PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 9 : JUAL DIRI


__ADS_3

Bagi Dirga Mutiara itu adalah Dewi penyelamat dan keberuntungannya. Sejak bertemu wanita yang baru saja melangsungkan perayaan Annivnya yang ke 17 tahun itu. Dirga sangat merasa hidupnya membaik. Bukan merasa senang atas sakitnya Desti hari itu. Tetapi setidaknya itulah ajang untuk Dirga bisa menunjukkan kemampuan kerjanya, yang selama ini memang terhalang oleh Desti.


Desti terlalu pintar mencari muka. Sehingga pekerjaan itu seolah sempurna karena hasil kerjanya. Hasil kepiawaiannya memimpin Tim itu. Dan semua prediksi kegagalan atau tidak suksesnya acara perayaan Aniv Pras dan Mutia kemarin adalah jawaban dari semua doa Dirga selama ini. Bahwa sesungguhya ialah orang yang berada di balik layar, yang selalu membuat Desti sukses memimpin tiap job yang di percayakan padanya.


Kesuksesan acara aniv itu, menarik perhatian Tomo, sang Owner. Sehingga merasa perlu meninjau ulang siapa yang ngumpuni antara dua pegawainya ini. Di tambah lagi setelah acara itu, Dirga mampu mendapat klien baru. Bahkan ini adalah tangkapan besar. Uang 3 juta mungkin tak berarti bagi orang kaya. Tetapi bagi seorang Dirga yang hampir DO karena SPP yang menunggak, itu bagai Oasis. Dan Dirga bukan orang yang pandai untuk menutupi rasa senangnya, atas perolehan tersebut.


Di sisi lain, Dirga merasa jika Mutia adalah sosok wanita dewasa yang tulus. Ia yakin, jika istri kliennya itu adalah sosok wanita setia, juga ibu yang hangat dan perhatian pada buah hatinya. Diam-diam selama acara berlangsung, Dirga memperhatikan Mutia. Dirga dapat melihat iner beauty seorang Mutia, dari sejak pertama ia melihat istri orang tersebut. Sampai-sampai Dirga tidak perduli dengan berat badan Mutia yang tidak seimbang dengan tinggi badan wanita itu. Di matanya Mutia tetaplah wanita molek, yang entah. Membuatnya ingin dekat dan banyak tau tentang wanita yang terlarang untuknya tersebut.


Dirga itu ketceh, posturnya tinggi dengan berat badan ideal. Wajahnya akan lebih baby face jika tanpa jambang. Tetapi ia memilih rajin memelihara bulu-bulu yang menutupi bawah hidung, dagu, juga sebagian dari pipinya. Ia ingin terlihat tua dari usianya, agar terlihat sangar.


Dan celakanya hal itu justru membuatnya seperti adik kakak dengan Refal Hady. Seperti pinang di belah dua. Hanya kalah di nasib. Refal Hady adalah bintang film, sedangkan Dirga hanyalah mahasiswa yang nyambi kerja demi mencukupi biaya hidupnya.


“Kamu mau, kuliah sampai dktor?” tanya Mutia di luar dugaan Dirga.


“Hah … tante bercanda. Boro-boro S3 tante, S1 ini saja ku hampir DO, karena ga punya uang.” Dirga jujur pada wanita yang diam-diam ia idolakan ini.


“Kamunya mau gak?” ulang Mutia.


“Siapa yang ga mau punya gelar setinggi itu tante.” Kekeh Dirga.


“Jual ginjal giih.” Canda Mutia. Entah dapat kekuatan dari mana si Mutia ini. Tiba-tiba merasa nyaman bercanda dan berlama-lama berVC ria dengan brondong trendy ini.


“Ya Tuhan … Dirga kira tante mau jadi donatur. Taunya … pake cara jual organ. Tante Imut … kezam.” Dirga tau, Mutia hanya bercanda.

__ADS_1


“Ha … ha … Kalo ga mau jual organ. Gimana kalo kamu jual diri aja, Ga …?”Mutia langsung pada inti tujuan pembicaraan. Bukankah Nunuk tadi sudah sangat jelas meminta Dirga untuk jadi miliknya, dengan persyaratan apapun.


“Hallo … saya sedang bicara dengan ibuk Mutiara Andini?” Dirga beralih ke mode serius. Tak sampai nalarnya jika kini tengah berbicara dengan wanita yang ia kira pendiam dan tak mungkin punya selera humr setinggi itu.


