
Entah sengaja atau tidak, Pras memang tidak langsung naik ke atas untuk menemui orang yang spesialis mengukur badannya. Sehingga ia justru lebih terlambat naik, untuk melakukan hal yang juga akan Dirga lakukan saat berada di lantai dua Butik tersebut.
Namun Dirga adalah Brondong yang sopan dan manis selalu. Sehingga ia sangat menghormati pria yang lebih matang dan tua darinya. Lebih profesional darinya, di bidang apapun. Termasuk dapat memperistri seorang wanita bernama Mutiara Andini. Dan itu cukup membuat Dirga merasa iri, entah kenapa.
Dirga awalnya tampak duduk tenang memandang Pras, sembari menunggu antrian untuk di lakukan pengukuran. Namun, ketenangannya berubah menjadi sedikit tegang. Saat ponselnya berdering dalam sakunya.
“Iya … ada apa?” sahut Dirga dengan suara datar dan sedikit tegas pada lawan bicaranya. Terdengar tak antusias Dirga menerima panggilan tersebut.
“Hah Kok bisa …?” lanjutnya dengan nada lebih nyaring dari sebelumnya. Setelah terjeda untuk mendengarkan lawan bicaranya menyampaikan informasi di ujung gawai.
“Sebentar. Nanti ku call lagi.” Tutup Dirga. Sebab gilirannya untuk di ukur. Dan selanjutnya giliran Pras yang memilih duduk untuk memperhatikan Dirga secara menyeluruh. Dari ujung kaki hingga kepala.
Jujurly, Dirga canggung di pandangi oleg Pras. Di tambah lagi ponselnya yang terus terusan berbunyi, sebab obrolan tadi belum tuntas.
“Terima saja dulu mas, panggilannya. Kebetulan yang cowok gak ada antrian.” Ujar si tukang ukur.
“Oh … jangan Pak. Selesaikan saja.” Jawab Dirga.
“Kali aja penting.” Ujarnya lagi.
“Ga papa. Biar cepat selesai.” Perintah Dirga kemudian. Dan meletakkan ponselnya di kursi, tepat di sebelah Pras yang sedang duduk, seperti tengah menungguinya.
Tetapi manusia yang sedang bersebelahan dengan ponsel yang berdering-dering itu adalah Pras. Jadi walau deringannya sesering apapun gak bakalan membuatnya terusik. Ia hanya sekedar melirik, melihat nama atau profil yang sejak tadi mengganggu ketenangan Dirga yang sedang tidak bisa di ganggu.
“Iyaa … gimana?” Dirga sudah selesai dengan proses pengukuran. Secepatnya ia mengambil ponsel di sebelah Pras. Dengan sedikit senyum santun, iapun berjalan menjauh, sembari menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
“Ya trus gimana?” lanjutnya pada lawan bicara.
“Gak bisa Dita. Kakak gak bisa kemana-mana. Baru juga selesai KKN, uang ku, itu udah banyak habis. Selama KKN kan gak dapat uang.” Lanjutnya dengan suara agak pelan sambil menuruni tangga.
“Bisa … Kakak bisa bagi dikit aja. Tapi kalo harus ke sana itu … gak mungkin. Masa kakak pake motor. 4 jam berkendara itu lama dan melelahkan.” Jawabnya lagi.
“Bukan gak mau ikut tanggung jawab. Tapi, bener gak bisa secepat itu ke sana. Ngawur, kakak pake apa?” Lanjutnya kembali.
“Iya … oke. Langkah yang kamu ambil memang sudah tepat. Kakak terima kasih sama kalian. Tapi, ku gak bisa bantu banyak.” Jawabnya seolah frustasi.
“Kenapa kamu gak ikut jaga ibu di jalan?” tanya Dirga. Sepertinya panggilan itu dari anggota keluarganya di kampung.
“Maaf, kakak gak janji. Tapi akan usahakan bisa ke sana.” Dirga terdengar melemah dan mengalah. Percuma rasanya terus membantah permintaan di seberang sana, yang terdengar meraung-raung bicara dengan tangisnya.
“Ada apa?” pundak Dirga di tepuk seseorang dari belakang, saat Dirga memang hanya terhenti di tengah anak tangga. Tak ingin terus menuruni tangga itu, demi fokus bicara di gawainya.
