PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 22 : AKSES MULUS


__ADS_3

Terlalu banyak aturan, pengakuan dan pujian yang Dirga ucapkan pada Mutia. Dan itu semua membuat Mutia terbang ke awang-awang. Membuatnya lupa, jika pelaku itu hanya pemuda tanggung berusia Dua Puluh Dua tahun. Belum dewasa dan riskan labil. Mutia yang kepala Empat. Mestinya ia adalah masinis yang sangat dewasa, mampu menahan lajunya kereta yang ia kemudi. Tapi, kenapa justru ia yang kebablasan. Menerobos rel yang sebelumya sudah berpalang, di larang lewat.


Mutia yang nyosor. Mutia yang menabrak bibir yang banyak omong sejak tadi. Celakanya, Dirga tidak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Dia hanya brondong, bukan bocah ingusan yang tidak tau apa-apa. Organ kelelakiannya sudah berfungsi dengan baik, walau ia mengaku masih perjaka. Juga, Mutia bukan kekasih pertamanya. Bohong saja jika perbelitan lidah itu pertama baginya. Toh, ia lihai mengimbangi serangan mendadak dari Mutia.


Sumpah, Dirga mau dunia berhenti saja berputar. Ia bahagia mendapat serangan dari tante imut kesayangan, idolanya tersebut. Jujur, ia menyesal pernah janji untuk tidak melakukan kontak fisik. Sebab yang benar adalah tidak sekali ia merasa h0rny jika terlalu pagi sudah mendengar suara tante Imutnya itu. Kacau.


Mutia hanya sebentar menabrak bibir itu. Ia sempat merenggang dan berusaha melepas juga mundur. Tetapi, tangan Dirga meraih tengkuk kekasih beda usianya tersebut. Untuk mengulang aktivitas dadakan yang di mulai oleh Mutia. Dan keduanya pun, saling menikmati tiap pergerakan dalam mulut itu.


Tok


Tok


Tok


Tempat Mutia dan Dirga mengalami kecelakaan di sengaja pada bagian organ mulut itu, dalam ruang tunggu VIP. Yang tidak besar namun bersih, sejuk juga tertutup. Walau bersekat kaca, namun ada tirai yang dapat di buka dan di tutup oleh orang yang berada di dalamnya. Sehingga aktivitas orang di dalamnya tak nampak dari luar. Dan kini daun pintu itu di ketuk oleh seseorang. Mutia dan Dirga mendadak melepas pertautan yang berlangsung dalam beberapa menit itu. Dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan. Baik itu wajah Mutia ataupun si brondong ketceh itu. Sialan.


Mutia salah tingkah. Berusaha bangkit sambil merapikan susunan rambutnya untuk segera membuka pintu. Agar segera tau siap gerangan yang membuka pintu.


“Ciaaaa …” Teriak Mutia setengah histeris. Tak menyangka sahabatnya waktu SMA itu akhirnya mendarat di kota kelahirannya. Dan menemukan alamat saln miliknya tersebut.


Cia tak kalah histeris, seraya memeluk erat sahabatnya. Sahabat yang sudah sangat ia rindukan. Rindu untuk menumpahkan segala yang terjadi beberapa tahun terakhir. Sebab, Cia memang telah lama tak pulang ke kota ini.


“Kamu apa kabar Ci … kapan datang?” tanya Mutia tanpa jeda.

__ADS_1


“Baru beberapa jam yang lalu. Ponselmu mana? Ku hampir tersesat mencari alamatmu dari Bandara tadi.” Agak kesal nada suara itu Cia utarakan.


“Astaga … maaf. Ponsel ku silent Ci.” Mutia meraih ponsel yang sejak tadi teronggok kaku tak tersentuh. Siapa yang akan menghubunginya. Pras ? itu mustahil. Pelakunya hanya Dirga, dan orang itu sedang bersamanya. Lalu untuk apa dia memegang benda itu terus menerus.


Cia ingin bercerita panjang, tapi. Ia tampak berpikir dua kali untuk membuka mulutnya. Sebab merasa asing dengan kehadiran seorang pria muda di ruangan khusus itu.


“Siapa …?” tanya Cia dengan mata sedikit mendelik tak suka.


“Saya Dirga tante.” Tangan kanannya di ulur ke arah Cia, wanita yang baru saja bercipika cipiki dan berpelukan dengan kekasihnya.


“Cia, sahabat Mutia.” Dengan nada sinis Cia menjabat tangan Dirga.


“Oh … sahabat tante Imut, gue pacarnya.” Stt … itu hanya halunya Dirga. Itu hanya terucap di dalam hatinya. Cari mati? Kalau sampai kalimat itu ia keluarkan dalam keadaan sadar juga lantang.


