
Mutia hanyalah manusia biasa. Yang secara tak sadar masuk dalam masa pubertas, sedang berada dalam masa titik jenuh yang sesungguhnya tak terniat untuk dilakukan. Merasa jika selama pernikahannya jarang menerima kebahagiaan versi dia sendiri, dan tiba-tiba dijumpakan pada sosok pemuda tanggung yang datang dengan sejuta pesona. Bahkan perhatian, pengertian, manja juga posesif. Semua yang Dirga kemas untuknya tak pernah ia dapatkan dari sang suami. Kecuali materi. Sebab, walau tidak melimpah. Mutia sangat tercukupi untuk hal itu dari sang suami.
Mutia tau, hubungannya dengan Dirga itu salah. Bahkan sudah masuk dalam kategori tercemar dan tercela. Tetapi ia sedang berada dalam mode kasamaran. Tertawan hati, tertancap panah asmara. Separuh hatinya sudah di kuasai bahkan mulai terkepung. Sehingga walau ada jalan pulang, hati Mutia sendiri yang masih betah untuk berleha-leha dalam kesesatan itu.
[Ya … kalo gak bisa jadi ibuku, setidaknya masih bisa jadi ibu dari anakku lah yank.] Isi chat Dirga kali ini mengandung kadar kegilaan maksimal. Mutia ternga-nga. Membuatnya terbelalak dan segera melakukan panggilan suara.
“Ayaaaank ….” Br3ngsek terdengar panggilan sayang nan manja menyambut panggilan suara di ujung gawai yang Mutia pegang.
“Becandanya gak gitu juga NgiiiiL.” Sengit Mutia dengan suara agak geram namun tertahan. Mutia memilih taman belakang rumah tak jauh dari meja penyajian makanan di tempat acara pesta pertunangan Tesy anak kakak iparnya. Jika saja itu bukan tempat umum mungkin suara Mutia bisa lebih bebas berekspresi.
“Gemeesh Yank.” Kekeh Dirga masih dalam mode tertawa bahagaianya.
“Gemesh … Gemesh. Otakmu omesh” Hardik Mutia masih menahan suaranya.
“Dedeg kangen pake bingit. Sejak pulang dari pesta semalam ayank gak ada kabar. Besok udah berangkat lama lagi. Trus gimana donk cara jitu buat narik perhatian si ayank …?” entahlah Mutia seistimewa apa di mata Dirga, sampe sebucin itu sama emak beranak dua itu.
“Pake tali tambang Ga. Di iket trus di tarik.” Mutia sudah menurunkan emosinya, sadar jika lawan bicaranya memang hanya bercanda padanya.
“Masa pake tali tambang, bukan tali pernikahan tanteeee….” Canda Dirga di seberang sana.
“Mimpi kamu kejauhan, dedeeeg.” Kekeh Mutia ikut tertawa.
__ADS_1
“Biarin.” Jawab Dirga cepat.
“Ga … di sini ada Desta Lhoo. Tadi tante ketemu.”
“Oh … tante ada di acara itu. Dirga gak ambil yang itu. Kapan hari tuh di suruh milih, mau ikut ngejob yang mana. Antara yang semalam dengan yang siang ini. Karena mau santai, ku ambil yang malam aja. Eh, ternyata mau ambil yang mana juga tetap bisa ketemu dengan tante imut tersayang.” Paparnya panjang lebar.
“Mbak Widya … mamanya Tesy ini kakak Mas Pras.” Jelas Mutia tanpa di minta oleh Dirga.
“Huum … dunia memang sempit. Tante saja yang tak sadar, bahwa semesta selalu ingin membuat kita saling bertemu, kita jodohkan.” Jawab Dirga dengan senanag dan percaya diri.
“Heem …” Mutia hanya berdehem. Mengurangi obrolan yang mungkin membuat orang curiga jika ia terlalu terlihat asyik dengan lawan bicaranya lewat ponsel.
“Besok … ke kost ya. Janji ….?” Lanjut Dirga meminta kepastian.
“Wajib Yaaannk.”
“Huus …”
“Seriusan … tante pasti lebih teliti deh cek barang apa aja yang dedeg bawa.” Alasan tipis si brondong. Padahal itu pasti hanya modus. Biasalah, ingin punya waktu lama berdua-duaan dengan di tante.
