
Dua pria beda usia namun satu selera itu sedang berada diruangan serba putih, dan sedang bicara serius dengan seorang dokter pria agak tua, persis di depan mereka. Pembicaraan mereka tentang penyakit serius yang sedang di derita oleh Larsih, ibunda Dirga yang juga sahabat Pras, suami Mutia.
Entah seberapa berartinya Larsih itu dalam hidup Pras di masa lalu, yang pasti Pras terlihat begitu cemas saat mendengar penjelasan dokter. Bahwa Larsih harus segera di tangani dengan lebih intensif, bahkan harus segera di pasang ring pada jantungnya.
“Boleh kami melakukan pemasangan ring itu di Rumah Sakit lain dokter?” tanya Pras tanpa mempedulikan Dirga yang tentu sedang tidak menemukan solusi dalam hal biaya untuk sang ibu.
“Silahkan pak, Kami siap membuatkan surat rujukan ke rumah sakit yang akan di tuju”. Ramah dokter itu memanggapi permintaan Pras.
“Baiklah, tolong persiapkan saja. Kami akan melakukan hal tersebut di RS .XXXX”. Pinta Pras tanpa berkonsultasi dengan Dirga yang sedang berada di sampingnya.
“Om serius akan memindahkan ibu ke rumah sakit itu?” Dirga bukan anak kemarin sore. Ia adalah mahasiswa semester akhir bukan. Tentu saja ia tau. Rumah Sakit tujuan Pras adalah rumah sakit swasta yang sangat terkenal baik juga mahal di kota tempat mereka menetap. Tempat Dirga menimba ilmu, mengais rejeki dan dapat gebetan pualk, walau istri orang. Huh.
“Iya, kamu masih aktif kuliahkan? Kalau ibumu di rawat di satu kota yang sama. Kamu tidak harus bolos kuliah”. Jawab Pras sambal berlalu meninggalkan Dirga yang masih berada dalam mode bingung.
“Iya… ibu mungkin akan sembuh karena di rawat di rumah sakit itu, jiga kuliahku tidak terbengkalai karena aku tetap bisa ngampus. Tapi aku ragu, apa nantinya ginjalku akan tetap dua. Demi ibu.” Umpat Dirga dalam hati.
“Gimana mas …?” jelas terpancar aura cemas yang mendalam di wajah Mutia. Saat suaminya sudah berada di ambang pintu kamar rawat Larsih.
“Ga gimana-gimana. Hanya saya minta perawatan Larsih di pindah ke kota kita saja.” Jawab Pras dengan nada datarnya seperti biasa.
“Tapi mbak Larsih gak apa-apa kan Mas?” Sulit bagi Mutia menutupi rasa penasarannya, sebab tadi Dirga sudah mengirim chat tentang penyakit ibunya yang serius. Hanya tidak detail. Itu yang membuat Mutia masih kepo dengan kabar terbarunya.
Pras sudah berada di sisi Larsih yang juga curiga akan penyakit yang ia idap, bisa saja penyakitnya parah dan sudah waktunya ia OTW menghadap Tuhan.
“Kenapa aku harus di pindah, aku sudah mau meninggal Pras?” tanya Larsih dengan begitu gamblangnya.
“Hush … pertanyaan ap aitu?” Agak marah Pras menanggapi pertanyaan konyol Larsih. Mutia pun memutar posisi tubuhnyua, agar bisa sejajar menghadap suami dan teman lamamya itu saling berbicara.
__ADS_1
“Laah … kalau aku harus pindah ke rumah sakit di kota. Artinya aku mengidap penyakit parahkan?” cecar Larsih lagi pada Pras, dengan posisi berusaha untuk duduk, walau agak susah payah. Dan hal itu langsung ditahan Pras dengan satu jari trlunjuk pada dahinya. Sungguh mereka sangat terlihat akrab dan semena-mena. Dapat di bayangkan, betapa dekatnya mereka saat sama-sama muda.
“Ke rumah sakit di kota itu, bukan berarti kamu sudah mau mati. Tapi, kamu harus piker Panjang tentang anakmu. Kalua selalu meanjagamu di sini, kuliahnya bagaimana? Kalua kalian berada di satu kota, kan dia tidak harus meninggalkan tugas kuliahnya. Paham?” Panjang, Panjang sekali bukan penjelasan Pras pada Larsih. Tidak seperti perlakuannya pada Mutia.
