
Usia tujuh belas tahun tentu tidak muda jika di bandingkan dengan usia manusia. Mutia terlalu lambat pulak jika kini ingin berontak, melepaskan diri apalagi merajuk. Berapa sih, sisa umur Pras dan Mutia, yang tentu tidak mungkin 100 tahun lagi akan terus hidup. Bukankah usia tujuh belas itu, harusnya mereka sudah makin dewasa. Sudah melewati masa krisis dalam sebuah hubungan.
Rumah tangga yang di tiga tahun pertama adalah masa pasangan masih menikmati indahnya surga dunia, tawa ceria akan hadirnya buah cinta yang begitu di damba. Lalu pada tahun tiga tahun selanjutnya sudah berisi akan teriakan, bukan hanya tawa. Tapi sudah mirip amukan masa, saat semua pekerjaan rumah mulai timpang sebelah, akibat hadirnya buah cinta yang sudah mulai aktif. Bahkan kadang pun di tambah jumlahnya, yang berimbas pada perubahan penggunaan anggran dalam rumah tangga yang tak terduga. Dan tiga tahun selanjutnya, mulai makin runyam. Komunikasi semakin tak berimbang bahkan semakin jarang. Hal ini menimbulkan gangguan pada pemikiran antar pasangan, yang merusak tatanan hati. Membuat rasa cinta mula-mula sedikit bergeser, sebab pengelihatan sudah tidak lagi fokus pada sesuatu yang baik.
Tetapi narasi di atas tidak menimpa kesemua pasangan di muka bumi ini, sebab masih banyak pasangan menikah yang mawas diri dan berupaya untuk tetap mempertahankan rasa cinta dan komitmen untuk hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Dan Mutia sekarang sedang berada dalam fase lebay saja. Di saat beberapa orang dan pasangan menikah di luar sana, masih berjuang mengumpulkan rupiah mungkin untuk biaya pendidikan, atau sedang berjuang menjaga kesehatan agar panjang umur. Saat beberapa orang yang tidak beruntung, mungkin tidak bisa makan tiga kali dalam sehari, itulah ujian hidup mereka. Dan ternyata ujian bukan selalu dalam bentuk kesusahan. Memiliki keuangan yang mapan, kesehatan yang selalu fit, penampilan yang cantik juga salah satu ujian dari Tuhan. Dan Mutia sedang di uji dalam hal kesetiaan.
“Papa ikut …?” Raisa bertanya pada sang papa yang terlihat tidak menggunakan setelan jas saat sarapan. Dan semua mata tertuju kearah Pras yang akan menyuapi makanannya.
“Iya.” Jawab Pras pendek dan cepat.
Semalam Mutia memulai aksi mogok bicaranya pada Pras. Malas rasa hatinya meladeni suaminya untuk berkomunikasi. Walaupun ini tidak benar, tetapi. Perasaan Mutia terlampau kuat untuk menyatakan perang dinginnya pada sang suami. Karena itu, iapun kaget pagi ini. Saat tau jika Pras juga akan ikut serta berlibur kerumah bunda Mutia.
Terlukis indah wajah bunda Mutia, saat bukan momen puasa apalagi lebaran. Anak menantu dan cucunya bisa mengunjunginya. Bahkan tanpa kabar sebelumnya, ke empat orang yang selalu ia rindukan itu kini sudah berada di bawah atap rumah yang sama dengannya.
“Mama Ra-ra. Besok kita pulang sama-sama ya …” Ucap Pras saat mereka sedang duduk di teras samping rumah bunda Mutia.
“Hah ..?” Mutia terkejut dengan ucapan itu. Eh … atau itu adalah ajakan untuk pulang bersama.
“Besok sore aku ada meeting.” Lanjutnya.
“Yang minta Mas ikut siapa? Sudah tau Mas banyak pekerjaan. Anak-anak liburnay satu minggu Mas, mana mereka mau baru sehari di sini sudah di ajak pulang saja.” Mutia tidak bisa lama mogok bicara dengan Pras. Ia selalu punya stok kalimat panjang nan lebar untuk berbicara pada manusia kulkas 5 pintu itu.
