PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 11 : PERASAAN ANEH


__ADS_3

“Buk Mutia. Pesan bapak … beliau tidak bisa cepat pulang. Ada klien mendadak mengajak meeting.” Itu pesan yang masuk ke dalam ponsel Mutia dari kontak bernama Indah. Itu adalah notifikasi kesekian kali, yang Mutia selalu dapatkan tiap kali suaminya pulang terlambat.


Entahlah, apa tangan Pras akan mendadak kusta jika mengetik sendiri, chat itu dari ponselnya untuk Mutia. Atau telinganya mendadak berdengung dan menyebabkan kerusakkan pada alat pendengarnnya, jika ia melakukan panggilan suara pada istrinya sendiri. Sehingga, selalu Indah sekretarisnya yang menyampaikan pesan dari Pras.


Mutia hanya melempar benda pipih itu ke atas ranjangnya, tanpa berminat untuk membalas. Baginya itu hanya pemberitahuan, bukan sesuatu yang penting di balas. Yah … paling isinya ‘iya terima kasih’. Lalu memilih pergi keluar kamar, melakukan kunjungan pada kamar anak-anaknya. Sekedar memasang telinga untuk mendengar kisah seru di sekolah masing-masing.


Mutia tidak menampik, jika Pras memang coolnya minta ampun. Hal itu membuat Radit dan Raisa anak mereka pun jarang mendengar suara sang ayah. Di tambah lagi akhir-akhir ini, Pras jarang pulang untuk makan di rumah. Sehingga waktu pertemuan mereka semakin langka. Entah Pras sungguh sibuk mencari nafkah, atau jabatan baru itu telah berubah menjadi ujian rumah tangga mereka.


Hanya Pras yang tau.


Raisa sudah terlelap mendekap boneka kesayangannya. Dan Radit juga sudah tertidur dengan buku yang menutupi wajahnya, rupanya putra sulungnya itu kelelahan, setelah tanding basket sore tadi. Dan besok harus siap ujian tengah semester. Sehingga sebelum ia tidur, ia masih berusaha untuk membaca buku, walau gagal. Sebab kantuk sudah terlanjur menyerang.


Lima panggilan suara tak terjawab, 2 kali panggilan Vvideo tak terjawab. Dengann jarak waktu per lima menit, persis setelah ponsel itu di banting oleh Mutia ke atas tempat tidurnya. Dan parahnya itu bukan dari Pras suaminya, melainkan dari Dirga si Brondong Trendy itu.


Mutia tak biasa dengan panggilan suara atau panggilan video. Baginya, segaja jenis panggilan itu bersifat penting. Dan wajib untuk di balas. Buru-buru Mutia menekan mode panggil pada kontak yang terlihat sangat sering menghubunginya hari ini.


“Ada apa Ga …?” tanpa basa basi Mutia terdengar cemas ingin segera tau, apa alsan si ketceh menghubunginya.


“Kenapa kayak kaget gitu si tan … ?” Dirga terdengar tenang menjawab suaraa di seberang gawainya.


“Bukan kaget, heran aja banyak notif panggilan tak terjawab dari kamu.” Urai Mutia dengan suara agak pelan.


“Yang harusnya kaget itu aku, tan. Emang enak, sejak pagi di cuekin tante Imuuuut.” Sesantai itu si ketceh menjawab kecemasan yang sempat melonjak tadi.

__ADS_1


“Tante ga cuekin kamu, kok.” Mutia merebahkan tubuhnya, menjadi agak miring. Memastikan sedang dalam posisi nyaman untuk saling berkomunikasi dengan brondong ini.


“Tan … Dirga udah sejak melek mata chat tante, tapi ga di bales. Udah sambil ngadep nasi saat makan siang, kirim chat ke tante juga ga di jawab. Giliran aku call, harus berkali-kali. Baru bisa denger suara tante. Pliis dong. Tante harus bisa jaga perasaan aku.” Heey Monyet… siapa kamu? Segala minta di jagain perasaan sama si emak beranak dua.


“Jaga perasaan kamu. Gimana …?” Mutia itu polos. Dia adalah istri setia yang ga pernah neko-neko. Ibu yang baik bagi dua anaknya. Tapi kenapa ini brondong caper banget sama dia.


