
“Take care, ayank.” Tangan Dirga segera meraih tangan Mutia saat tubuh wanita kesayangannya itu berada di luar kamar ibunya. Ia sempatkan pula mencium punggung tangan Mutia. Itu berhasil membuat Mutia tersipu. Mutia mungkin harus mencari suntikan insulin. Agar kemanisan Dirga ini tidak terlanjur berbahaya untuknya, dan berakibat fatal untuk keberlangsungan hidupnya.
“Kamu kenapa bersikap aneh dengan tante mu itu, Dir …?” itu adalah suara bu Larsih. Wanita yang telah melahirkan Dirga.
“Aneh gimana, buk. Biasa aja.” Jawab Dirga mendekati sang ibu yang sejak tadi terlihat rebah dengan tenang di bed pasien.
“Ibu sejak tadi tidak tidur. Ibu bisa mendengar semua yang kalian bicarakan.” Ucapnya dengan suara lirih.
“Obrolan yang mana?” Dirga merasa perlu memastikan pembicaraannya yang mana yang di dengar oleh sang ibu.
“Ibu bahkan melihat jika tadi kamu memeluknya.” Tak disangka. Rupanya sang ibu sejak tadi hanya berpura-pura tidur. Bahkan melihat dan mendengar semua percakapan juga gerak tubuh anak sulungnya yang rada sableng itu.
“Oh …” Hanya itu yang terdengar dari mulut seorang Dirga yang di landa bingung, gak tau harus jawab apa atas pertanyaan dan tuduhan sang ibu.
“Apa hubunganmu dengan wanita terlihat tua darimu itu?” diantara sesak nafas sang ibu, sangat terdengar jika sang ibu bicara penuh tekanan kemarahan pada sang putra.
“Tidak ada hubungan apa-apa. Dia itu hanya orang baik yang di kirim Tuhan, untuk menggantikan ibu saat Dirga jauh dari ibu.” Jawab Dirga mulai lancar bernarasi.
__ADS_1
“Jangan berkelakuan yang aneh-aneh, Dir. Hidup kita ini sudah susah. Jangan dibuat susah. Ibu yakin dia itu pasti sudah memiliki keluarga, punya anak dan suami. Otak kamu di mana Dir? Kapan ibu ngajarin kamu bersikap seperti itu, hah …!!!” Marah … ibu Dirga seharusnya istirahat dan tenang . Tujuannnya di rawat adalah untuk menenangkan pacuan jantungnya yang terganggu siang tadi. Tapi kini, ia justru marah. Tak bisa mengelola emosinya atas pikirannya yang tak menentu.
“Tidak Bu. Ibu tidak pernah ngajarin Dirga begitu. Dirga gak macem-macem sama tante Mutia. Kami kesini juga sama suaminya kok. Beneran, kami tidak seperti yang ibu pikirkan.” Dirga mencoba menenangkan sang ibu.
“Apa kamu sungguh tau yang ada dalam pikiran ibu tentang kamu dan wanita itu, Dir?” desak sang ibu masih dengan suasana hati yang penuh dengan amarah dan kekesalan.
“Sudah. Gak usah tebak tebakan. Ibu di sini untuk berobat. Dirga kesini untuk jaga ibu, biar ibu cepat sembuh. Gak penting kita bahas tentang tante Mutia dan apapun yang ada dalam pikiran ibu. Tujuan ibu ke sini supaya sehat, ada Dita dan Desta yang masih sangat perlu ibu di kampung.” Rayu Dirga pada sang ibu.
“Apa hanya Dita dan Desta yang perlu ibu. Kamu sudah tidak perlu ibu. Karena sudah punya si tante itu?” bu Larsih tetap saja menuduh anaknya memiliki hubungan spesial dengan Mutia.
“Kalo Dirga gak butuh ibu lagi. Ngapain Dirga ke sini untuk jaga ibu. Dirga khwatir sama ibu. Dirga mau ibu sehat, supaya bisa menghadiri acara Wisuda Dirga nanti bu. Sekarang Dirga baru selesai KKN. Setelah ini Skripsian, lalu lanjut deh Yudisium. Kelar deh kuliah Dirga.” Dirga memang selalu pantas menyusun kata perkata menjadi kalimat untuk meyakinkan lawan bicaranya. Bahkan saat ia di posisi salah sekalipun, Dirga mampu menghindar rasa marah tersebut.
