PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 34 : INGE


__ADS_3

Apa kabar hati Mutia yang baru saja jeledak jeleduk hampir ketahuan m3sum di rooftop tadi. Bahkan sudah berani mengulang perbuatan itu di sebuah lorong tangga . Iya … tempat itu memang lebih sempit dan tidak umum di gunakan. Sebab orang-orang tentu lebih suka menggunakan tangga berjalan yang super praktis dan tidak membuat kaki lelah untuk naik juga turun.


Jangan tanya di mana akal sehat Mutia, sebab yang ia bawa kemana-mana hanya batok kepalanya. Entah dengan isi otaknya. Sehingga ia teramat hanyut dalam ulah Dirga yang selalu membuat hatinya meletup-letup. Apalagi sekarang, bukan hanya benda kental nan lembut yang menyusup pada rongga mulutnya. Tapi tangan Dirga juga sudah semakin nakal. Mungkin ini sensasi yang Nunuk, Shane dan Vinsha rasakan. Mutia sudah tidak memiliki pertanyaan, alasan mengapa temannya sudah lebih dahulu memainkan peran emak-emak yang doyan slengki. Buset.


“Tante … janji yang boleh begini hanya aku dan Om Pras saja.” Dirga melepas ciuman panas mereka, menempelkan jidat keduanya dan meminta wanitanya berjanji untuk setia pada dua pria. Sinting.


“Ga …, mestinya tante hanya boleh begini hanya sama Mas Pras.” Ada kaca bening memfilter bola mata Mutia. Oh, ternyata Mutia masih punya hati untuk Pras.


“Tante … Dirga sayang sama tante. Dirga Cuma minta bagian dikit di sini.” Telunjuk itu menunjuk dada Mutia.


“Sial. Kamu saja yang tidak tau. Hati tante sudah terDirga-Dirga karena semua ulah mu, perhatian mu. Dan semuanya.” Mutia membalik tubuhnya. Malu rasanya mengakui jika Dirga sudah menguasai separuh hatinya.


“Gak Tan. Tante tuh gak sendiri. Dirga yang sudah ter Mutia-Mutia pada Tante. Pliiis, jaga perasaan Dirga. Cukup Dirga berbagi sama Om Pras, tapi tidak dengan yang lain. Dirga mau tante setia sama kami.” Cinta se egois itu, hingga rela berbagi dengan suami orang. Pliis minta alamat Ustad yang manjur donk, buat Rukiyah ni Brondong. Makin lama bikin resah saja.


“Huh … Kamu kemana saja selamai ini, sampai usia tante kepala empat kamu baru nongol.” Ucap Mutia terdengar gusar. Fix, Mutia sudah main hati pake banget sama Dirga.


“Dirga gak kemana-mana. Tapi tante yang kecepat lahir.” Kekeh Dirga memeluk tubuh yang OTW goal itu dari belakang.


“Jangan banyak peluk tante. Wangi parfummu beda dengan Mas Pras.” Jawab Mutia melepas pelukan yang pasti akan ia rindukan tersebut.


“Spiil parfum Om Pras. Biar sama.” Dengan konyolnya Dirga seolah ingin tak berbeda dengan Pras, suami kekasihnya. Mutia tidak menanggapi ucapan Dirga, memilih segera mencari jalan keluar saja. Agar kembali berkumpul dengan istri sahabat suaminya. Otaknya kembali waras, setelah dua kali berciuman dengan si tengil itu, dalam durasi agak lama juga menguji adrenalin. Menakjubkan rasanya

__ADS_1


“Dari mana sih, lama banget.” Nabila menyeletuk saat melihat Mutia datang dengan aura wajah yang sedikit berbeda. Ada raut cemas juga sumringah di wajah istri sahabat suaminya tersebut.


“Dari rooftop. Ketemu dengan Berto dan Pras juga tadi di sana.” Mutia tidak mau berbohong, namun alasan mengapa ia di sana. Harus sama dan konsisten dengan jawaban Dirga. Sebab nanti Berto pasti akan bercerita dengan Nabila.


“Huum … biasa lah. Mereka mau bakar tembakau.” Kikik Nabila yang paham dengan kebiasaan suaminya.


“Tanteee …” Pekik suara agak centil menghampiri meja yang sedang di duduki Mutia dan yang lainnya.


“Inge .” Vena ikut terpekik melihat gadis yang datang dengan histeris memeluknya.


