
Dirga sengaja tidak mengatakan pada Mutia, jika Event Organizer tempatnya bekerja paruh waktu yang akan melayani pada pesta Hasan. Sejak pagi hatinya sudah berbahagia sendiri saat Mutia memberikan info jika kekasihnya itu akan datang pada acara yang akan ia hadiri pulak. Walau dalam porsi tugas yang berbeda. Mutia dan Pras datang sebagai tamu kehormatan, sedangkan ia datang bersama Timnya sebagai pelayan yang harus mampu menjaga kestabilan atau ketertiban jalannya acara.
Dirga puas dengan pakaian yang ia pilihkan untuk kekasihnya, walau Mutia membayar sendiri gaun mahal tersebut. Siapalah dia. Hanya seorang mahasiswa semester akhir, yang menggantungkan hidupnya pada uang hasil kerja part timenya itu. Sedangkan kiriman sang ibu yang tak lain seorang janda yang masih punya beban 3 orang anak bersamanya, dengan uang yang di hasilkan dari berjualan sayur. Tentu hidup Dirga terasa berat. Maka selain kerja part time, menjual diri juga tidaklah salah baginya. Jika ingin mendapatkan uang dengan cepat.
Mutia tenggelam dalam suasan ramai yang mereka ciptakan. Hasan dan Berto adalah sobat kental Pras. Pekerjaan mereka berbeda, hobby mereka juga berbeda. Hanya selera mereka memilih istri yang hampir mirip. Yaitu senang dengan tipe wanita yang heboh dan suka lupa waktu jika saling bertemu. Istri mereka ikut akrab karena hubungan baik tiga serangkai itu. Sebelumnya mereka empat sekawan. Namun Firman sudah terlebih dahulu meninggal dunia. Hingga tak dapat melanjutkan pertemanan mereka di dunia.
“Aku salah ingat atau memang gak update ya. Beneran Mutia kok sekarang agak kecilan, glowing dan … auranya beda yaah.” Celetuk Nabila sambil mereka menikmati sajian di atas meja bundar.
“Gak … sih. Biasa aja.” Mutia tersipu. Besar rasa kepalanya mendapat pujian dari istri Berto itu.
“Kita emang lama ga ketemu deh kayaknya. Beneran tambah keren.” Vena menambahkan. Dan saat itu mereka masih lengkap dengan personil 6 orang di lingkaran meja yang sama.
“Pras … kamu tau ga? Wanita kalo udah ngomong gitu. Artinya sedang kasih kode ke bapak-bapak untuk ngegas lagi buat istrinya ke gitu juga.” Kekeh Berto paham. Jika sang istri pasti akan kepo dengan rangkaian perawatan yang Mutia jalani.
“Gimana …?” sesingkat itu Pras merespon.
“Suami aku ini, satu strip di bawah paranormal. Dia maha tau. Aku muji Mutia gitu tadi aja, dia uda langsung tau kalo aku penasaran di mana Mutia nge- bentuk badan jadi seindah sekarang.” Nabila menempelkan bibirnya sebentar ke pipi suaminya yang super pengertian. Nabila dan Berto memang selalu manis dan over romantis, sejak dulu.
“Oh …” Pras hanya membulatkan mulutnya, sambil meliruk ke arah Mutia.
“Ga hanya bentuk badannya, dandanan juga. Efek jadi istri CEO nih kayaknya. Jadi tambah kereen banget.” Vena ikut memuji. Tentu saja malam ini penampilan Mutia berbeda. Bukan karena modal yang di gelontorkan sang suami, tetapi karena ada mentor yang memberinya arahan penampilannya juga membuat batinnya bahagia.
__ADS_1
“Heeem … coba spill tempat make overnya deh.” Pancing Berto menyenggol istrinya.
“Hah … di mana?” Nabila menoleh ke arah Mutia duduk. Mutia hanya tertunduk, agak malu dia mempromosikan salon miliknya.
“Kalian perlu tau, jika sekarang si ‘batu’ ini diam-diam sudah romantis pada Mutiara.” Kekeh Berto. Sehingga terpaksa Mutia memberikan keterangan seputar Salon Kecantikan yang ia miliki dan kelola. Membuat suasana obrolan malam itu semakin ramai.
