PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 28 : CINTA BIKIN OLENG


__ADS_3

Mutia tak sempat mundur. Tangan Dirga terlampau kuat menarik tengkuknya. Seirama dengan degub jantungnya yang berkompromi dengan otak dan hatinya, merujuk pada suatu persetujuan. Ya, organ dan seluruh indra di tubuhnya sungguh menginginkan sentuhan Dirga yang terasa makin dalam dan lama. Memabukkan. Menimbulkan suara decakan, kecipak kecipak. Sebab keduanya sama sama lihai bertarung di arena tanpa ring itu. Syuuur.


Mutia berusaha merenggang. Saat runggunya menangkap ada suara langkah kaki mendekat ke tempat mereka berada.


"Makasih sayang. Aku akan cepat sembuh setelah mendapatkan obat yang sesungguhnya." Dirga menyentuh bibir Mutia yang masih basah dengan telunjuknya. Mutia menunduk malu. Sungguh malu malu mau rasanya. Dan membuatnya seolah melayang ke langit ketujuh. Jangan tanya apa beda rasa ciuman itu dengan Pras. Bukan soal isapannya. Tapi geloranya yang tak pernah ia dapatkan dari suami yang sudah 17 tahun membersamainya.


"Tiba di rumah wajib VC ya sayank." Entah hilang kemana panggilan tantenya. Sejak bibirnya udah dua kali bersilaturahmi ke bibir Mutia, sepertinya. Dirga kehilangan santunnya pada orang yang lebih tua darinya. Pun Mutia, bahkan terlihat lebih belia dari brondong itu. Patuh saja dengan semua yang diminta si ketceh. Udah bucin kali, setelah ngerasain c1pokan si tengil.


Mutia gelisah malam itu, balik kiri, balik kanan tak karuan.


[Tante sudah di rumah.] Chat Mutia setelah masuk rumah saat penunjuk waktu hampir menunjukkan angka 10 malam.


[VC ya… sayank. Kangen ] haiiis… jantung cek posisinya. Kali udah jatuh akibat terlalu sering berlonjak-lonjak akibat kelakuan si brondng ketceh.


[Ada om Pras di rumah.] Hanya itu isi chat Mutia sebelum mematian ponselnya. Ia tak mau ambil resiko. Merasa Pras lebih penting untuk di hadapi di rumah, ketimbang vicall dari si Brondy.


“Malam sekali pulangnya. Tidak capek?” Tiba-tiba Pras menyeletuk saat Mutia baru keluar kamar mandi di kamar mereka. Membersihkan tubuhnya juga menggunakan pakaian dinas malamnya.


“Huum … maaf. Kelamaan ngobrol dengan Cia, Mas.” Untung ada Cia yang bisa ia jadikan alasan terlambat pulang.


“Maaf juga. Karena memberimu pekerjaan. Ternyata membuat waktumu terkuras di luar, dan anak-anak mulai jarang dapat perhatianmu lagi.” Ucap Pras. Justru meminta maaf. Astaga, itu bukan salah suami yang memberinya sebuah pekerjaan. Tapi itu justru di manfaatkan Mutia untuk mencuri kesempatan.


Mutia merasa tersungging, juga merasa bersalah. Menarik kepala Pras, persis seperti yang Dirga lakukan tadi padanya. Menempelkan bibirnya, menerobos mulut Pras, demi menemukan indra pengecap yang berada dalam rongga mulut suaminya. Memejamkan mata, mencari gelora yang samar. Memfokuskan pikiran dengan yang ia lakukan. Tak lupa menghadirkan sekelebat bayangan Dirga dalam benaknya. Mengandaikan jika lawannya sekarang adalah si Brondong. Walau dari aroma nafasnya pun berbeda. Pras yang seorang ahli hisap tembakau, sedangkan Dirga adalah si paling rajin menghisap permen menyegar bau mulut. Tentu terasa lebih bersih, segar, wangi dan menggemaskan.


Pras itu suaminya. Bukan hanya bibir Pras yang di serang Mutia, kini tangannya juga lihai bergerilya di bagian tubuh suaminya. Pras merasa seperti di awang-awang. Ini bukan yang pertama baginya. Kadang jelang masa PMSnya. Mutia memang sering begitu. Sebab Mutia adalah wanita normal, yang walau katanya ‘tidak cinta’ pada Pras. Tapi antara cinta dan n4fsu itu adalah dua kata yang berbeda arti. Keagresifan Mutia di atas ranjang tidak lantas membuat Pras heran. Justru senang, ia merasa sebagai seorang suami yang masih sangat di butuhkan dan di rindukan oleh istrinya sendiri.

