
Mutia buru-buru ke toilet, sebab sejak tadi hatinya agak kacau. Ingin sejenak menenangkan dirinya. Karena bertemu Dino adalah sesuatu yang sangat mengejutkan Baginya. Di tambah lagi, ada chat yang harus ia baca sendiri. Yang tidak bisa ia baca di sebelah Pras. Sebab bisa saja, Pras akan melihat isi chat tersebut. Atau ia nantinya akan lebih terlihat asyik dengan obrolan via chat itu ketimbang ikut berhaha hihi dengan teman lainnya.
Setelah merasa sudah agak tenang, dan chatnya dengan Dirga pun sudah terjadi seperti untaian pantun yang saling berbalasan. Mutia pun keluar dengan suasana hati yang semakin ceria. Karena Dirga tak pernag gagal untuk selalu menjadi moodbosternya dalam bersikap. Dan tanpa di duga. Dino sang mantan sudah sejak tadi berdiri di dekat pintu keluar. Sehingga saat Mutia keluar, tangannya pun segera menyergap mantan kekasihnya tersebut.
Memang sedikit memaksa, dan Mutia terlihat ingin menghindari Dino. Hanya ponselnya sudah berhasil di rebut oleh pria yang pernah menempati tempat teristimewa dalam hatinya, di masalalu. Dino tidak langsung menyerahkan ponsel itu pada Mutia, melainkan mencermati wajah si penelpon dengan seksama yang tentu lama. Sambil melihat wajah Mutia dengan tangan yang sudah terlihat ingin mengapai gawai miliknya tersebut.
“Tan … te.” Dirga kembali menyambungkan panggilan Video Call ke ponsel milik Mutia. Walau sudah berusaha, tapi Mutia tetap tidak berhasil mendapatkan ponselnya. Bahkan kini, Dino sudah menyentuh bagian bulat warna biru di tengah layar pipih tersebut. Sontak, wajah Dirga kini bagai bercermin dengan wajah Dino dalam satu ponsel.
Dirga bingung dan agak terbata, saat ingin menyapa sang tante kesayangan. Saat bukan kekasihnya yang menerima vicallnya. Melainkan seorang pria yang tidak di kenalnya, sebab Dirga sudah sangat mengenal Pras.
“Dino …!!! kesinikan ponselku.” Mutia bersuara agak nyaring. Tidak hanya Dino yang mendengarnya Tapi Dirga juga. Dan brondong itu memiliki ingatan yang masih sangat kuat. Ia sudah tau, jika pernah ada nama Dino dalam hati kekasih beda usianya tersebut. Hanya, ia belum bisa pastikan, apakah itu adalah Dino yang sama. Pria yang kini ada di depan kamera ponselnya itu, apakah juga orang yang pernah mendududki rangking teratas dalam hati Mutia.
“Kamu siapa?” tanya Dino tanpa basa-basi pada Dirga.
“Dirga matikan saja. Nanti tante telpon lagi.” Perintah Mutia pada kekasih gelapnya tersebut.
“Om siapa …?” Bukan Dirga namanya kalo tidak kalah kepo dengan pria yang baginya asing, namun namanya tidak asing tersebut.
"Dirga ...!!! Matikan." Ulang Mutia dengan suara lebih lantang, meminta Dirga menyudahi panggilannya.
“Dino sini kan, ah.” Mutia masih berusaha meraih ponselnya.
Dirga semakin yakin jika itu benar mantan Mutia. Dan memilih patuh pada perintah tantenya saja. Mematikan sambungan VC adalah pilihan Dirga. Ia tau jika kini posisi Mutia sedang tak bisa menerima panggilannya.
“Siapa tadi … Dirga? Kenapa nama kontaknya Dedeg?” telisik Dino ingin tau.
“Bukan urusan kamu Din. Sinikan ponselku,” Mutia semakin berusaha mendapatkan ponselnya. Tetapi Dino masih dengan usaha kerasnya untuk mendapatkan nomor ponsel mantan kekasihnya tersebut.
__ADS_1
“Sebutkan dulu nomormu, baru akan ku serahkan. Atau mau ambil sendiri di sini.” Pinta Dino yang malah memasukan ponsel Mutia di dalam kantong celananya. Dan itu tentu saja tidak mungkin bagi Mutia untuk mengambilnya sendiri.
