
Mutia kembali meletakkan kepalanya di atas dada sang suami, menyembunyikan rasa sesal yang tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Sebab sebenarnya Mutia belum sepenuhnya tersesat dalam hamparan labirin tak berujung itu, mestinya ia masih bisa pulang dan kembali menemukan jalan pulang, jejaknya masih nampak. Belum jauh untuk kembali, dan belum banyak waktu dan tenaga yang terkuras untuk hanyut dalam pelukan pria muda yang bahkan tujuannya pun belum jelas dalam hal mengejar Mutia.
“Acaranya pukul 12, setidaknya pukul 10 kita harus sudah berangkat. Atau sebelumnya.” Ujar Pras dengan nada datar.
“Ya sudah … sekarang saja kita siap-siap.” Mutia merenggangkan pelukannya dan menatap wajah suami, yang masih menyisakan sisa ketampanan di masa mudanya. Iya, Pras itu pernah tampan. Ia hanya kalah muda dengan Dirga. Bahkan Dirga belum tentu masih akan tampan hingga masa tuanya, jika tak memiliki banyak uang untuk mempertahankan ketampanan agar tetap good looking.
“Bukan itu …” Jawab Pras kemudian.
“Gimana?” Mutia tak mengerti dengan tingkah Pras pagi itu.
“Kita ga sempat membeli perhiasan untukmu datang ke pestanya mbak Widya.” Oh Tuhan, apa yang di makan Pras kemarin di pestanya Hasan. Hingga ia begitu sweet hari ini. Iya …. Itu masuk kategori sweet kan. Kenapa Pras tiba-tiba memikirkan soal penampilan istrinya. Atau … Dirga ada bicara tentang apa dengannya semalam, saat mereka sedang dekat. Mutia merasa deg-degan sekarang. Iya, Mutia itu amatir. Mau selingkuh tapi ga punya jurus dan pemikiran yang matang, ia belum pro.
“Penting ya Mas, aku pake perhiasan?”Pancing Mutia.
“Mama Ra-Ra, sekarang statusnya sudah jadi istri CEO. Mungkin saja saat di sana nanti penampilanmu akan jadi perhatian atau bahan gibah orang.” Fix niih, Pras ada ke minum kencing kuda atau apa gitu. Ini aneh bin ajaib bagi Mutia.
“Heey … sejak kapan Mas mikirin omongan orang?” kekeh Mutia, sambil menyembunyikan rasa aneh yang muncul dalam hatinya, seolah Pras yang menjadi lawan bicaranya sekarang bukan suaminya.
“Tidak memikirkan omongan orang. Hanya … semalam ku perhatikan. Hanya istriku yang berpenampilan biasa.” Jleeeb … saat semua orang memuji kecantikan Mutia yang sungguh berbeda dari sebelumnya, ternyata penampilan Mutia hanya di anggap biasa oleh suaminya. Pantas saja ia hanya diam, tidak ikut memuji Mutia. Standart Pras ketinggian berarti dalam hal penampilan yang cantik dan sempurna.
__ADS_1
“Oh…” Mutia tak tau harus jawab apa. Gak mungkin kan ia nyolot dan bilang jika semalam tampilannya maksimal.
“Maaf jarang membelikanmu perhiasan mewah. Dan aku terlalu sibuk akhir-akhir ini.” Pras mencium pucuk kepala Mutia. Pras yang dalam diamnya, ternyata terusik dengan isi yang Berto sampaikan. Merasa benar, jika istrinya perlu sesekali di perhatikan, walau sudah terikat dalam janji suci pernikahan. Hal itu membuat dada Mutia sakit. Seketika bergemuruh mendapatkan kata maaf dari suaminya. Atas prasangka buruknya pada Pras yang ia kira tak perhatian dan tak sayang padanya. Bahkan, kesudzonannya itu ia balas dengan berselingkuh hati dengan pemuda tanggung si Dirga tengil itu. Ya Tuhan … apa Mutia putus saja dengan Dirga.
“Aku bisa ngerti kok Mas. Makin tinggi jabatan. Tentu makin tinggi pula tanggung jawab. Jadi, aku bisa memahami, jika mas jarang pulang tepat waktu seperti dulu. Karena beban tugas yang Mas jalan, tentu banyak menyita waktu.” Mutia seolah istri paling bijak, pengertian dan shalelah. Padahal … entuh mulut aja udah ternoda oleh si dedeg tengil.