[Penampilan tante Imut ku sayang malam ini sangat sempurna] Mutia merasa tas tangannya bergetar, eh bukan tasnya. Tapi ponsel dalam tas kecilnya. Mutia buru-buru membuka dan membaca isi chat dari si ketceh. Dengan melipat bibirnya, ia berusaha menyembunyikan rona senang atas pujian receh si tengil.
[Siapa dulu yang pilih gaunnya?] balas Mutia cepat.
[Maaf ya sayang. Baru bisa pilihkan, belum bisa belikan buat si kesayangan] ketik Dirga lagi pada benda pipih di tangannya.
[Bukan hanya gaunnya yang cocok dengan sayangku. Tapi dandanannya bikin sayangku tampil memukau malam ini.] Ketik Dirga lagi.
[Huuuh … kayak liat aja🙄.] Mutia sebenarnya kecewa, saat ia merasa sempurna dengan penampilannya malam ini, tapi hanya di lihat oleh Pras yang datar. Tentu saja ia sempat berandai-andai jika tampilannya akan di lihat oleh Dirga. Sebab saat di butik tadi, kekasih beda usianya itu hanya melihat gaun itu terbaut di tubuhnya tanpa make up dan hair do yang maksimal.
[Ke toilet deh sekarang] Reflek kepala Mutia terangkat. Ia terperanggah, seketika terkejut dengan kalimat yangia baca. Berharap si ketceh tidak bercanda, jika yang ia baca barusan adalah kalimat perintah agar ia berjalan menuju kamar kecil.
Cinta sebr3ngsek itu menyerang otak Mutia. Tanpa menunda waktu, ia segera pamit untuk ke kamar kecil pada ballrom hotel tersebut. Berjalan pelan dengan suasana hati dag dig dug ser, Berharap sang kekasih tidak sedang bercanda padanya. Ia tak hanya ingin di lihat oleh Dirga, tapi juga mendadak rindu ingin bertemu dengan pemuda tanggung yang baru beberapa jam tidak aia lihat dengan bola matanya secara langsung.
Set …
__ADS_1
Tangan Mutia di tarik seseorang saat ia belum sampai benar ke kamar kecil, Mutia masih celingukan memastikan di mana toilet yang akan ia tuju. Tapi tarikan tadi cukup keras dan cepat, membuatnya terbelalak saat menoleh ke arah tangan yang menariknya tadi.
Dirga
Itu Dirga kekasih hatinya. Si ketceh itu sudah membuat arahnya tidak lagi tertuju pada toilet. Tapi mereka kini sudah ke arah lift. Tidak tau kemana arah dan tujuan lift itu membawa mereka. Yang pasti kini Dirga sudah memeluk tubuh Mutia dengan erat. Berkali kali menempelkan pipinya pada pipi Mutia.
Berkali-kali. Tidak hanya sekali.
“Dirga …!” Mutia kalang kabut di buatnya. Ingin berontak tapi gerkaan ciuman bertubi-tubi itu terlampau cepat. Sampai Lift itu berhenti sebab akan terbuka.
Dirga sudah hafal seluk beluk ballroom tersebut. Dan kini Rooftop adalah tempat mereka berdua berdiri.
“Kamu kenapa siih … ciumnya gitu banget.” Agak kesal Mutia mendapat cipika cipiki si tengil ini.
“Dirga ga suka … pipi tante di cium pria lain. Kecuali Om Pras.” Oh sejelous itu si tengil.
“Kamu norak banget sih Ga. Itu tuh biasa aja.” Elak Mutia merasa jika ada atmosfir cemburu pada ungkapan kekasih beda usianya tersebut.
“Tante ga mikir gimana perasaan Om Pras saat liat pipi tante bersentuhan dengan pipi pria lain selain dia?” hah … perasaan Pras gimana? Lalu apa Dirga bisa mikir gimana perasaan Pras jika tau bibir Mutia juga sudah ia anu-anu kan.
Bersambung …
__ADS_1