PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 45 : POSESIF BALIK


__ADS_3

Mutia bukanlah seorang aktris yang pandai bermain peran. Ia hanya seorang ibu rumah tangga yang baru-baru ini menetas menjadi seorang bisnis women dadakan. Ia tidak pandai menyembunyikan raut wajah bersedihnya. Sedih karena berbagai hal.


Radit dan Raisa memang belum dewasa, masih bocil. Dan ini adalah momen pertamanya pergi keluar kota tanpa anak-anaknya. Mempercayakan hanya dengan ART tentu membuatnya khawatir. Untuk itu ia meminta Cia untuk tidur di rumah. Agar ia dapat mengurangi kecemasannya perihal keamanan dua anaknya tersebut, kala jauh darinya.


Satu masalah tentu sudah tak menggangu pikirannya. Sebab bisa ia delegasikan pada Cia. Tapi bagaimana dengan pikirannya tentang si Brondong tengilnya. Yang di hari yang sama juga akan melakukan perjalanan dalam kurun waktu agak lama. Mutia overthingking. Belum lagi pikiranya teracuni akan kehadiran Aline.


Mulut Mutia memang bilang, 'jika dia kekasihmu pun. Itu adalah hal yang wajar’. Tapi itu hanya di mulut saja. Tidak sungguh keluar dari hatinya. Aslinya hati Mutia terasa di remet-remet. Tak rela jika Dirga memiliki kekasih selain Dirinya. Apalagi Aline spek idaman, yang tak pantas disejajarkan dengan dirinya yang lebih pantas menjadi ibu si brondong itu.


Hal itu yang mebuat Mutia tak bisa menjawab pertanyaan suaminya. Saat pesawat itu mulai melesat terbang menembus awan, membawa mereka ke Pulau Dewata nan indah. Mutia hanya diam, memilih memejamkan mata. Untuk pura-pura tidak mendengar saja akan pertanyaan Pras. Bukankah, ia pun sering di kacangin oleh suaminya. Saat ia mengebu untuk bertanya sesuatu tapi tidak di tanggapi oleh sang suami dan di anggap hanya seperti angin lalu.


Persiapan Nunuk tidak kaleng-kaleng. Hanya informasinya yang seolah mendadak. Tapi tidak dengan persiapannya di sana. Mereka kini sudah berada di sebuah Pantai Privat yang boleh di sewa oleh beberapa orang yang berkepentingan. Tempat itu berada di Bukit yang juga menyediakan beberapa resort yang letaknya sangat strategis, dengan bahan bangunan dari ilalang. Memberi kesan natural yang menyejukkan. Dari sana pulak mereka dapat menikmati indahnya matahari tenggelam. Sungguh menawarkan pemandangan surga dunia. Menakjubkan.


“Makasiiih lhoo Mut, udah mau datang.” Nunuk sudah memburu kedatangan Mutia dan yang lainnya.


“Hampir gak bisa datang sih, dadakan ini undangannya.” Jawab Mutia melepas pelukan Nunuk yanhg terlihat gembira.

__ADS_1


“Hihiii … bukan mendadak sebenarnya. Hanya kamunya aja yang udah jarang gabung lagi di sanggar. Jadi ketinggalan info deh.” Iya, konsep dilaksanakannya acara ini sudah jauh hari di umbar. Tapi Mutia sibuk teruskan, sama salon dan brondongnya. Sehingga ia ketinggalan info.


Acaranya masih besaok, hari ini mereka habiskan untuk saling melepas lelah saja. Sebab jarak dari bandara menuju Pantai ini lumayan memakan waktu yang lama. Boro-boro melihat matahari tenggelam, suami di samping aja hampir gak keliahatan karena suasana malam sudah sangat gelap.


Bukan hal asing bagi Mutia dan Pras yang hanya saling diam tanpa suara, dalam satu ruangan. Mereka sudah terbiasa sepeti orang yang sedang perang dingin, padahal bukan sedang berseteru. Hanya Mutia memang sudah terbiasa ngobrol sama dinding aja, kalo lagi berdua-duan dengan sang suami. Tapi, sekali lagi. Bukan karena mereka sedang ada masalah. Hanya karena Pras memang super pendiam tingkat dunia. Jadi keadaan kamar yang mereka tempati terasa anyep.