[Tidur yang nyeyak, ayank. Walau gak dalam pelukanku] ketik Dirga sebelum tidur. Berharap chat itu di balas oleh Mutia tersayang. Tapi apalah daya. Walau kali ini, kirimannya langung biru centang dua. Tapi hingga kantuk Dirga menjemput pun, chat balasan tak kunjung Dirga terima.
Sememtara di sebuah kamar penginapan di kota itu. Mutia baru saja melepaskan pelukan sang suami yang baru saja tertidur pulas. Melepas rasa lelahnya mengendarai kendaraan roda empatnya. Kemudian sepulang istrinya dari rumah sakit menjenguk ibu Dirga tadi, tiba-tiba saja hasratnya sebagai seolarng lelaki normalpun muncul. Dan sebagai istri yang baik. Tentu Mutia tidak menolak. Sebab melayani suami secara lahir dan bathin adalah kewajibannya sebagai istri.
Mutia membersihkan dirinya, mengusap buliran airmata yang terjatuh lagi. Setelah ia membaca semua isi chat Dirga yang bahkan dari beberpa hari yang lalu. Yang sempat ia abaikan. Saat nama Dirga ia letakan pada kolom arsip. Dan kini, tanpa pikir panjang. Semua chat itu ia bersihkan tanpa ada niat untuk membalasnya. Tekad Mutia sudah bulat untuk tidak memberi ruang pada Dirga. Hanya, untuk memblokir kontak itu, Mutia rasa belum waktunya, entah kapan waktu yang ia anggap tepat.
__ADS_1
Mutia kembali menyusup tangannya berbagi kehangatan pada sang suami. Menempelkan tubuhnya pada Pras yang berhati dingin, namun tetap bisa di andalkan untuk berbagi suka dan susah. Mutia tau, dada Pras lah tempat ternyaman untuknya menyandarkan kepalanya. Dan dada itu memang miliknya, halal baginya.
“Kita pulang hari ini, Mas?” tanya Mutia saat menyadari jika Pras sudah bangun, sedangkan ia masih terlihat malas-malasan diatas kasur.
“Uang kemarin sudah kamu berikan?” tanya Pras memastikan.
“Tidak … belum sempat.” Jujur Mutia tidak tau,kapan waktu yang tepat menyerahkan uang semalam. Apa pada saat Dirga memeluknya? Atau saat ibu Dirga ngobrol bersamanya. Bagi Mutia itu sangat tidak pantas. Ataui,. Langsung pada perawat di bagian administrasi? Tetapi ruang perawat a sudah sepi. Dan mungkin bukan pada bagian itu untuk menyimpan iang deposit.
“Kalo gitu, sebelum kita pulang. Kita pamit dan menyerahkannya sama-sama.” Simpul Pras yang selalu cepat memutuskan sesuatu..
“Baiklah. Kita pulang sepagi ini?” ulang Mutia yang sebenarnya masih ingin agak lama merebahkan dirinya di tempat nyaman itu. Tubuhnya terasa lelah, terlebih otaknya. Bagaimanapun ia semalam sudah berhasil menghapus semua chat Dirga dalam pnselnya, tetapi tentu tak semudah itu bukan menghaous semua tentyang Dirga dalam kenangnnya.
“Kalo masih betah di sini, besok juga boleh kita pulang. Tapi, pagi ini kita tetap harus menyerahkan uang itu. Mungkin mereka perlu.” Jawab Pras berlalu dan masuk dalam kamar kecil.
“Bukan soal betah. Takut Mas masih capek aja.” Jawab Mutia masih di atas tempat tidur. Dan Pras sudah tak menghiraukan kalimat terakhir istrinya.
“Kamu Pras …?” sapa suara wanita saat melihat sosok Pras berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Bersambung …