“Kopinya atau bibirku Ga?” Giliran Mutia yang halu. Brengs3knya Mutia tidak menyesal dengan tindakan penyerangannya tadi. Sebab lidah itu terasa ekspresif sekali menyambutnya. Terasa jika pertautan itu bercampur ketulusan dan kerinduan yang saling mendamba. Najis.


“Iya … hati-hati ya Ga.” Mutia hanya berucap demikian. Tanpa mengantar Dirga pula. Tangan satunhya sudah menarik tangan Cia untuk duduk di sebelahnya dengan jarak sangat dekat, mepet.


“Itu brondong perusak pikiranmu akhir-akhir ini?” tebak Cia tanpa basa-basi bahkan tanpa memberikan durasi. Setelah pintu ruangan itu tertutup.


“Perusak pikiran apa?” Mutia berusaha pura-pura bego.


“Aku lupa kapan dan tidak melakukan SS. Sebab tidak hanya sekali tapi berkali-kali sempat melihat SWmu. Dan ku simpulkan sendiri, kamu sedang kasmaran. Ngaku …?” Itu bukan saja tebakan, melainkan seperti sebuah todongan dari Cia sahabat kentalnya.

__ADS_1


“Iih apaan sih?” Mutia masih berusaha mengelak.


“Mut … aku kenal kamu bukan baru kemaren. Bahkan aku masih ingat dengan detile bagaimana hatimu saat jatuh cinta dengan Pierre waktu kita kelas 1 SMA, lalu pada Tommy si bintang basket, terakhir Dino. Cinta matimu dan mantan terindahmu itu. Aku sangat kenal kamu Mutiara Andini.” Yess. Ini sungguh sahabat sejati Mutia. Ya … sahabat yang selalu menyimpan data dengan baik, walau yang bersangkutan mungkin sudah ingin lupa atau membuangnya.


Mutia hanya menarik nafas dalam dan panjang. Percuma mengelak. Toh, Cia bahkan lebih mengenal dirinya, lebih dari yang lain.


“Ada apa dengan mu?” tanyanya dengan nada kecewa. Cia patah hati mengetahui Mutia berpaling hati dari suaminya.


“Aku tidak apa-apa.” Jawab Mutia datar, dan membuang wajah tidak berani menatap Cia.


“Terserah jika kamu tidak mau jujur padaku. Mungkin kamu sudah tidak percaya seperti dulu lagi padaku.” Ucapnya lirih, merasa percuma meminta pengakuan Mutia. Mungkin sahabatnya itu, mulai butuh privacy.


“Biar aku yang masih menyimpan sejuta percaya padamu. Kamu tau … ke pulanganku ini. Akibat aku gagal dalam mempertahankan rumah tanggaku. Sekarang aku bahkan tak berani pulang ke rumah mama dan papa. Dan aku butuh bantuanmu, mencarikan aku tempat tinggal sementara. Aku sudah tidak bisa tinggal dengan Rafael. Rumah tangga kami sudah hancur. Tetapi aku kini sedang berusaha mengambil hak asuh anakku.” Ucapan Cia semakin pelan dan lirih. Tak ada lagi suara lantangnya seperti tadi, saat ia meminta penjelasan tentang Dirga pada Mutia. Kini Cia membutuhkan bahu untuknya bersandar. Untuk sekedar menyembunyikan airmata yang jatuh tanpa aba-aba.


“Ada apa dengan rumah tanggamu dengan Rafael?” Mutia tertarik untuk tau keadaan sahabatnya ini.


“Orang ketiga.” Ungkapnya dengan raungan pilu. Sangat jelas terasa, jika Cia masih sangat menginginkan rumah tangganya utuh bersama Rafael. Lalu bagaimana dengan Mutia?


Disaat semua pasangan menikah di luar sana sedang berjuang mepertahankan keutuhan rumah tangganya, dari serangan orang ketiga atau apapun. Mengapa ia justru dengan sadar memberi akses mulus untuk Dirga menghanyutkanhnya dalam lembah menyesatkan. Celakanya, Dirga tidak berjuang sendiri. Tetapi Mutia mendukungnya. Mutia tadi yang lebih dahulu menerabas aturan yang Dirga buat, untuk tidak kontak fisik. Tapi apa yang terjadi?


Mutia yang menyerahkan diri. Mutia yang menurunkan bendera perang dalam posisi bertahannya selama ini. Lalu, apakah ia tak pilu melihat tangis sahabatnya, yang meraung-raung akan kegagalannya dalam berumah tangga. Cia telah menjadi janda. Apa Mutia akan segera menyusul status itu? Demi kebersamaannya pada si Brondong Tengiil itu.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2