PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 55 : DI PERSIMPANGAN


__ADS_3

Sikap pendiam memang bukan hal aneh. Juga bukan sesuatu yang menyimpang. Namun, bukan berarti semua orang dapat menerima dan bisa memaklumi akan hal tersebut. Apalagi mereka yang berhubungan langsung dengan orang orang tipe ini.


Mutia termasuk wanita kuat dalam hal mendampingi Pras kurang lebih dalam 17 tahun. Rentang waktu yang lumayan lama. Wajar saja jika kesabaran Mutia tengah goyah sekarang. Sebab kesabaran tentu ada batasnya.


Kamu tau itu sikapku, bukan baru kemarin.” Ucap Pras sebelum Mutia benar-benar pergi meninggalkannya di ruangan gym di rumah mereka tersebut.


Pras mengucapkan itu dengan pelan hampir tanpa beban. Jelas tersirat dalam kalimat tersebut, jika ia selalu ingin di mengerti. Tanpa perduli apakah lawan bicaranya yakni istri sendiri pun ingin di pahami dengan adil.


“Radit … ujian akhir semesternya sudah selesai. Kalian punya kegiatan apa selama libur?” Mutia ikut meninggalkan kamar tempat alat Gym tadi di tata, lalu berjalan menemui putra sulungnya di kamar.


“Gak ada sih mah. Kira-kira kita ada rencana jalan-jalan atau liburan gak?” Radit balik bertanya pada sang mama yang memang selalu nyaman untuk di ajak diskusi, tidak seperti sang papa yang hanya diam seribu bahasa.


“Kalo jalan-jalan sih … mama sekarang gak punya waktu banyak. Karena ada Salon yang menjadi tanggung jawab Mama. Tapi kalau kalian mau liburan, mungkin kerumah nenek bisa sih, mau gak?” Tawar Mutia tiba-tiba. Sesungguhnya Mutia juga masih merasa tak enak pada dua anaknya perihal mendadak ke Bali kemarin. Sehingga ia paham perasaan kedua buah hatinya dan berjanji pada diri sendiri akan menukar liburannya bersama Pras kemarin dengan waktu bersama Raisa dan Radit di liburan semester kali ini.


“Beneran …. Kami boleh liburan di tempat nenek. Yang lama ya maah?” Radit antusias. Hubungan anak-anak Mutia dengan para sepupu dari pihaknya memang akrab, melalui sambungan telepon. Tentu saja libur sekolah adalah waktu yang mereka tunggu untuk saling jumpa yang bermuara di rumah nenek mereka.


“Oke … besok kita berangkat.” Putus Mutia sendiri. Dan kali ini tanpa meminta ijin dan persetujuan Pras. Bukankah ia pun kini telah punya penghasilan sendiri dari Salonnya. Sehingga kemungkinan untuk tergantung dengan uang suami tentu tidak lagi jadi masalahnya. Selanjutnya kamar Raisa adalah tujuannya. Memberikan informasi pada putri centilnya, juga membantu Raisa menyiapkan apa saja yang akan mereka bawa esok hari untuk pergi berlibur kerumah sang bunda.


Di sisi lain, Mutia pun merasa perlu untuk memenangkan pikirannya.


Rumah tangga yang memang terlihat tenang dan baik-baik saja, namun hanya Mutia yang tau betapa besar gelombang di dalamnya. Karena kedataran sikap Pras juga atas dahsyatnya perhatian Dirga, meski dari jauh. Hanya Mutia yang tau, betapa oleng rasa hatinya sekarang. Sebagian hatinya yang sekarang selalu menyalah-nyalahkan Pras dan ingin melihat sisi tak baik dari suaminya, lalu membandingkannya dengan brondong yang baru kemarin ia kenal. Dan Mutia kini tidak sedang pergi kemana-mana. Ia hanya masih berdiri di persimpangan, untuk memilih arah mana yang akan ia tempuh.


“Anak-anak bilang, besok mereka akan berlibur ke Bunda dengan mu.” Pras membaurkan dirinya ke atas tempat tidur yang sudah terlebih dahulu Mutia tempati, dengan tangan yang masih terlihat sibuk mengetik pada papan pipih di tangannya.

__ADS_1


[Ayang besok cuma sama Radit dan Raisa perginya?] tentu saja yang sedang di ajak Mutia berkomunikasi itu adalah Dirga, hanya tubuhnya yang tak di sisi. Namun seluruh kegiatan Mutia. Hampir 100 persen di laporkan terperinci untuk sang kekasih hati. Sampai suara Pras di abaikan oleh Mutia.


