PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 87 : LARSIH OVERTHINGKING


__ADS_3

Senyum sumringah terpancar dari wajah tua Larsih. Saat dinyatakan boleh pulang di jam 2 siang itu. Dan sesuai anjuran dokter, ia masih harus melakukan kontrol dua pekan kemudian. Semua memintanya untuk tidak Kembali ke desa terlebih dahulu.


Pras tentu menawarkan Larsih untuk tinggal dirumahnya saja. Sontak Dirga keberatan. Sebab jika sang ibu tinggal disana, ia semakin merasa berhutang banyak pada Pras. Sehingga kini Larsih pun tinggal sementara di kost Dirga.


Setelah bu Larsih telah berada di kost Dirga. Suasana tentu berbeda. Hidup Dirga serasa baru. Tak lagi bisa sebebas sewaktu masih sendiri. Walaupun Dirga bukan tipe anak pemalas, keadaan kostnya tak kalah rapi dengan kost milik remaja putri. Tetapi, tetap saja ibu Dirga memiliki celah untuk ngomel pada putra sulungnya tersebut.


“Ibu … sudahlah. Kost ku ini sudah lama tidak aku hinggapi. Jadi wajar saja berantakan seperti ini.” Ujar Dirga membela diri.


“Ya walau di tinggal lama, kalo ninggalinnya dalam keadaan rapi. Ya pasti tidak begini berantakan.” Lanjut Larsih yang hobbynya sama dengan kebanyakan kaum emak pada umumnya.


“Ibu … jangan banyak ngomel. Yang kemarin di pasang itu cuma cincin kecil lho. Bukan jantung baru. Nanti kumat lagi penyakit ibu.” Ujar Dirga mengingatkan.


“Kamu mendoakan ibu sakit lagi, dasar anak durhaka ..!!!” sengit ibu Dirga tersinggung.


“Hallaah susah ngomong sama ibu, Orang mengingatkan, malah di kira mendoakan. Pamit, Dirga mau keluar dulu. Sumpek.” Lelah Dirga harus berada di kost dengan ibunya yang super bawel, menurutnya.


“Kamu ada uang tidak, beli beras, sayur dan ikan. Ibu mau masak.” Larsih tidak perduli pada Dirga yang mengingatkan akan penyakitnya tadi. Baginya berbenah dan memasak adalah kewajibanya.


“Iya, nanti Dirga beli. Dirga pergi bu.” Tetap saja Dirga pamit baik baik dan menyalimi tanga ibunya tersebut. Kemudian pergi, meninggalkan ibunya sendiri di kost.


“Wooy … tok tok tok . Akhirnya kebuka juga ini pintu kost. Kemana aje lu” Suara cewek agak keras berasal dari pintu kost Dirga.


Larsih yang baru saja duduk di lantai ruang depan kost itu pun bingung, Apakah gerangan maksud cewek itu bicara dan dengan siapa.


“Ups … maaf buk. Ini masih kostnya Dirga?” tanyanya sempat mundur selangkah, Ketika kepalanya masuk dan terlihat ibu Dirga di dalam sana.


“Oh … iya. Saya ibunya. Ada apa ya mbak?” Larsih berdiri, setelah menemukan kepastian jika cewek tadi sungguh sedang bicara dengan penghuni kamar kost itu.

__ADS_1


“Wah … akhirnya ketemu Camer. Perkenalkan buk, saya Inge. Pacarnya Dirga.” Maklumlah, Inge kan cewek gila yang selalu mengaku sebagai pacar Dirga. Tak perduli tentang perasaan Aline yang patah hati menanti balasan Dirga, terlebih Mutia yang walau di sukai Dirga namun sudah berstatus istri orang. Inge tak pernah kenal dengan kata menyerah.


“Pacar …? Jadi kamu kekasih putra saya?" tanya Larsih memastikan, juga akhirnya merasa lega. Bahwa benar yang Dirga katakan, jika Mutia bukan kekasihnya. Artinya anaknya tidak bohong. Memang hanya dia saja yang salah sangka dan menuduh Dirga bermain gila pada istri sahabatnya,


“Iya buk. Tapi mungkin Dirga tak pernah cerita sama ibu soal aku.” Ujar Inge lancer jaya, menyampaikan cerita halunya. Inge yang memang selalu punya seribu macam ide dikepalanya. Langsung akrab dengan ibu Dirga yang tidak tau jika kini ia sedang bicara dengan cewek halu spek dewa.