“Perlu bantuan?” tawar Pras yang memang selalu irit bicara kan.
“Oh … tidak Om. Aman. Kok.” Bohong Dirga tak ingin merepotkan siapa-siapa.
“Hallo … ya jangan. Desta Gimana kamu tinggal sendirian?” Lanjut Dirga merespon panggilan suara yang masuk lagi.
“Gak … Gak usah. Nanti kakak aja yang ke sana.” Simpul Dirga menjawab.
“Iya..., sekarang juga.” Lanjutnya, agar lawan bicaranya tenang.
__ADS_1
“Ya sepeda motor lah, emangnya kakak punya apa di sini?” Tanpa malu Dirga mejawab panggilan itu, bahkan masih di dekat Pras yang berdiri mematung.
“Iya … nanti kakak kabari.” Ujar Dirga lagi menutup panggilan tersebut dengan pikiran yang amat galau. Ibunya tiba-tiba kena serangan jantung. Dan Puskesmas Desa mereka tidak memiliki alat yang ngumpuni untuk menangani jenis penyakit yang di derita oleh ibunya. Sehingga, ibu Dirga harus segera di bawa kerumah sakit terdekat dengan desa tempat merek tinggal. Yang jika di tempuh dari kota Dirga tinggal sekarang kurang lebih 4 jam dengan perjalanan darat.
Tindakan adik-adiknya tidak salah, untuk mengirimkan sang ibu ke rumah sakit tersebut. Tetapi dengan hanya di temani perawat desa. Yang kemungkinan akan pulang kembali ke puskesmas desa. Lalu, ibunya akan di temani siapa di rumah sakit selanjutnya. Untuk itulah Dita adiknya meminta Dirga pulang untuk menjaga sang ibu, Dan tentu saja untuk mengurus ini dan itunya, tak terkecuali dana tentunya.
“Ada yang sifatnya urgent?” tumben Pras kepo tingkat dewa. Saat melihat Dirga dan mendengar obrolan di telpon tadi dengan seksama.
“Heem … ibu saya terkena serangan jantung Om. Dan sekarang di perjalanan menuju rumah sakit. Kedua adik saya tidak bisa menemani ibu. Dan meminta saya yang datang ke sana, untuk jaga ibu.” Jujur Dirga pada Pras.
“Mau di bantu ?” tanya Pras. Aneh memang. Mau bantu kok pake nanya. Kalo mau bantu ya… bantu aja kali Pras.
“Hah … tidak Om. TIdak usah. Mari saya permisi duluan.” Pamitnya pada Pras. Lalu bergegas akan pamir pada Nunuk CS. Yang sudah duduk manis menunggu adengan drama selanjutnya. Yaitu pertemuan Mutia dan Dirga di waktu sengang. Menurut mereka, sebab badan mereka sudah di ukur semua. Jadi tak ada lasan ingin ina inu. Untuk menghindar obrolan antara Mutia dan Dirga, yang sangat ingin mereka saksikan.
“Des … aku pulang duluan ya. Sekalian aku ijin, 3 hari. Ada urusan keluarga.” Pamit Dirga pada Desti yang berdiri seolah memang sedang menungguinya.
“Kok ijin lagi sih. Kamu kan udah lama gak masuk karena KKN, Ga.” Tolak Desti.
“Sorry … Urgent banget. Pliis. Nanti aku ijin lagi sama Pak Tomo deh.” Ujarnya kemudian.
“Tante Nunuk. Makasih ya, pakaian seragamnya. Dirga pamit, pulang duluan ya.” Lanjutnya menyalami para tante girang yang sudah memasang wajah semanis madu, untuk menyambutnya.
“Looh … kok buru-biri banget sih. Udah makan siang blom. Yuk, makan siang bareng dulu.” Ajak Nunuk yang tidak mau menerima uliran tangan Dirga untuk pamit tadi.
“Maaf tante. Lain kali aja, Terima kasih. Maaf Dirga buru-buru.” Tolaknya sambil senatural mungkin bersalaman dengan Mutia kekasih hatinya. Namun, tetap saja. Mereka berhasil terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
“Eh … Dirga. Biar Om antar. Tidak baik berkendara saat pikiran tidak tenang.”
Bersambung …