“Terima kasih.” Jawab Pras dengan nada yang sangat datar. Kaku. Kembali pada mode plat.
Mutia akhirnya benar sudah pergi dari atas tempat tidur, lalu menuju meja rias, dan sedikit berjongkok seperti sedang mengambil sesuatu di bawah laci meja itu.
“Mas … liat ini. Bagus dan mewah kan?” Mutia menunjukan satu set berlian unlimitied pemberian Nunuk sebagai hadiah Anivnya beberapa bulan yang lalu.
“Ini hadiah dari Mbak Nunuk waktu Aniv kita kemarin, Mas.” Jawab Mutia dengan mata berbinar-binar.
“Kamu suka ?” tanya Pras memandangi wajah berseri istrinya.
“Banget.” Jawab Mutia sambil mengangguk.
“Apa tidak terlalu mewah untukmu?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Aku cuma pake anting dan cincinnya saja. Gelang dan kalungnya tidak usah. Agar tidak mencolok.” Mutia tau, suaminya mungkin tidak mau terlihat menonjol. Tapi juga tidak mau terlihat tertinggal dari yang lain.
“Kamu pake saja semua. Kamu tau kan bagaimana atmosfirnya, jika sedang bersama saudara perempuanku." Jawab Pras masih terdengar datar. Padahal itu adalah sebuah perintah yang berisi kode keras.
Rupanya Pras juga menyadari, jika selama ini penampilan Mutia cendrung bersahaja. Sebab memang tak pernah terlihat menggunakan perhiasan lengkap dan mahal. Padahal bukan karena tak punya. Hanya, ya itu lah Mutia. Yang tidak pernah perduli dengan penampilan. Ia tergolong cuek dan tidak peka, jika penampilan istri adalah cerminan penghasilan suami.
Tapi, bagaimanan mau menyalahkan Mutia. Bukankan ia jelek tak pernah di hina suami. Dan ia cantik sekalipun tak pernah di puji oleh prianya. Tampil natural apa adanya, dengan bobot tubuh khas emak beranak dua pun, baginya biasa saja. Tak ada nilai plus di mata suami. Tapi itu dulu, saat belum ada Dirga dalam hidupnya. Sekarang, jangankan body lotion. Merk shampo yang di gunakan Mutia pun, hasil rekomended dari sang pacar yang super protektif padanya.
Kemarin, mau rambut Mutia di gerai atau di cepol. Ga ada yang ngatur, tapi tidak dengan sekarang. Warna kuku saja, Dirga yang pilihkan. Alasannya, karena Mutia sekarang adalah Owner sebuah salon kecantikan. Jadi penampilan Mutia dari ujung rambut sampai ujung kaki harus perpek, versi tengil. Bubrah.
Mutia tidak hanya menggunakan cincin dan anting. Namun satu set pemberian Nunuk dengan lengkap ia gunakan. Hanny sudah ia minta ke rumah untuk menata rambutnya. Pras sejujurnya mengakui dalam hati. Jika kini Mutia jauh lebih cantik dari sebelumnya. Bentuk tubuhnya yang sintal, proporsional, sebab timbunan lemaknya sudah berada di tempat yang tepat. Yaitu bamper depan dan bamper belakang yang semakin padat, bulat berisi. Sedangkan perutnya sudah mulai kempes walau belum rata, dan bagian sayapnya berangsur menipis tak bergelambir lagi.
Pantas saja Mutia makin lincah di atas tubuh Pras, tak sia-sia ia sering berlatih di sanggar Shane,vtak hanya hajar besi, senam BL pun ia jabanin. Untuk mengencangkan otot juga memiliki pernafasan yang lebih baik dari sebelumnya.
“Mama Rara … ya ampun manglingi banget sih sekarang.” Widya adalah orang pertama yang mereka temui sebab kakak Pras itu memang sedang berdiri di ambang pintu menyambut tamu yang akan datang.
“Ah mbak Widya … biasa saja.” Mutia agak tersipu. Walaupun ia sendir juga menyadari jika penampilanya siang ini bahkan lebih sempurna dari malam sebelumnya. Dan itu adalah gaun kedua yang merupakan pilihan Dirga tempo hari.
“Ibu Mutia … “ Panggil seseorang membuat kepala Mutia menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Bersambung …