
Sepulang dari tempat latihan Mutia banyak diam. Sebab ia merasa jika Dirga seperti orang lain. Dirga di dekatnya seperti orang asing, yang tidak begitu care akan kehadirannya. Saat mereka berada di satu meja yang sama, walau dengan deretan kursi yang berbeda-beda. Hanya beberapa kali Mutia tak sengaja melihat lirikan Dirga. Pun hanya beberapa detik. Dan itu membuat Mutia tak suka.
Dirga terlihat lebih senang merespon apapun yang di sampaikan Nunuk. Bahkan Dirga juga tampak luwes bercanda dengan Shane dan Vinsha. Tetapi tidak dengannya. Ia seperti kacang rebus VS gorengan bala-bala. Yang lebih menarik untuk di santap selagi hangat. Berbeda dengan kacang rebus, yang akan selalu menjadi pilihan terakhir sebagai cemilan pengisi waktu.
Dirga itu bukan siapa-siapanya Mutia. Tembakan-tembakan lewan chat, dan panggilan suara via benda pipih mereka memang sering di ulang-ulang. Tapi tak pernah di tanggapi serius oleh Mutia. Sebab Mutia masih menjaga kewarasannya. Ia masih belum yakin dengan perasaannya, apakah sungguh telah oleng, atau masih merasa mampu berdiri tegar dengan segala godaan yang sudah membuat otaknya ingin bercabang dua.
Tiba di rumah, Pras tampak datang lebih awal hari itu. Dan kehadiran Pras tentu lebih menarik perhatian Mutia ketimbang ponselnya. Baginya ada Pras di waktu senja itu seperti kesempatan langka dan sayang untuk di lewatkan begitu saja.
“Tumben mas pulang cepat, kerjaan sedang longgar ya ?” Mutia tak tau harus berkata apa untuk merespon kepulangan Pras sore itu.
“Bisa tolong temani ke dokter?” tanyanya datar, tanpa memandang wajah Mutia yang masih terlihat lembab pulang dari tempat Gym.
“Mas sakit …?” Mutia segera menempelkan punggung tangannya ke dahi Pras. Sugesti aja sih, kalo orang bilang sakit, hal pertama adalah memastikan suhu di kening seseorang itu, apakah dalam keadaan panas atau dingin.
“Tidak …”
“Trus ngapain kedokter?”
“Hanya mau cek up rutin. Ini kan sudah 3 bulan lalu tidak cek.” Heey … kemana saja Mutia, istri yang selalu punya jadwal rutin memeriksakan kesehatan suaminya. Bukankah biasanya Pras yang lupa, dan dialah yang bertugas mengingatkan. Okeey, Mutia sudah menunjukkan tanda-tanda kepikunan dini, atau fokusnya memang sudah mulai pecah.
“Astaga … terima kasih sudah ingat jadwal cek rutinmu ya mas.” Mutia merasa kikuk sendiri. Dan segera bersiap-siap.
“Mas sudah puasa …?” Sebentar Mutia berhenti dan menoleh ke arah Pras di belakangnya.
“Sudah.”
__ADS_1
“Oke … ku mandi dulu.” Lanjutnya melangkah menuiju ruang pribadinya.
“Sekalian ajak anak –anak, kita makan di luar ya …” Ucap Pras dengan suara agak nyaring. Sebab Mutia sudah semakin jauh darinya. Itulah gaya bicara Pras, kalimat ajakan yang selalu beraroma perintah.
Jika demikian, mereka sungguh jelmaan rumah tangga idaman pada umumnya. Yang bisa pergi makan di luar dengan anggota keluarga yang lengkap. Yang tidak hanya keluar sekedar makan malam, tapi juga kadang berakhir di toko buku atau sebuah pusat perbelanjaan. Sekedar untuk menghabiskan waktu bersama, menebus masa yang kadang harus tersita akibat kesibukan sang kepala keluarga.
Raisa adalah sosok anak centil juga romantis. Hatinya lembut dan masih sangat suka sesuatu yang berbau gulali.
“Papa … coba gandeng mama. Abang rekam videonya yang astetic.” Perintahnya pada kedua orang tuanya yang terlihat sedang berjalan masing-masing, berjarak walau masih sejajar.