“Iya juga… tapi. Itu artinya aku akan di rawat dalam waktu lama. Kalau kamu sampai memikirkan Dirga kelamaan tidak melaksanakan kuliahnya. Sudahlah Pras, ga usah muter-muter, aku tau kamu. Pasti ada hal besar yang kamu tutupi. Bilang saja kalo aku memang sudah mau meninggal.” Waw … Larsih bahkan tau jika Pras hanya sedang menunda sebuah kabar yang benar.
Hati Mutia mencelos. Ia sudah setara dengan beberapa benda mati dalam kamar rawat inap itu, alias ga di anggap ada. Keberadaannya sungguh tak berarti, dunia itu Bagai milik Pras dan Larsih berdua saja. (kesel ya neng …?)
Tok …
Tok …
Dirga merasa perlu untuk mengetok pintu kamar itu sebelum masuk. Setelah sebelumnya sempat mendengar obrolan antara ibu dan suami Wanita pujaannya. Yang memang terdengar sangat akrab dan hangat. Sampai tak menmyadari ada seorang manusia selain mereka berada di dalam ruang yang sama.
“Dir … kata Om Pras. Ibu harus di pindah ke rumah sakit di kota. Kamu setuju ?” tanya ibu Dirga saat tubuh anak sulungnya sudah satu ubin dengan Pras juga Mutia.
Dirga hanya menggendikkan bahunya. Sumoah Dirga merasa tidak berguna sebagai seorang anak yang belum memiliki penghasilan apa-apa. Sehingga ia mengakui jika kini rasanya, harga dirinya lah yang sedang ingin di beli seorang Pras. Tapi, ingin melawan ia tak punya daya, ingin mengobati ibunya sendiri, ia tentu tak punya dana.
“Aku tidak mau pindah rumah sakit. Lepaskan saja semua alat medis ini, dan antar aku pulang.” Oh … ternyata Larsih lebih keras dari Pras. Saat Pras mengambil keputusan sepihak untuk memindahkan Larsih untuk mendapatkan perawatan intensif demi keselamatan jantungnya. Larsih pun bersikukuh tak mau di pindah rawat.
“Oh tidak bisa. Urusan kepindahan sedang di prose, Paling lambat siang ini. Kamu sudah akan di antar ke kota. Kita akan sama sama ke kota. Hanya beda mobil.” Lanjut Pras.
“Kenapa harus beda mobil? Kenapa tidak jelas begitu? Jujur saja, ada apa dengan penyakitku?” Larsih masih curiga Paras pasti menutupi sesuatu.
“Ibu … jantung ibu mengalami penyempitan dan penyumbatan. Sehingga perlu di pasang ring, agar aliran darah dan oksigenya lancar. Dan ring itu akan membantu untuk memperbesar rongga pembukuh darah ibu. Dan Om Pras, meminta pada dokter untuk melakukan pemasangan itu di kota.” Jelas Dirga tanpa menutupi apapun dari ibunya.
“Tuh kan … Pras. Kamu tidak jujur sejak awal. Main perintah pindah aja.” Celetuk Larsih dengan nada bicara agak getir. Merasa sedih, dengan penyakit serius yang menyerangnya.
__ADS_1
“Ya sudah… sekarang sudah taukan? Dirga kemasi barang-barang ibumu, agar siap pindah ke kota.” Perintah Pras. Sungguh menunjukkan betapa egoisnya pria itu. Yang tidak pernah menunggu atau memberi kesempatan untuk orang ;laian berpendapat, bahkan diri orang itu sendiri.
“Ibu tidak mau Dir. Habiskan infus ini saja. Lalu antar ibu pulang ke desa kita saja.” Tegas Larsih sembari menatap tajam pada Pras yang keras kepala dan diam-diam pemaksa itu,
Bersambung …
Salam rindu buat readrsku se-Indonesia,
Maaf beribu maaf, author haturkan kepada semua, karena udah lebih dari tiga purnama yak? Gak update.
Awalnya coba-coba, eh lama-lama candu juga bolos nulisnya.
Dan berakhir nelangsa, di siksa rindu.
Kangen di komen,
kangen di kirimi bunga,
kopi dan vote juga.
Untuk info, selama ini.
Aku baik-baik saja, Tidak dalam keadaan sakit.
Hanya sedang tidak pandai membagi waktu saja,
dan sedang memproritaskan sesuatu yang memang harus di utamakan lebih dahulu dalam reallife. Maaf yak…
__ADS_1
Semoga setelah ini, bisa lancar jaya
Terima kasih