Tanpa pikir panjang, Mutia memilih menyebutkan deret angka yang tentu ia hapal bahkan dari deretan angka pada kartu tanda pengenalnya. Dino tersenyum simpul setelah mendapatkan nomor ponsel Mutia, lalu melakukan panggilan. Agar ia tau jika tidak sedang di tipu oleh wanita yang pernah lama menjadi penguasa dalam hatinya.
“Kamu semakin cantik, Tiara.” Dino berucap sambil menyerahkan ponsel Mutia baik-baik. Dengan senyum menawannya, yang tak berubah sedikitpun sejak dulu, hanya memang terlihat agak tua dan terlihat dewasan. Entah dengan siapa Dino ke tempat ini. Apakah sudah beristrikah dia atau masih lajang. Mutia tak merasa penting untuk tau tentang Dino sekarang. Rupanya Mutia sungguh sudah move on dari Dino.
“Mama Ra-Ra, kita istirahat di kamar dulu.” Ada suara Pras di belakang Mutia. Entah sejak kapan suami Mutia itu di dekat mereka. Dan Mutia tak mau menebak, apakah Pras melihat semua kejadian yang Dino dan Mutia sejak tadi lakukan, yaitu aksi rebut-rebutan ponsel. Juga saat Ponsel Mutia menerima panggilan dari si brondong.
“Oh iya mas. Mari … saya dan suami permisi dulu.” Pamit Mutia dengan bahasa formal pada Dino, seraya menggandeng tangan Pras. Agar Dino tau, mereka adalah pasangan teruwu. Tanpa berminat mengenalkan Dino pada suaminya. Gak penting menurut Mutia.
Seperti biasa. Pras tidak pernah mau ikut campur dengan urusan yang bukan urusannya. Walaupun manik matanya sangat jelas melihat jika pria tadi baru saja menyerahkan sebuah ponsel dari dalam kantong celananya pada Mutia. Tapi Pras memilih diam saja.
[Yang angkat VC Dedeg tadi siapa?] Dirga dong yang lebih kepo dari Pras.
[Dino]
[Kebetulan lagi dia pegang.]
[Kenapa sama dia? Om Pras aja gak pernah pegang ponsel tante. Dia siapa?] ya gitulah pacaran sama bocah. Rasa ingin taunya lebih besar ketimbang pria dewasa, bahkan suami sendiri. Dan bod0hnya. Mutia merasa senang di interogasi oleh brondongnya.
[Dino]
[Dinosaurus]
[Dino aja]
[Dino Pithecanthropus erectus?]
__ADS_1
[Gimana …?]
[Sesuatu yang pernah muncul di bumi satu juta tahun yang lalu?]
[Apaan sih Ga?]
[Dino … mantan tante?] tebak Dirga penuh keyakinan.
[Iya] balas Mutia singkat.
[Kok bisa bareng di situ. Bukannya tante sama Om Pras ke Balinya. Tante mau CLBK sama dia?] Huh … pertanyaan itu segera melesat dengan bertubi-tubi. Bahkan tak puas, membuat Dirga segera melakukan panggilan VC lagi pada Mutia.
Mutia segera menyentuh tanda silang pada pinselnya. Tak mau menerima panggilan itu. Sebab kini ia sudah bersama Pras dalam kamar. Bahkan sejak tadi, Pras sedang berusaha beristirahat. Dan ia hanya sibuk mengetik pada poselnya.
[Kenapa ga di angkat, tante lagi di mana?]
[Kamar.]
[Sama mantan tante itu?] Serbu Dirga penuh curiga.
[Ngawur] Dirga tak percaya dan kemudian melakukan panggilan lagi.
Mutia mengecilkan volume pada ponselnya, lalu menerima panggilan tersebut. Dan sudah mematutkan kamera pada Pras yang ada di sebelahnya dengan posisi kamera terbalik tentunya, agar Pras tidak melihat jika kini ia sedang bervicall dengan seseorang.
Dirga mematikan sendiri sambungan itu. Setelah yakin. Jika kini kekasihnya sedang bersama suami. Itulah resiko menjadi yang kedua. Harus pandai menggunakan sisa waktu kekasih bersama yang utama. Entah apa yang di pikirkan Dirga saat melihat Mutia kini sedang berduaan dengan suaminya di atas tempat tidur yang sama. Cemburukah, atau senangkah. Yang pasti ia sedang merasa aman, paling tidak. Kekasihnya tidak sedang bersama mantannya.
“Lelaki yang tadi menyerahkan ponselmu dari kantongnya, siapa?”
__ADS_1
Bersambung …