__ADS_1


Tanpa rayuan, pujian bahkan permintaan lebih pada sang istri, Pras sudah mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Itulah sebabnya, ia merasa tak perlu lelah berjuang untuk mempertahankan rasa pada Mutia. Toh, di matanya Mutia selalu bergairah dalam hal memanjakannya dan di tempat tidur.


Sayang, sentuhan Mutia malam itu bukan karena akan PMS yang membuat l1bidnya naik. Tetapi, karena ia sedang halu. Memindahkan rasa yang ingin ia lakukan dengan Dirga, padahal itu adalah Pras suaminya. Fix, Mutia sudah berzinah hati.


“Terima kasih, kamu selalu luar biasa.” Hah … belasan tahun Mutia melayani suaminya di atas tempat tidur. Ini mungkin adalah kalimat ke sepuluh kali yang dapat ia dengar dari seorang Pras. Sebab biasanya, setelah nganu. Hanya kening Mutia di kecup sebentar lalu Pras membalik badannya. Mendengkur sampai pagi datang. Lalu bangun dan beraktivitas seperti semalam tidak terjadi apa-apa. Itulah suami frezer.


“Selalu luar biasa …? Berarti sering?” tanya Mutia ingin di rayu lebih panjang dan lebar.


“Heem.” Cuma deheman gaees. Dan setelah itu, ia di tinggal ke kamar kecil. Kemudian tidur dengan nyenyak.


Mutia mengendap-endap keluar kamar. Duduk di area daput favoritnya. Menyalakan ponsel dengan berbekal headset. Ia merindukan Dirga. Huh Gilak.


Mata Mutia berbinar saat melihat kolom hijau itu bertulis online.


“Kenapa sayank belum tidur?” Sambungan VC segera berlangsung. Dengan bibir melebar kekiri dan kanan, senyum semanis mungkin. Membungkus rasa lelah seharian ini. Lelah menyembunyikan perasaan yang nano nano. Mulai dari paniknya saat tau Dirgan sakit, kegalauannya tentang siapa Aline, hingga nikmatnya kecupan lama dan dalam bersama brondongnya tadi. Juga capeknya melayani suami. Bukan karena keperkasannya, melainkan saat melayani suaminya ia juga harus menepis bayangan Dirga. Yang gagal ia usir. Pras di atas tubuhnya, tapi tidak di hatinya. Separuh Mutia sudah di isi oleh bayangan Dirga. Heeem.


“Belum VC sama brondong…” Jawab Mutia setengah berbisik pada pengeras suara di HSnya.


“So sweet.” Jawab Dirga memanyunkan bibirnya pada sang kekasih. Kemudian keduanya larut dalam broolan unfaedah. Sekedar memperpanjang waktu untuk saling menghapus rindu. Halloow baru dua jam lhooo ga saling bertemu, kenapa sudah rindu lagi sih.


“Tante sayangku …”


“Heem.”


“Seminggu lagi, kita bakalan jarang ketemu lhoo.” Infonya manja.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Udah pergi KKN.” Jawabnya.


“Ya sudah. Nikmati saja tiap prosesnya.” Jawab Mutia bijak.


“Nanti tengokin yaa… sayang.”Rengeknya manja.


“Jangan aneh-aneh.” Jawab Mutia tak punya jawaban lain.


“Gak aneh. Cuma mau kayak tadi aja. Lebih lama lagi.” Haduuuuh …. Pipi Mutia memerah muda sendiri. Sumpah malu dia jika ingat bagaimana perbelitan sengit mereka berdua di ambang pintu kost Dirga tadi. Cinta itu buta, juga gak pakai logika. Mereka sampai gak sempat mikir untuk melakukan itu di tempat yang lebih lumrah. Berciuman dalam posisi berdiri itu memang nikmat dan terkesan lebih romantis. Tapi tidak di depan pintu jugakan. Bagaimana kalau ada orang lain yang melihat adegan tak pantas untuk di saksikan semua kalangan. Hah … cinta membuat oleng.


Bersambung …


Readers … ada sarankag untuk Mutia ini?


Apakah kita ijinkan untuk lanjut dengan si Brondy


Atau kembali kejalan yang benar saja?


Komen gratis ya, sama dengan like.


Kecuali mawar dan kopi.


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2