__ADS_1
“Biar saja mereka di sini, kata raisa. Besok sepupunya yang lain juga akan datang. Mereka kumpul di sini.” Pras sudah mulai lumer.
“Waah … apalagi kakak dan adikku semua datang ke sini. Ya gak mungkin lah Mas aku mau ikut pulang. Aku juga mau liburan bersama saudara-saudaraku.” Jawab Mutia mengambil kesempatan untuk berlama-lama di rumah sang bunda.
“Jadi … aku hanya pulang sendiri besok?” tanya Pras. Apa maksudnya ini dia tak mau pisah lama dengan sang istri.
“Ya .. biasa aja kan? Minggu lalu aku sudah liburan sama Mas di Bali. Wajarlah jika sekarang aku liburannya sama anak-anak. Bukankah beberapa bulan ini, Mas bilang aku jarang perhatiakan mereka, sejak punya salon dan sibuk di sanggar senam.” Agak ketus suara Mutia. Sangat jelas terdengar bahwa ia memang masih kesal pada Pras.
“Oke. Pulang nanti aku jemput lagi.”
“Kami bisa pulang sendiri.” Jawab Mutia dengan cepat tanpa meliohat wajah Pras yang selalu mendatar kaya tanda kurang.
Hingar bingar suasana rumah masa kecil Mutia dan saudara saudarinya pun tak terelakkan. Mereka yang kini tinggal terpisah karena berkeluarga. Tentu saja ini adalah masa terindah bagi mereka yang kadang terhubung oleh alat komunikasi canggih.
[Banget laah, gak capek masak menu bunda. Karena chefnya langsung yang buatkan] jawab Mutia cepat dengan wajah berbinar, bersemangat membalas obrolan pada layar pipihnya.
[Kita beda 180 derajat ya .. yank. Beda banget sama aku di sini. Bete udah tingkat dewa]
[Jangan manja. Live must go on aja Ga.] ketik Mutia menenangkan kekasihnya.
[Pake sayang donk, biar masalahku gak berasa berat banget disini] rayu Dirga. Halaaaah baca kegitu aja, lobang hidung Mutia udah kembang kempis.
__ADS_1
[Gak bisa di obral Ga. Kata-kata sayangnya tantemu ini limitied edition.] Mutia mencoba menggoda Dirga, sampai harus menutup bibirnya dengan satu tangan. Agar pancaran senangnya tersamarkan.
“Hadeeeeeh … yang baru sehari di tinggal suami. Udah senyum-senyum sendiri sama ponselnya.” Celetuk Alifa menggoda Mutia.
“Hah …” Mutia tak sadar jika ekspresinya sejak tadi sedang di perhatikan saudara perempuannya.
“Kenapa gak ikut pulang aja, kalo gak bisa pisah lama dengan suami.” Lagi-lagi Alifa menggoda Mutia.
“Siapa juga yang lagi chat sama Mas Pras …?” elak Mutia terpaksa.
“Huum … bukan Pras? Lalu kenapa wajahmu sebahagia itu? Siniin ponselnya.” Alifa maju satu langkah ingin meminta ponsel Mutia. Tetapi langkahnya kalah cepat dari Safira dari arah belakang, yang sudah berhasil menarik ponsel Mutia dan memabawanya kabur.
“Eh … Safira. Siniin hape ku.” Mutia berdiri akan menyusul Safira yang sudah engunci diri dalam kamar.
“Safira … pliis deh, balikin…!” teriak Mutia frustasi mengedor pintu kamar. Sementara Alifa terlihat duduk santai sambil menggigit buah apel di tangannya.
“Kalian kerja sama mo' ambil ponselku?” Mutia kembali berjalan mendekati Alifa. Sementara sang kakak, terlihat terus menikmati buah apel tanpa beban.
“Kenapa …?”
“Ya … aneh aja gitu. Kamu yang kepo. Malah Fira yang rebut, pake kabur segala lagi. Firaaa … balikin ponselku.” Lagi Mutia berteriak dengan kepala menoleh ke depan pintu kamar yang di masuki oleh Safira tadi.
__ADS_1
“Selow aja kenapa? Punya selingkuhan kamu sekarang?”
Bersambung …