“Aline pasti udah cuci semua pakianmu.” Mutia ingat, jika anak ibu kost Dirga itu adalah tukang loundry Dirga yang mungkin saja juga akan ada di kost kekasihnya. Anak ibu kost … hah. Mutia percaya begitu saja pada Dirga, padahal itu kekasih Dirga.
__ADS_1
“Ya iyalah udah. Kan kang loundry tante.”
“Yakin besok dia ga bakalan nongol lagi di kost?” pertanyaan Mutia itu hanya pancingan. Mutia perlu kepastian jika pertemuan mereka besok ga bakalan di ganggu siapapun.
“Aman … urusanku sama Aline udah selesai kok hari ini.” Entah apa arti kata aman yang Dirga maksud.
“Oke … besok tante gak ke salon. Setelah antar Raisa dan Radit. Tante langsung ke kost mu.”
“I love you … ayank.” Haduuuh … Mutia kejer kejer dengar tiga kata yang sudah langka bahkan hampir punah dari pendengarannya. Pras mana pernah obral dengan kata seperti itu,membuat Mutia menyimpulkan jika Pras tidak sungguh mencintainya. Itulah dangkalnya hati seorang Mutia, yang menuntut verbal. Padahal tingkah laku Pras sudah sangat jelas memperlakukannya bagai ratu dalam istana rumah tangga mereka. Yaaah, telaah tentang cinta itu beda versi pada tiap hati seseorang.
Panggilan suara itu terputus, setelah kesepakatan pertemuan pasangan haram itu terjadi. Dan, dengan berakhirnya obrolan itu. Tampak pula para tamu mulai berbondong akan menyerbu tempat sajian makanan di mana Mutia sejak tadi menyembunyikan dirinya melakukan obrolan bersama brondong simpanannya.
Pras tidak melihat istrinya berada di ruangan acara pertunangan di gelar, matanya tetap memastikan di mana istrinya berada. Walau dari jauh. Pras tetap melihat apa saja yang Mutia lakukan, namun tidak berpikir apapun dengan istri yang terlihat melipir di taman belakang, dalam waktu lama berurusan dengan ponselnya. Kadang terlihat merengut, kadang diam, kandang tertawa kemudian berakhir. Pras bukan cenayang, yang dapat memperkirakan dengan benar apa sesungguhnya yang istrinya urus dengan serius dengan alat komunikasi tersebut.
Ini adalah satu-satunya acara di keluarga Pras yang Mutia hadiri dengan tampilan sempurna, mulai dari gaun, dandanan hingga aksesoris yang ia gunakan. Namun tidak sesempurna jiwannya. Ya … hanya raga Mutia di sana, tapi tidak dengan hatinya. Sehingga kehadirannya di sana hanya untuk melengkapi jumlah orang-orang yang akan di foto, sebab otaknya berada di kost Dirga.
Bohong saja jika ia tak resah hanya sekedar membayangkan apa saja yang akan mereka berdua lakukan besok di kost si tengil itu. Dengan kode, Mutia pun sangat jelas meminta agar Dirga bisa mengkonsidikan kediamananya besok. Agar mereka hanya berdua saja, tanpa gangguan kedatangan Aline. Padahal ia tak sadar, dengan tidak adanya Aline besok di kost itu. Justru setanlah yang akan muncul di antara keduanya. Huh … Mutia makin tak sabar ingin waktu meloncat saja. Agar lebih cepat bertemu malam dan pagi menjelang. Agar ia segera dapat bertemu dengan si jantung hati yang baru.
Oh Tuhan, dunia sudah sangat tua untuk tempat manusia bertahan untuk terus melanjutkan hidup dan kehidupan. Dan itu terlihat dari prilaku manusia di dalamnya, yang sudah semakin absurd dalam menjalani lakonnya masing-masing.
Pagi sungguh telah datang menyapa, tidak ada drama pelukan lama di atas tempat tidur seperti kemarin. Sebab itu senin. Dimana semua orang akan memulai semua aktivitas yang lebih sibuk pasca weekend. Tak terkecuali Mutia, yang pagi ini terlihat lebih bersemangat mengurus ini dan itu sebelum bertamu ke rumah brondynya.
__ADS_1
Bersambung …