“Susah banget yah, sekedar jawab sapaan selamat pagi ku ?” ini casingnya aja pemuda tanggung, aslinya masih bocah deh kayaknya.


“Oh … ya maaf. Pagi tante sibuk ngurus suami dan anak berangkat dulu lah Ga.” Hah … siapa Dirga? Kok Mutia harus minta maaf.


“Ya … siang juga aku ada chat tante. Tetep ga di bales.” Dirga masih dalam mode protesnya, seharian tidak dapat perhatian Mutia.


“Ga … IRT itu ga punya jeda waktu istirahat kaya orang kantoran atau sekolahan. Justru saat jam pulang sekolah itulah waktu kerjanya IRT. Dan tantemu ini totalitas dalam menjalani peran sebagai IRT itu, paham?” Giliran Mutia yang meminta pengertian brondong snewen ini.


“BTW … tadi di tempat Gym, tante ada call kok. Tapi kamunya ga aktif. Tau-tau udah liat kamu asyik aja sama mbak Nunuk.” Yess … Mutia juga punya bahan pertimbangan, sebab bukan hanya Dirga yang di cuekin olehnya. Tapi, dia juga sempat di kadalin oleh Dirga kan.


“Nah itu dia … tujuan Dirga chat tadi. Sebenarnya, Dirga mau tante kawal sejak awal pas tante Nunuk buat janji temu sama Dirga.” Jelasnya.


“Mbak Nunuk buat janji temu dengan kamu?” Mutia kaget.


“Iya … ternyata yang tante Imut bilang semalam benar ya.” Lanjutnya pelan, dan lupa sempat kesal di cuekin Mutia.


“Soal …?”

__ADS_1


“Soal … dia yang bersedia jadi donaturnya Dirga.” Jawabnya cepat.


“Woh.” Mutia ga tau harus bilang apa. Dia ingin mengatakan pada Dirga, jika Nunuk itu buaya betina. Dan Dirga bukan satu-satunya pria muda yang jadi peliharaannya nanti. Ñamun ia urungkan. Mengingat itu adalah aib temannya sendiri. Bukankan berkat suami mbak Nunuk, kini Pras mendapat jabatan sebagai CEO. Utang budi itu pasti munculkan. Lalu Mutia ingin bilang pada Dirga jauhi saja tawaran itu, tapi siapa dia? Kalo Dirga nya mau. Why not. Tapi, kenapa sisi hatinya malah bilang jangan. Bukan karena Nunuk buaya. Tapi, di mata Mutia, Dirga terlalu baik untuk di jadikan sebagai mainan saja. Mutia ga rela. Heey … ada apa dengan perasaannya dengan Dirga. Kenapa Mutia merasa dia lah yang pertama menemukan Dirga, dan sisi nakal hatinya bilang. Kenapa ia tak coba bermain hati dengan pemuda tanggung ini.


“Kenapa cuma woooh …?” Dirga bingung akan respon Mutia.


“Ya … karena itu udah ga Wow lagi. Jadi Cuma woh.” Jawab Mutia sekenanya.


“Tante sungguh mau Dirga jadi simpenan tante Nunuk?” Dirga sedang meminta ijin atau minta pendapat nih.


“Dirga yakin mau jadi simpenan tante Nunuk?” Mutia balik bertanya.


“Ya gak lah tan. Dia itu nenek-nenek.” Dirga bergitu gamblangnya bicara.


“Baru 57 tahun Ga, Anaknya juga 6 bulan lagi baru nikah, belum punya cucu dianya.” Mutia membela Nunuk.


“Tan, Dirga ga mau sama tante Nunuk.” Rengeknya menolak bantahan Mutia.


“Laah … trus maunya sama siapa? Kamu udah punya pacar?” tanya Mutia memastikan hal yang belum pernah ia tanya sebelumnya, tapi cukup membuatnya penasaran dan ingin tau.


“Dirga maunya sama tante imut saja, boleh.” Petir …? di luar ada petir yak. Tapi ga ada hujan sih. Lalu kenapa hati Mutia duar duer mendengar ucapan brondng ketceh itu.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2