Inge kaya, tentu kemana-mana dengan mobil. Ia bahkan kini sudah berada di sebuah swalayan bersama ibu Dirga, untuk berbelanja keperluan untuk bu Larsih mengisi dapur Dirga. Keduanya Bagai ibu dan anak remaja putri yang sangat cocok dalam hal berbelanja.


“Inge … maaf ibu merepotkan.” Sungkan Larsih pada Inge, sebab cewek itu yang berdiri di paling depan saat akan membayar belanjaan mereka.


“Ah … ibu. Biasa saja. Aku dan Dirga sering kok belanja begini berdua.” Haluk kan, halu banget.


“Oh begitu.” Larsih mengerut keningnya. Jika anaknya sering berbelanja Bersama, lalu apakah masak dan makan Bersama dan apakah kemudian mereka juga pernah tidur Bersama. Larsih Overthingking.


“Maaf nak Inge. Apakah hubungan kalian sudah sangat jauh. Sampai kalian pergi belanja pun kadang berdua?” dengan pelan larsih bertanya pada Inge saat kendaraan roda empat itu membawa mereka pulang ke kost.


“Iya ..., begitu maksud ibu.” Jawab larsih cepat,


“Tenang buk. Dirga bukan tipe lelaki kurang ajar. Hubungan kami aman kok. Kalo cium-ciuman sih pernah. Tapi kalo lebih sih… Dirga anaknya sopan buk.” Iya, Dirga sih sopan, bukannya Inge kan yang suka nyosor Dirga.


“Syukurlah. Apakah hubungan kalian sudah di ketahui keluarga mu?” tanya Bu Larsih lagi.


“Bahkan sejak pertemuan pertama kami, aku sudah langsung memperkenalkannya pada seluruh keluarga ku buk.” Jawabnya antusias.


“Artinay kamu serius dengan anak ibu?”


“Bisa dikatakan begitu bu. Aku sangat mencintai anak ibu.” Jawabnya tegas dan lugas.

__ADS_1


Ibu Dirga membuang nafas dengan kasar. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa anaknya di cintai wanita ini. Yang bahkan sudah memperkenalkannya pada keluarga, tetapi Dirga tak pernah membicarakan apa-apa dengannya. Belum lagi anaknya yang hanya anak kuliahan semester akhir. Bagaimana jika cewek ini minta kawin. Uang dari mana, mobilnmya saja mewah gini. Pikir ibu Dirga.


“Inge …!!!” Inge dan Bu Larsih belum sampai di depan kost. Tapi hardikan Dirga sudah menguar saja.


"Sayangkuu ...." Bukannya takut, cewek gila itu malah berlari mendekati Dirga dan menempelkan bibirnya di pipi kiri Dirga.


Spontan bu Larsih buang muka, tak mau melihat keagresifan cewek yang mengaku pacar Dirga tadi.


"Iih. Habis dari mana?" Dirga membuat jarak dengan Inge.


"Belanja keperluan dapur sama camer donk." Ucapnya centil.


"Camer camer, kepalamu." Dirga menoyor dahi Inge tanpa ragu.


"Aduuuh." Ucap Inge manja.


"Dir, jangan begitu." Ujar bu Larsih kasihan melihat perlakuan Dirga pada cewek yang sudah begitu baik padanya tadi.


"Gak apa-apa buk. Bahasa cintanya Dirga ke aku memang gitu." Inge dasarnya memang cuek. Walau Dirga kasar padanya. Dia tetap getol mendekati Dirga.


"Bahasa cinta gilamu itu. Sana... Pulang dan jangan kembali. Nanti ku transfer semua uang yang kamu keluarkan untuk belanja kalian tadi. Ayok bu, masuk." Perintah Dirga pada ibunya dengan nada tidak pelan.


"Tapi ... Tadi ibu janji mau masak dulu. Buat aku. Ya kan buk ...?" Inge butuh pembelaan dari ibu Dirga. Agar tidak di usir oleh Dirga.


Tapi Dirga tetaplah Dirga yang keras hati. Belakang kerah baju Inge di tariknya kebelakang. Saat cewek itu ingin ikut masuk, mengekor langkah ibu Dirga.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2