PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 80 : PERTANYAN LARSIH


__ADS_3

Sekalinya br3ngsek ya, br3ngsek aja, ya kan. Walaupun Mutia sudah bilang kalo mereka putus. Dirga sudah kayak gak punya telinga aja. Gak mau denger. Udah kayak gak punya otak buat mikir, kalo si tante udah minta dengan baik-baik untuk menyudahi hubungan terlarang mereka.


Iya sih, Mutia bilang juga cuma pake mulut. Gak pake hati. Bagaimanapun dia pernah oleng, dunianya sempet geser mengarah pada Dirga, si brondong penuh pesona itu. Jadi, setelah lumayan lama tidak berjumpa, bahkan di kasih bonus dada n perut sixpack. Mutia ketar ketir lah yaa.


"Kamu atau om yang ke ruang dokter?" Kalimat pertanyaan sekaligus perintah nih. Pras memang setegas itu. Walau pelit bicara, sekali buka mulut isinya berfaedah semua. Makanya denger dia ngomong udah kayak baca makalah ilmiah saja. Tidak mengandung SARA apalagi Comedy. Mo' gimana? Orangnya emang gitu.


"Oh, iya. Om biar Dirga aja. Permisi." Pamit Dirga sopan yang menyempatkan menoleh dan mengedipkan mata pada Mutia yang memang sedang memandangnya berjalan.


Wuuusssh... Ada korsleting lokal terjadi pada organ dalam Mutia.


"Ya Tuhan kuatkan aku. Aku ingin aniv Perak bahkan Emas bersama Mas Pras, Tuhaaaan" seru Mutia meminta pada penciptanya. Sambil secepatnya membuang muka, tak mau melihat senyuman tampan Dirga.


"Gak bisa. Aku gak bisa lama-lama di sini. Besok-besok bisa aku yang jadi pasien, di Rumah Sakit ini. Ngidap penyakit jantung atau susah nafas. Dirga memang bikin aku gak normal." Sungutnya lagi dalam hati.


[Sayang gak mau temenin aku ketemu dokternya? Kalo dia cantik gimana yank] Isi chat Dirga pada Mutia selagi di jalan menuju ruang dokter.


[Bodo ... !!! Kamu lupa, tante udah bilang kita putus.] Balas Mutia yang sejak tadi hanya diam memainkan ponselnya. Sementara Pras melanjutkan obrolannya dengan ibu Dirga. Nostalgia tepatnya. Dan menurut Mutia, Pras sedikit berbeda saat berinteraksi dengan Larsih.


Saat bicara dengan wanita yang katanya teman sejak SMP itu, Pras banyak bicara, juga tertawa. Sangat berbeda saat bicara dengannya. Apa benar tebakan Dirga, jika antara ibunya dan Pras pernah ada jalinan khusus?


Irama jantung Mutia berdetak tak beraturan. Antara belum bisa move on dari Dirga, sekarang merambah resah pada hubungan Pras di masa lalu.


Para readers sih, berharap bu Larsih ini emang mantannya Pras. Kapan perlu balikan. Biar Mutia kena karma atas perselingkuhannya pada si Brondy, ya kaaan. Gak, si otor gak setega itu sama Mutia🤭


[Ayank ... Bisa kesini gak? Penyakit ibu serius, yank.] Isi chat Dirga 20 menit kemudian.

__ADS_1


Reflek Mutia berdiri, ingin berlari mengejar si Brondy, yang pasti sedang kaget atau resah sendiri. Dan, posisi mendadak berdirinya Mutia membuat Pras juga Larsih cukup kaget.


"Ada apa mama Ra-Ra ...?" Tanya Pras cepat.


"Eh ... hem. Mas, susul Dirga ke ruang dokter gih. Lumayan lama dia di sana." Terpaksa Mutia cepat beralasan. Sebab tak mungkin dia jujur, kalau Dirga memintanya menyusul.


"Mama Ra-Ra saja yang menyusul Dirga, mungkin ada hal penting yang ingin dokter sampaikan." Sepertinya Pras menolak untuk menyusul Dirga.


Mestinya Mutia senang, mendapat kesempatan bisa berdua saja dengan Dirga.


Tetapi, mengapa hatinya lebih curiga jika Pras dan Larsih berduaan di ruang rawat itu, akan lebih menyeramkan, dan membuka kesempatan untuk teman lama itu ngapa-ngapain.


