
Mutiara itu sosok istri idaman, selain patuh pada suami. Juga sangat perhatian dengan anak-anaknya. Yes. Semua istri memang seharusnya begitu, dan semua ibu memang wajib menyayangi anak-anak yang di telah di lahirkannya. Ini bukan fenomena aneh. Itu fitrah. Yang memang sudah menjadi hak dan kewajiban yang harus di embannya.
Hanya kadang terbesit rasa capek yang Mutia rasakan, sebab ia merasa sedang berjuang sendiri menjaga keseimbangan rumah tangga itu agar selalu utuh. Sedangkan pergaulan di sekitarnya sangat jomplang. Mutia tidak berada dalam zona pertemanan yang sehat. Ia berada dalam sirkle yang brengs3k. Sebut saja ia salah memilih tempat untuk bergaul. Mungkin dengan memperbanyak perkumpulan dengan ibu-ibu di mesjid, mestinya bisa membawanya masuk ke lingkaran yang lebih baik dari sekarang.
Tetapi, sepertinya hal itu tak sempat ia lakukan. Kini Mutia merasa hatinya sedang oleng. Hatinya goyah dan sedang tidak baik-baik saja. Pasangan saling cinta saja bisa kandas dan memutuskan untuk saling berpisah sebab merasa sudah tak sejalan. Lalu bagaimana dengan Mutia yang bahkan sejak awal kenal dan menikah dengan Pras dapat di hitung dengan jari. Pras menyatakan kata cintanya. Selebihnya Mutia hanya mengira-ngira jika kebersamaan mereka berazaskan cinta.
Celakanya … hanya dengan mendengar pengakuan Dirga menginginkan dia. Hatinya sudah ketar ketir. Padahal belum tentu Dirga serius.
“Laah … trus maunya sama siapa? Kamu udah punya pacar?” tanya Mutia memastikan hal yang belum pernah ia tanya sebelumnya, tapi cukup membuatnya penasaran dan ingin tau.
“Dirga maunya sama tante imut saja, boleh.” Petir …? di luar ada petir yak. Tapi ga ada hujan sih. Lalu kenapa hati Mutia duar duer mendengar ucapan brondng ketceh itu.
“Tentu tidak boleh donk Ga.Tante ini istri orang, mama dari dua anak yang tante lahirkan sendiri. Sedangkan kamu, kamu itu brondong lajang. Bercandanya gak gitu juga kali.” Mutia berusaha mematahkan rasa aneh yang baru saja menyerangnya barusan. Iya, irama jantungnya mendadak koplo. Ujaran yang Dirga bilang tadi, seolah terulang saat dia masih seragam abu-abu. Itu sudah lama sekali. Zaman dahulu kala. Dan itu masa manis yang tak terlukiskan. Zaman ia hanya tau, pulang sekolah tinggal makan. Gak tau persediaan beras masih ada atau tidak.
“Tante Nunuk juga istri orang tan. Tapi kenapa semalam tante suruh Dirga sama dia?” Dirga balik bertanya.
“Karena tante Nunuk memang mau kamu.” Jawabnya tak kalah cepat.
“Jadi tante Imut yang ga mau sama Dirga?” apaan siih ini bocah. Kan Mutia jadi keki sendiri.
“Ngomng apa sih, ngaco banget deh. Udah, tante mau tidur.” Ketus Mutia mengakhiri panggilan suara unfaedah itu. Resah hatinya di berondong pertanyaan dan pernyataan brondong tengil itu.
Bukan gak guna sih sebenarnya. Hanya Mutia sendiri bingung dengan arah obrolan mereka. Ga jelas. Dia juga takut. Sebab aneh saja rasanya , tiba-tiba sering dapat notif chat dan di call oleh brondong kemarin sore itu dengan frekuensi yang bahkan melebihi jadwal makan.
Di tempat Gym, di hari yang berbeda, namun masih dengan orang-orang yang sama. Hanya kali ini tanpa Dirga.
[Tante … sore ini ngeGym lagi?] chat si brondy
__ADS_1
[Hem’em] balasnya singkat.
[Ijin ya tan. Ada job nikahan dua hari, di luar kota] lanjut chat itu. Chat yang tidak Mutia harapkan.
[Siapa juga yang absenin kamu di tempat Gym] Mutia masih waras, berusaha tidak gede rasa atas laporan unfaedah si ketceh ini.