Mutia peka, dan agresif. Tak ingin mengecewakan putri manisnya, ia pun segera mendekati Pras, dan Pras pun segera menyelipkan jemarinya pada jemari Mutia. Masih dengan wajah datar. Mutia tau, Pras bukan tipe suami yang suka mengumbar kemesraan di tempat umum. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk menolak, sebab senyum Raisa lebih penting bagi mereka.
“Abang … cepetan di ambil videonya.” Raisa memerintah Radit.
“Pake hape mama aja, pinjem maah.” Raisa sudah mergoh tas sang mama, tentu dengan ijin Mutia yang menyodorkan ke tangan mungil putrinya itu.
“Nih … cepetan. Nanti papa keburu lepasin tangan mama.” Raisa banyak omong. Sekehendaknya saja menilai jika, tautan jari jemari itu tidak akan berlangsung lama.
Dengan malas-malasan Radit patuh pada perintah sang putri, adik kesayangannya itu.
Sememtara Mutia dan Pras di arahkan oleh Raisa untuk tetap terus berjalan senatural mungkin. Dan Raisa bertingkah seolah dia sebagai sutradara, terus memberi kode. Kemana Radit harus mengambil angel Pras dan Mutia, agar terlihat astetic seusia kehendak Raisa.
“Ih … siapa sih. Segala VC.” Radit merasa terganggu. Saat sedang melakukan take video sesuai perintah Raisa adiknya. Ia melihat ada panggilan video call yang terus meronta di layar pipih itu.
Dirga
__ADS_1
Itu nama yang tertera di sana. Dan Radit memilih menunggu panggilan Video itu tidak terjawab, lalu melanjutkan mengambilan video itu kembali.
“Mama … ini orang penting banget kali. Udah tiga kali ini dia VC. Dirga … namanya Dirga.” Radit sudah lelah melihat nama itu muncul lagi, muncul lagi. Menyodorkan ponsel pada empunya adalah tindakan benar menurutnya.
Mutia gelagapan.
Tidak mengira jika brondong itu melakukan panggilan Video Call, setelah kejadian cuek, di tempat Gym tadi. Mereka berdua hampir tidak bertegur sapa. Mutia bingung harus meladeni atau meriject panggilan itu. Tapi, Dirga bukan tipe anak yang manis. Dirga itu memiliki darah pahlawan, yang memiliki semangat juang tinggi. Pantang mundur apalagi kalo hanya urusan menghubungi Mutia.
Maka dalam hitungan detik, Mutia pun menggusap layar pipinya dengan telunjuk. Yang kemudian telunjuk itu ia tempelkan di depan mulutnya, memberi kode agar Dirga tak mengeluarkan suara. Kamera segera Mutia arahkan pada sekitarnya, agar Dirga tau. Ia sedang di luar. Tak lupa Mutia mengedarkan kamera ke arah suami dan anak-anaknya. Tanpa kata dan suara, panggilan Video call itu pun berakhir dengan sendirinya tanpa permisi.
“Siapa …?” Pras agak bingung. Melihat reaksi Mutia menerima panggilan yang kata Radit tadi sudah berkali kali menghubunginya. Tapi ketika di ladeni, mengapa tak saling bicara. Dalam diamnya, Pras tidak menyimpan kebodohanhya bukan. Ia masih memiliki akal sehat dan intuisi sendiri.
“Oh … bukan siapa-siapa.” Hanya itu jawaban Mutia. Yang ia tau, jawaban itu tidak membuat Pras puas. Tapi, Mutia sudah banyak belajar dari Pras. Bahwa segala sesuatu, kadang tak perlu keterangan panjang dan lebar. Mungkin sekarang Mutia merasa perlu menggunakan tak tik Pras selama ini. Hanya banyak aksi tanpa narasi. Karena sesungguhnya ia juga bingung menjelaskan Dirga itu siapa.
Dia ingin jawab itu adalah temannya, tapi teman apa?
Teman sekolah? Tidak.
Teman main? Bukankah biasanya teman Mutia itu kaum hawa.
Teman slengkinya….?
Hah … yang benar saja. Di antara mereka saja tak ada kata jadian. Kenapa harus baper, menganggap Dirga itu selingkuhannya.
Bersaambung …
__ADS_1