"Mas saja ..." Ucapnya menolak.


"Lar, ku susul Dirga dulu ya." Pamit Pras pada Larsih sambil menepuk bahu Mutia, pertanda ia pun mohon pamit pada istrinya.


"Duduk di sini saja mbak Mutia." Pinta ibu Dirga pada Mutia, sebab istri temannya itu terlihat akan kembali ke tempat duduk semuala. Saat ia dan Pras asyik bicara.


"Oh, iya mbak." Jawab Mutia agak kikuk, saat hanya berdua saja dengan Mutia.


"Maaf ... Apa saya salah mengartikan ya? Apa hubungan mbak Mutia dengan putra saya Dirga?" Entah dapat kekuatan dari mana, Larsih memberanikan diri untuk menanyakan langsung pada Mutia. Tentang hubungan mereka. Sebab Larsih memang sangat jelas melihat Dirga memeluk istri sahabatnya tersebut.


"Gimana ...?" Mutia duduk di kursi sebelah ranjang pasien, tapi berasa dia yang kena penyakit akut.


"Maaf, saya melihat Dirga memeluk mbak kemarin. Maaf, maafkan putra saya. Saya yang salah, tidak pandai mendidik anak laki-laki saya. Sehingga berbuat tak sopan pada mbak Mutia." Jantung Mutia porak poranda. Malu, bercampur pilu. Saat tau, ternyata mereka kepergok ibu Dirga yang bahkan sahabat suaminya. Bagaimana ini? Apa Mutia jujur saja pada Larsih, tapi bagaimana jika Larsih kemudian menyampaikan pada Pras. Mutia di buat gagu oleh pertanyaan Larsih. Dan, langkah terbaik ialah menyusun cerita fiksi yang masuk akal. Untuk menyelamatkan namanya juga Dirga.

__ADS_1


"Tidak ada hubungan apapun, antara Dirga putra Mbak Larsih dan saya. Kami hanya tidak sengaja di pertemukan. Saat merayakan aniv ke 17 bersama Mas Pras. Dirga kerja sampingan, di sebuah EO yang saat itu, memang dia yang bertanggung jawab dengan pesta kami. Saya tidak mengerti alasan mbak curiga pada kami berdua." Mutia tidak bohong sepenuhnya, sebab memang begitulah kenyataannya.


"Tetapi mengapa kalian berpelukan?" Cecar ibu Dirga.


"Mungkin dia masih terkejut akan kabar mbak yang tiba-tiba sakit. Dan terharu, karena mas Pras memaksa untuk mengantarnya ke sini." Mutia sudah mulai juara mengarang bebas. Pelajaran Bahasa Indonesia dengan tema Prosa baru sepertinya sudah sangat mahir menyerap ilmu ini.


"Ya ... Semoga saja benar hanya begitu. Saya hanya takut jika Dirga bertingkah tak senonoh pada mbak. Apalagi, mbak istri Pras. Suami mbak orang baik. Saya kenal dengannya dan keluarganya sejak lama. Jadi, besar harapan saya, Pras hidup berbahagia selamanya." Harap Larsih memandang langit kamar.


"Saya tidak tau, apa yang ada dalam pikiran mbak terhadap Dirga dan saya. Tetapi yang pasti. Saya hanya meminta mbak percaya, jika saya dan mas Pras sudah menganggap Dirga seperti keponakan sendiri." Mutia semakin pandai meyakinkan ibu mantan kekasihnya.


Sementara di ruangan dokter. Pras dan Dirga sedang serius menelaah penjelasan dokter akan penyakit yang di derita oleh Larsih.


"Jadi bagaimana dokter?" tanya Pras minta pengulangan.


"Ya, begitulah. Cepat atau lambat ring itu sifatnya wajib di pasang untuk keberlangsungan hidup pasien." Jawab dokter menanggapi pertanyaan Pras.


"Boleh ... , Kami melakukan penasangan ring tidak di rumah sakit ini?" tanya Pras pada dokter tadi.


"Silahkan pak. Bisa kami buat surat rujukan ke rumah sakit tujuan." Ramah dokter itu menjawab.


"Siap, terima kasih dokter." Jawab Pras berdiri dan berjabat tangan pada dokter itu.


"Om serius mau memindahkan ibu ke kota kita?"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2