[Ya … kali ada yang cariin Dirga.] Jawabnya tabah.
[Mungkin mbak Nunuk.] Balas Mutia sambil memasang lotian di permukaan kulit tubuhnya.
[Dirga maunya tante Imut yang cari Dirga.] Kok maksa yaak.
[Unfaedah] ketik Mutia, menetralisirkan perasaannya.
[Tante … Dirga nih mau berangkat kerja. Doa in selamat pergi dan pulang kek.] Caper banget sih ini brondong.
[Nah … gitu donk. Kan aing jadi semangat kerjanya. Tante juga hati-hati ya. Matanya jangan nakal sama tutor di tempat Gym] heh … kamu siapa? Ngatur mata Mutia.
[Siapa lu … mata – mata guweeh, kenapa lu nya resek.] Jiwa muda Mutia terpancing mendapat chat yang ke sininya makin aneh dari Dirga si ketceh itu.
[Dirga Rahardian, tante.] Dan chat itu hanya di biarkan Mutia meninggalkan bulatan hijau kecil pada benda pipih di tangannya. Yang artinnya, chat itu sengaja tidak ia buka walau keadaan ponselnya masih bertulis online.
“Gimana … makin dapet kan manfaat ngeGymnya Mut? Di ranjang bisa makin mengigit donk, makin lincah dan gesit karena terbisa melakukan latihan.” Shane tau-tau sudah duduk saja di sebelah Mutia yang baru selesai berlatih dengan peluh yang membuat basah pakaiannya.
“Mengigit ? apa hubungannya?” Mutia sedikit heran dengan segala omongan temannya itu.
“Ga usah belagak bego deh. Dengan berolah raga semua otot kita menjadi kencang. Tak terkecuali otot kew4nitaan kita. Pasti makin greget.” Shane lebih detile memaparkannya.
__ADS_1
“Kamu kali Shane yang bego. Lupa … kalo Pras itu es batu. Mana bisa muji Mutia, coba.” Vinsha tau bagaimana rumah tangga Mutia dan Pras.
“Nah … Vinsha aja tau.” Mutia hanya terkekeh. Sudah rahasia umum jika rumah tangga Mutia itu datar, kaya garis putih di atas aspal hitam. Persis marka jalan lintas.
“Ya kali … tiba sekarang udah jadi CEO, dianya dikit berubah gitu.” Shane mencoba mengorek kisah Mutia.
“Iya berubah kok. Berubah makin dingin. Mas Pras makin sibuk dan jarang pulang tepat waktu, punya jabatan tinggi kok kerjaan makin banyak ya?”apakah itu mengeluh atau sekedar curhat saja. Mutia merasa perlu untuk berbagi.
“Itu resiko jabatan Mut. Sebenarnya dengan tingginya jabatan. Membuat suamimu memiliki otoritas mendelegasikan pada orang kepercayaannya untuk melakukan pekerjaan. Tapi … ya, Pras perfeksioniskan. Ga mudah percaya dengan pekerjaan orang lain. Apa-apa harus dia yang buat. Jadilah, tinggi jabatan, malah buat dia main repot.” Nunuk menilai suami Mutia.
“Ya udah … kalo memang dia tambah dingin. Kamu saja yang menjadi hot.” Saran Vinsha.
“Kamu kira aku dispenser … ntar cool, entar hot.” Kekeh Mutia.
“Kamu ga bosan gitu-gitu aja Mut? Sekali-kali main kek. Seru lho” Shane selalu berusaha membisikan sesuatu yang membuat keyakinan Mutia untuk setia itu roboh.
“Gimana?”
“Kamu tau ga … kenapa akau minta kamu ngeGym di sini?” pancing Shane.
“Kenapa?”
“Karena Ozzi tutormu itu suka sama kamu.” Shane menunjuk dengan mulutnya. Sosok tubuh atletis sempurna yang memang sudah sepekan ini dengan sabar menjadi tutor Mutia dalam hal membentuk ototnya di sanggar milik Shane itu.
“Pliis deh Shan… jangan aneh-aneh.” Hardik Mutia merasa geli dengan jalan pikiran Shane yang nyeleneh itu.
Belum selesai urusan hatinya pada Dirga. Kenapa Sekarang Shane kayak nawarin Ozzi kek nawarin pisang goreng.
__ADS_1
Bersambung ...