[Iya … mungkin] balas Mutia tidak panjang.


[Om Pras gak ikut?]


[Kan dia kerja]


[Iya sih. Tante berapa lama di sana?]


[Mungkin satu pekan. Sampai liburan sekolah selesai] jawab Mutia lagi.


[gak kelamaan ninggalin Salon, yank?]


[Bukan bete di situ, bilang aja bete karena rindu sama aku.] Percaya diri banget siih.


[🙄] Mutia hanya mengirimkan emot pura-pura bingung untuk kekasih beda usianya tersebut.


[Yank …. Kangen] isi chat Dirga yang akhirnya Mutia biarkan bergantung tanpa ia balas karena ponselnya sudah di ambil oleh Pras. Kemudian di letakkan di samping kepala Mutia tanpa ia baca.


“Berapa lama kalian di tempat Bunda?” ulangnya pada Mutia, rupanya dia sejak tadi menunggu tanggapan istrinya.


“Gak tau.” Mutia sudah tujuh belas tahun hidup bersama pria dingin, maka sedikit banyak ia sudah terlatih berprilaku seperti demikian.

__ADS_1


“Besok aku ikut mengantar.” Bingung gak …? Itu kalimat tanya atau sebuah pernyataan? Jadi Mutia hanya diam saja.


Dret … dret … dret. Ponsel di dekat kepala Mutia bergetar dan menyala. Pras ikut melihat panggilan itu, tertera nama Gaia di sana yang sedang melakukan panggilan suara. Mutia jelas panik, tapi ia sudah mulai pro dalam hal berakting. Membiarkan panggilan suara itu terus memanggilnya, tanpa ia berminat untuk menerima dengan cepat. Padahal hatinya jelas ketar-ketir ingin segera mendengar suara sang kekasih.


“Angakt saja dulu, mungkin penting.” Ujar Pras yang memilih kembali meratakan tulang belakangnya di atas kasir empuk, setelah tadi sempat memiringkan tubuhnya ingin memeluk Mutia.


“Hallo Ga.” sapa Mutia tegas.


“Kenapa lama gak bales sih, kangen ngerti gak?” Si Brondong mana peduli di sana ada Pras atau tidak. Baginya kabar Mutia adalah nomor satu, apalagi sebelumnya mereka sedang chatting, lalu di diemin tanpa balasan. Menurut Dirga itu pelanggran.


“Urusannya besok saja Ga. Saya mau istrirahat.” Jawab Mutia dengan nada tegas juga nyaring. Dan taulah Dirga, alasan Mutia tidak membalas chatnya lagi. Bagaimanapun, Dirga sangat paham akan posisinya. Bukankah ia hanya pernah minta bagian kecil dalam hati seorang Mutia. Ia tau kehadirannya merusak tatanan yang sesuai norma. Dialah parasit yang sesungguhnya. Ia meski pandai menempatkan diri agar tetap dapat menjaga kebahagiaan versinya.


Mutia mengakhiri panggilan suara tersebut, lalu memunggungi suaminya. Sejak di ruang Gym tadi. Mutia sudah mulai menyatakan perangnya pada sang suami. Mengajak anak-anaknya liburan di rumah bundanya merupakan aksi minggat yang terstruktur walau tiba-tiba. Setidaknya ia bisa berpikr dengan tenang, namun tetap tidak menelantarkan buah hatinya. Dan urusan Salon, baginya tidak penting. Tidak serius menghasilkan uang dari sana pun, ia masih punya banyak simpanan uang yang selama ini ia kelola dari Pras yang memang tidak pernah pelit dalam hal memberinya nafkah. Namun bukan uang yang menjadi prioritas Mutia.


[Ada Om Pras, Ga. Tante juga kangen kamu.] Ketik Mutia cepat. Mutia tak mau Dirga salah paham. Baginya saat Pras sudah berkali-kali membuat hatinya kecewa, setidaknya masih ada hati Dirga yang masih harus dia jaga untuk terus bahagia olehnya.


[Iya sayank … ku paham kok. Dari nada suara ayang aja, ku dah paham kalo tante lagi sama Om. Udah malam juga, pasti tante denag ingin melayani suami kan? Maaf menggangu😔]


Maaf mengganggu.


Hah … Kenapa hati Mutia terasa pilu saat membaca dua kata itu. Seolah anak itu sedang memposisikan dirinya sebagai penganggu, padahal dialah satu satunya orang yang kini membuat Mutia rindu.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2