Mutia sudah terlebih dahulu membersihkan diri, setelah makan malam bersama di luar tadi. Sehingga kini ia sudah dengan pakaian dinas malamnya. Dan juga sudah memastikan jika Radit dan Raisa pun sudah melakukan aktivitas rutin malam mereka sebagai seorang pelajar.


“Capek …?” tanya Pras pada Mutia saat ia ikut menyusul Mutia yang sudah terlebih dahulu rebah di tempat tidur empuk dan nyaman yang mereka tiduri bersama dengan posisi berhadapan.


“Kejutan.” Lanjut Pras.


“Ya … terima kasih Mas. Dan aku sangat terkejut sekali. Untung ada Cia yang siap sedia menjaga anak-anak kita. Mas, sempat mikir gak. Gimana mereka yang tiba-tiba kita tinggal tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Kasihan mereka.” Mutia masih dalam mode ngomelnya, lengkap dengan ekspersi wajah yang terlihat kesal. Rupanya mandinya tadi hanya mampu membersihkan daki yang melekat di tubuhnya. Tapi tidak dengan keruwetan yang terjadi dalam otaknya.


“Kan hanya sebentar.” Jawab Pras lagi dengan kata yang agak panjang.

__ADS_1


“Tetap saja itu sangat mendadak untuk mereka. Kalo Radit mungkin bisa mengerti. Tapi bagaimana dengan Raisa. Diakan masih bocil dan manja banget Mas. Ini aja aku rasanya selalu mikirin dia.” Huh … yang benar saja Mut. Mikirin Raisa atau Dirga.


“Biar mereka cepat dewasa.” Pras membalikan tubuhnya, untuk membelakangi Mutia. Sudah pengeng telinganya mendengar kalimat demi kalimat yang Mutia utarakan yang tak pernah sama dengan jalan pikirannya. Menurutnya Mutia hanya membesar-besarkan masalah saja. Memilih membelakangi Mutia adalah jurus andalannya, sebagai kode jika Pras tidak ingin melanjutkan obrolan unfaedah itu.


Dret … dret … dreet.


Ponsel Mutia bergetar dan berbunyi level 1.


[Ayanaaak. Ku sudah di desa. Maaf baru kasih kabar. Sejak tadi sibuk bagi kelompok dan lain lain. BTW … di sini gak seburuk yang ku kira. Signal aman. Lancar jaya. Lumayan kan bisa VC sebagai pengobat rindu sama tante kesayangan akuuh.] Ini. Isi chat ini sesungguhnya yang Mutia tunggu dari tadi. Bukan resah mikirin Radit atau Raisa. Kan mereka sudah ada Cia yang memastikan keadaan mereka baik baik saja di rumah. Lagi pula, dua anak mereka juga sudah terbiasa tanpa dia. Apalagi sejak punya salon. Hanya malam sebelum tidur ia berinteraksi dengan dua buah hatinya. Dan pagi sebelum berangkat sekolah, tugas Mutia adalah memastikan ART sudah menyiapkan bekal untuk mereka. Selanjutnya. Radit dan Raisa akan tenggelam dengan kegiatan di sekolah dan jadwal les dan kegiatan ekskul yang lumayan padat. Mutia tadi hanya mengada-ngada. Supaya makin terlihat sempurna sebagai seorang ibu yang sayang anak.


Pagi-pagi benar Pras terlihat sudah mandi. Lalu mengemasi pakaian yang semalam sudah di jejer Mutia dalam lemari kamar resort itu. Memang tidak selincah gerakan Mutia. Tapi gerakan tangan itu terlihat ingin cepat memindahkan seluruh pakaian ke dalam koper yang mereka bawa kemarin malam.


Sementara suasana hati Mutia pagi ini sudah sangat baik. Setelah semalam lebih dari 15 menit Mutia melarikan diri ke dalam kamar mandi. Untuk melakukan panggilan VC dengan Brondongnya. Alasannya mau lihat bagaimana tempat tidur si tengil selama dua bulan di sana. Juga memastikan, jika dalam rumah itu, isinya cowok semua. Sekarang giliran Mutia yang posesif sama si Brondy.


“Kenapa semua pakaian kita masuk koper Mas?” Mutia bingung, saat keluar kamar mandi, Pras sudah merapikan semua pakaian mereka kedalam koper.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2