“Iya benar. Saya Ny. Mutiara Andini Pras Mahendra. Ada yang bisa di bantu?” Obrolan itu justru semakin tak jelas mereka olah berdua.


“Becandanya ga gitu juga dong tan.” Wajah itu terlihat merengut di seberang sana. Mutia masih bisa melihat itu, sebab tangan mereka seolah tidak pegal memegang ponsel seperti posisi memegang cermin.


“Tante ga bercanda Ga. Tante Nunuk siap kok biayain kuliah mu, sampai jenjang S3. Dia juga bersedia belikan kamu rumah atau apapun yang kamu mau.” Mutia bukan orang yang pandai menggunakan trik halus dalam bernegosiasi. Ia terlalu gamblang melamar seorang pria untuk Nunuk. Iya … sudah Mutia bilang. Ini bukan spesialisnya, sehingga kasar sekali cara yang Mutia gunakan.


“Syaratnya …?” Dirga bukan berondong mentah. Ia terlihat curiga dengan arah pembicaraan Mutia.


“Asal kamu mau jadi miliknya.” Tegas Mutia tanpa tedeng aling-aling.


“Gimana …?” Mutia sok tak berdosa. Setelah sebegitu gamblangnya memberikan informasi keras itu pada seorang Dirga, pemuda berusia 22 tahun.


“Tante mau Dirga jual diri sama tente Nunuk?” Dirga merasa perlu menegaskan isi pembicaraan Mutia.


“May bee.” Mutia mengangkat dua bahunya. Hingga ia tak sadar, sekarang bukan hanya wajahnya yang terlihat di kamera. Tapi kebawah lehernya juga sudah terpampang di kamera ponsel Dirga. Sebab tangannya sudah menurun, tak lagi setinggi tadi memegang gawainya.


“Tante … Dirga itu baru 22 tahun. Masih perjaka pulak. Masa iya … di lepas sama nenek nenek.” Walau usianya baru segitu, bukan berarti Dirga tak mengerti soal kebutuhan biologis ya.


“Huumm … kalo perawan itu laku dan lebih mahal. Tante yakin, yang perjaka di jaman ini juga pasti langka. Ntar tante bilangin mbak Nunuk deh, bisa bisa kamu langsung di beliin mobil Lhoo Ga.” Mutia sudah kehilangan akal sehat. Jauh dia menasehati pemuda labil ini untuk menjaga diri, justru semakin dalam ingin mendorong Dirga masuk jurang.

__ADS_1


“Tante … tega banget sih sama Dirga.” Suara itu terdengar memelas.


“Salah tante apa?” Makin merasa tak bersalah.


“Tante mau jual Dirga …?”


“Siapa yang jual kamu. Tante hanya memberi informasi. Kalo kamu perlu donatur untuk biaya kuliah. Tante Nunuk siap kok.” Jelasnya mengulang.


“Bukannya lebih baik hidup miskin tan, ketimbang jual diri…?” tanya Dirga.


“Menyampaikan informasi itu bukan berarti memaksamu untuk menurutinya. Hanya sekedar info Ga. Yang jalani hidupkan kamu. Belajarlah lebih pintar memilih jalan mana yang baik untukmu.” Otak Mutia tuh ga jelas. Tadi sok sok an, mo jadi tenaga penyaluran brondong. Sekarang malah berubah waras, mengingatkan si ketceh akan falsapah hidup. Sepertinya, Mutia yang sudah oleng.


“Hum … terima kasih infonya ya tante imut. Sekarang Dirga mau bebersih dulu, mau mandi. Tante istrirahat gih. Sleep well Tante Imut.” Dirga mengakhiri obrlan yang tak tersimpul dengan rapi itu dengan ucapan selamat malam yang tak pernah Mutia dapatkan semenjak putus dengan Dino.


Berapa tahun yang lalu ?


Puluhan mungkin. Sebab Dino adalah mantan kekasihnya sejak masa SMA hingga tamat kuliah.


Kenapa Mutia merasa dejavu, akan masa indahnya berpacaran dengan sang mantan. Sebab Pras memang tak pernah menyuguhkannya sesuatu yang manis dan gombal padanya.


Ia dan Pras hanya butuh beberpa bulan kenal lalu menikah. Di saat pasangan muda mudi sedang belajar mengenal karakter dan bertukar info kegemaran satu sama lain. Alias penjajakan. Yang Pras sodorkan adalah sebuah kepastian, jika ia serius ingin menjadi suami Mutiara.


Lalu … salah Pras dimana?

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2