PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 7 : TARGET


__ADS_3

[Tante Imut, kenapa cemilannya ga di jamah dari tadi. Dirga liat kok, tante cuma ngaduk jus nya]


[Hiiissh, resek. Kerja aja Ga, kerja] balas Mutiara setelah berhasil memastikan jika dua teman di sisinya tidak ikut melihat tangannya yang menari nari pada gawainya.


[Udah kerja kok. Dan tante liat juga denger sendiri kan. Itu tadi barusan goal. Makasih ya tan.] Balasnya sopan sekaligus bangga. Sulit Dirga mengungkapkan perasaan senangnya. Saat ia baru saja berhasil meyakinkan Nunuk.


Sebelum berangkat menemui klien ini. Dirga dan Desti sudah di perlengkapi alat yang terhubung dengan owner WO itu sesungguhnya. Desti memang mempunyai jabatan lebih tinggi, ketimbang Dirga. Tapi sang Owner tak serta merta percaya akan keberhasilan Desti selama ini mendapatkan pelanggan. Dengan alat yang terpasang itu, ia dapat memantau. Siapa yang sebenarnya berhasil membuat klien percaya, dan memilih untuk tetap bekerja sama dengan pihak mereka. Maka bonus akan tersalurkan pada pihak yang benar bekerja dengan baik.


Dirga itu mahasiswa, semester depan ia sudah harus menggarap Skripsinya. Tapi semua akan tertunda jika ia tak membayar SPPnya di bulan ini. Sementara di kampungnya, sang ibu yang hanya penjual sayur. Dan sedang tak sehat pulak. Ia tak sengaja di tuntut harus mandiri. Tidak membebani sang ibu untuk urusan biaya kuliahnya. Bukan maksud lari dari tanggung jawab, hanya ibunya sejak awal memang tak setuju jika Dirga melanjutkan kuliahnya di Kota. Sang ibu lebih menyarankan, agar Dirga tetap di kampung. Untuk menemaninya bertanam sayur dan menjadi pedagang saja, untuk membantu perekonomian keluarga. Namun Dirga keras kepala, dan tetap memilih pergi ke kota. Mengadu nasibnya juga menuntut ilmu, yang ga pernah bersalah, tapi terus di tuntut. Apa seeeh.


[Makasih buat apa …?] Mutia dan Dirga masih terlihat lancar bertanya jawab dengan gawainya masing-masing. Sampai Mutia tak sadar dengan mimik muka yang ia tunjukkan, tak sengaja mulutnya terlipat sendiri, menahan senyum agar kesenangan hatinya tidak nampak di permukaan, dan bisa saja tertangkap temannya.


[Untuk mempertemukanku dengan klien ini. Ini tuh kakap tante.] Balas Dirga jujur dan polos.


[Jodohmu.] Balas Mutia tak kalah cepat dan singkat.


[Siapa?]


[Mbak Nunuk]

__ADS_1


[Ihh … ga mau. Mending sama tante Imut aja] maksudnya apa nih.


[Ngomong apa sih, Ga?] kali ini Mutia tak bisa hanya mengetik dan mengirim. Tapi juga langsung menatap wajah ketceh yang di penuhi senyum manis nan ramah itu. Dengan mata sedikit melotot pada Dirga. Dan respon si ketce itu adalah menahan senyumnya lalu membuang muka, dengan keadaan hidung yang kembang kempis. Damn.


“Pastikan yang nantinya akan mengurus semuanya adalah kamu ya, Dirga. Sebab kamu sudah sangat mengerti yang tante maksud.” Nunuk menunjuk Dirga langsung untuk selanjutnya menangani pesanannya. Tepat setelah nilai 30 persen itu, sudah terkirim ke nomor rekening yang di berikan padanya tadi.


“Siap buk.” Jawab Dirga dan Desti bersamaan. Yang kemudian keduanya berpamitan untuk pulang lebih duluan dari gerombolan ibu-ibu rempong itu.


[Tante Imut, Dirga pulang duluan ya. Sekali lagi terima kasih untuk Jobnya.] Sebelum punggungnya benar-benar hilang dari pandangan mata Mutiara. Si ketce itu masih sempat saja mengirim chat kembaki pada Mutia.