“Eh … kangen banget. Kapan datang Nge.” Vena melerai pelukannya pada gadis yang ia panggil Inge tadi.


“Udah seminggu di sini, tan.Tapi biasalah… baru rapikan kost.” Jawabnya dengan nada senang.


“No … big no. Inge mau ngerasain jadi anak kost. Tapi, tenang aja. Kalo kiriman mami Inge tersendat. Tante adalah orang pertama yang Inge datangi untuk minta sedekah.” Jawabnya dengan gaya centil dan heboh.


“Mutia … Nabila, kenalin. Ini anak adikku, baru pindah kuliah di sini. Dan sedang sok … mau jadi anak kost.” Dengan tak kalah ceria Vena memperkenalkan keponakannya itu.


Inge memang memiliki sikap agak rame, centil sedikit ceroboh. Ia juga termasuk tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain. Terlihat dari antusiasnya berkenalan pada Mutia dan Nabila yang langsung berpelukan ria dengan dua wanita di depannya. Saking semangatnya, ia tidak melihat kiri dan kanan. Saat melepas pelukannya, ia tak sengaja menyenggol pelayan yang sedang merapikan meja yang penuh dengan gelas yang sudah kosong. Hasilnya. Sukses menjatuh kan satu gelas dan pecah seribu. Lagu dangdut kali.


“Iih … mbak nya gimana sih. Kerja yang benar donk. Tuh kan pecah.” Halloo … Inge yang nyenggol, kok dia yang marah. Bukannya pelayan itu sudah berhati-hati dan berusaha menghindar. Bukannya minta maaf, malah Inge yang nyolot.

__ADS_1


“Maaf mbak.” Jawab pelayan wanita itu tertunduk memunguti pecahan beling dengan mata berair. Tamat kariernya jika ini akan di perkarakan. Nasib keuangan pelayan itu terlalu bergantung pada pekerjaan sederhananya. Jika melakukan kesalah, bukan hanya potong gajih yang akan ia terima, pemecatan pun bisa jadi kemungkinan yang harus ia terima.


“Lengan bajuku jadi basah ni, ternoda.” Hardik Inge menunjukkan lengan bajunya yang terkena noda syirup berwarna merah itu.


“Maaf mbak, saya akan bertanggung jawab membersihkannya.” Ucap pelayan itu masih dengan nada santun dan tidak berusaha melawan, padahal jelas tangan Inge yang terayun sembarangan.


“Loe mau tanggung jawab gimana? Mo nyucikan lengan baju ku … trus aku harus buka baju gitu?” Hey … kenapa se bar-bar itu si Inge.


Dirga ada berkeliaran di area itu. Ia adalah penanggung jawab jalannya acara tersebut. Walaupun pelayan itu bekerja di bawah naungan hotel yang sedang bekerja sama dengan EO mereka. Tetapi, kehebohan ini merupakan bagian dari pekerjaan yang harus ia ikut campuri.


“Permisi … ada apa?” Dirga dengan sejuta pesonanya mendekati meja di mana Mutia berada, dan kehebohan itu terjadi.


“Tidak ada apa-apa Ga. Hanya tidak sengaja saja. Inge menyenggol gelas, dan pecah.” Jelas Mutia berusaha agar di sekitarnya tidak terlihat ramai.


“Maaf Pak. Saya ceroboh, tidak melihat jika mbak ini akan mundur saat saya bawa gelas. Saya salah Pak.” Dengan gemetar pelayan itu berucap, mengakui kesalahann yang tidak ia lakukan.


“Oh … tidak. Bukan dia yang salah. Tapi gue yang tiba-tiba mundur tadi.” Hah … kemana atmosfir marahnya Inge tadi yang berapi-api sampai minta tanggung jawab pada pelayan yang hatinya sudah ketar-ketir. Semua mata melihat ke arah Inge, tak terkecuali pelayan yang sudah berhasil membersihkan pecahan beling kaca di bawah mereka.


“Ini … buat loe ganti gelas yang pecah karena gue. Kita damai." Inge mengeluarkan selambar uang merah ke atas nampan berisi pecahan beling di depannya.


Semua melongo seperti sapi ompong. Kecuali Dirga.

__ADS_1


Dirga yang tidak mengerti dengan tatapan bingung para wanita yang ada di sekitarnya sekarang.


Bersambung ….


__ADS_2