” Mutia mulai mengeluarkan unek-uneknya.


“Iya itu tadi. Tepuk tangan akan berbunyi ketika dua telapak saling bertemu. Jika hanya salah satu yang bergerak, namanya tepuk angin. Hampa dan tak bersuara. Demikianlah hubungan kalian berdua. Dir … ga … Iya Dirga kan? Dirga itu tidak akan bisa masuk dengan sukses dalam hatimu, jika jalannya kamu tutup. Sehingga jelas… masalahnya adalah kamu yang beri dia akses masuk dalam hidup dan hatimu." Papar Alifa dengan detail.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2