[Tak perlu berterima kasih berlebihan. Mungkin ini memang rejeki kalian. Hati-hati di jalan.] Mutia berusaha menjawab dengan baik juga ramah saja saat itu. Walau akhirnya memang menghasilkan sunggingan di bibir Mutia, karena mendapat emot senyum dengan tanda love dari brondong ketceh itu.


“Deeeuuuh, yang sejak tadi nahan senyum saat liat ponsel. Liat apaan siih?” Kepo Shane pada Mutiara. Jelas ia memperhatikan gestur teman di sebelahnya.


“Emangnya kami buta apa? Mata mu itu, ga bisa lepas dari gawai pipih itu. Kepo dong … siapa yang sudah berhasil menggoyahkan kesetiaanmu dengan si batu es itu.” Goda Visha seolah tau jika sekarang ada yang menarik di dalam pnsel Mutia.


“Oh … kalian curiga aku punya gebetan kayak kalian? Niih … ku chat sama Cia, temen SMA ku. Katanya dia mau pulang ke sini dalam waktu dekat. Coz dia udah jadi janda.” Mutia mengacungkan ponselnya, agar mereka percaya jika dia sungguh tak sedang melakukan hal di luar dugaan. Seolah benar jika sedari tadi ia hanya sedang berchat dengan teman lamanya.


“Hahaaay … punya gebetan juga ga papa kali Mut. Di antara kita. Hanya kamu yang masih polos. Bertahan dengan ikrar janji suci pernikahan. Preet. Kamu belum merasakan saja indahnya mendua, mentiga atau selebihnya.” Celetuk Shane mengolok-olk Mutia. Ya … dalam pertemanan mereka. Memang hanya Mutia yang masih terlihat sebegitu kuatnya bersyukur untuk menerima suaminya dengan apa adanya. Menjaga keharmonisan rumah tangga. Walau sejak awal tidak ada cinta.

__ADS_1


“Udah … jangan kalian racuni otak Mutia dengan serum awet muda itu. Nanti kalo saatnya sudah tiba juga, akan gila sendiri. Bahkan lebih candu dari kita.” Nunuk terkekeh mendengar Shane yang sedang berusaha mengarahkan Mutia agar berselingkuh atau sekedar belajar bermain hati pada pria lain. Cukup aneh pertemanan ini.


“BTW Mut, kamu ketemu di mana sama Dirga itu.” Hati Mutia agak berlnjak saat mendengar nama Dirga di sebut. Entah kenapa.


“Oh … itu. Kan mereka adalah Tim yang sama saat acara Anivku kemarin.” Jawab Mutia dengan cepat.


“Heem… trus Dirga itu statusnya apa?” telisik Nunuk lagi.


“Yang ku tau sih, dia mahasiswa yang nyambi kerja di bidang Bisnis Event Organizer itu.” Jawab Mutia seadanya.


“Yang lainnya?” tanya Nunuk lagi.


“Apanya …?”


“Ya statusnya lah. Udah punya istri kah? Kekasih atau di sini sama siapa?” Nunuk masih ingin banyak tau segala sesuatu tentang Dirga. Yang di matanya, anak itu terlalu sederhana dengan materi wajah setampan itu. Jika di ples dan mungkin di beri modal. Nunuk yakin ia akan lebih charming dari tampilan sekarang.


“Ha … ha. Mana aku tau. Ketemu aja baru dua kali ini.” Mutia menertawakan dirinya sendiri. Tak masuk akal baginya, banyak tanya segala sesuatu sedetile itu pada Dirga, pemuda yang bahkan baru banget ia kenal.


“Coba kamu cari tau lebih banyak Mut. Aku mau dia jadi milikku selanjutnya.” Tukas Nunuk dengan tegas.

__ADS_1


Membuat mereka semua yang ada di sekitarnya menatap heran. Mencari kebenaran pada kalimat yang baru terlontar dari mulut Nunuk. Hallo … Nunuk itu 57 tahun, nyonya dewan direksi yang tak kekurangan satu apapun dari segi materi. Simpanannya banyak, dari mahasiswa sampai pengusaha, bebas ia mau bercinta dengan yang mana tanpa penolakan, sebab uangnya sudah bicara. Lalu mengapa Dirga yang selanjutnya akan jadi targetnya. Apa ini mulai menunjukkan tanda jika Nunuk mulai pikun?


Bersambung …


__ADS_2