
Ibu tidak mau Dir. Habiskan infus ini saja. Lalu antar ibu pulang ke desa kita saja.” Tegas Larsih sembari menatap tajam pada Pras yang keras kepala dan diam-diam pemaksa itu.
Bukan hanya Pras sebenarnya yang keras kepala. Ibu Dirga juga tampak tak kalah memiliki kepala batu. Walau selang infus masih tertancap di tangannya, toh ia bahkan meminta untuk pulang. Walau sebelumnya Dirga sudah menjelaskan betapa berat penyakit yang sedang di idapnya.
Sungguh Dirga tidak bisa mengambil keputusan. Satu sisi. Ia jelas ingin kesembuhan untuk ibunya. Tetapi di sisi lain, ia tak punya banyak uang untuk membiayai pengobatan ibunya. Dan un tuk menerima belas kasihan dari seorang Pras yang istrinya sudah ia goda itupun, gengsi baginya.
“Mbak … maaf ikut campur. Mohon ijinkan suami saya membantu mbak dalam hal melanjutkan pengobatan di kota. Banyak hal yang dapat di raih di sana, yang pertama adalah kesembuhan mbak, juga kuliah Dirga yang dapat ia sambi. Sampai mbak benar pulih. Mungkin begitu yang Mas Pras maksudkan sedari tadi.” Walau tidak di minta, Mutia mencoba mengartikan maksud pembicaraan suaminya pada Lasrih yang sejak tadi tidak gamblang. Bukankah Mutia tidak sebentar berumah tangga dengan Pras, tentu ia lebih paham maksud pembicaraan suaminya yang pelit bicara tersebut.
“Dir … kalo kamu mau Kembali ke kota untuk menjalankan kuliahmu itu. Ya Silahkan. Dan ibu akan Kembali ke desa saja, ada Desta dan Dita yang akan menemani ibu di rumah.” Perintah ibu Dirga masih dalam mode keras kepalanya.
“Lar … cukup Darwis yang tak sempat ku perhatikan. Jangan sampai kamu juga ku acuhkan, sedangkan sekarang kamu di hadapanku. Kamu akan jadi tanggung jawabku.” Kembali suara Pras mengudara.
“Aku bukan siapa-siapa mu. Dan kamu tidak perlu bertanggung jawab apa-apa untukku dan keluargaku.” Larsih berbicara dengan nada suara agak pelan, menahan sakit dada yang Kembali datang. Ya itu lah Larsih, yang walau sakit masih pantang untuk dikasihani.
Namun kekerasan hatinya itu justru berpengaruh pada kestabilan kesehatannya. Jantungnya terlampau cepat untuk berpacu. Mengakibatkan keadaannya memburuk hingga pingsan. Dan hal itu justru di manfaatkan Pras untuk segera memindahkannya ke rumah sakit di kota asal mereka. Sesuai rencana Pras.
Kini mereka sungguh telah berada di perjalanan, menuju Kota. Dengan mobil yang berbeda. Sebab Dirga dan ibunya menggunakan mobil ambulan lengkap dengan peralatan medis juga perawat yang bertugas untuk memantau kondisi ibu Dirga.
__ADS_1
“Ayank … aku kehilangan muka dengan Om Pras. Sudah istrinya ku ganggu. Sekarang ia harus menanggung biaya perawatan ibu. Sebegininya jadi Brondong miskin, yank.” Diperjalanan, masih sempat saja Dirga mengetik pesan untuk Wanita idolanya yaitu Mutia. Jantung ibu Dirga yang sakit, rupanya merembert ke otak anak sulungnya yang masih saja sableng.
“Syukurlah kalau kamu tau malu. Makanya berhenti mengejar istri Pras, sebab tak perlu ku jelaskan. Bahwa aku menjadi janda pun belum tentu aku mau sama kamu.” Balas Mutia pada Dirga, Sekalian saja ia tegaskan bahwa dalam hatinya sudah taka da tempat untuk brondong tengil itu.
“Ayank gak mau sama aku, karena aku miskin?” lanjut Dirga, merasa jika Mutia sedang mau meladeninya.
“Kamu kaya juga aku tetap cinta sama mas Pras.” Jawab Mutia lebih tegas.
“Hah … aku kasian sekali sama ayank. Harus hidup lama Bersama orang sekelas arca itu, bahkan suka memaksakan kehendaknya. Kaya sih… tapi tante yakin selama ini Bahagia bersamanya?” Dirga masih mencoba merayu Mutia agar oleng.
Menarik lalu membuang nafas kasar. Sesungguhnya Mutia memang hanya pura-pura Bahagia selama ini. Ia sudah terlanjur janji pada dirinya sendiri, bahwa menikah hanya satu kali dengan satu orang. Dan akan berusaha untuk selalu belajar jatuh cinta pada pria yang di kirim Tuhan untuk menjadi suaminya. Bukankan banyak jalan menuju Bahagia. Bukankah lebih baik focus pada yang membuat senang saja. Toh, Pras sudah menjadi ayah dari anak-anaknya. Tidak mungkin semudah itu Mutia mengganti sosok ayah bagi dua anaknya. Apalagi jika yang menggantikannya hanyalah seorang brondong tengil seperti Dirga. Terlalu jauh baginya untuk memulai semua dari nol Kembali.
“Kenapa mendegus, sedang memikirkan apa?” tiba-tiba Pras menyadari sejak tadi istri di sebelahnya tampa asyik dengan ponselnya, yang kemudian terlihat memikirkan sesuatu yang berat.
“Tidak sedang memikirkan apa-apa.” Bohongnya.
“Mas … kalo capek. Kita gantian saja menyetirnya. Besok mas harus bekerja, sudah terlalu lama meliburkan diri.” Tawar Mutia, seolah ia sangat [erhatian pada suaminya. Padahal, hanya mengalihkan isu saja, takut ketahuanm jika yang ada dalam pikirannya sekarang tidak hanya Pras, tapia da Dirga juga.
__ADS_1
“Terima kasih, tidak usah.” Tuh kaaan, sudah kayak dengan siapa aja ngonrolnya si Pras kalp dengan Mutia, berbeda dengan Larsih.
Tiba di rumah sakit tujuan, Larsih sudah langsung di tangani dengan baik oleh tim medis yang sudah membaca rekam medik Larsih. Untuk sementara, Larsih memag hanya berada di ruang IGD untuk di observasi dan menunggu dokter spesialis jantung yang bertugas datang.
“Om … terima kasih sudah membawa ibu ke sini.” Dirga tetap saja merasa perlu bahkan wajib untuk mengucapkan terima kasih pada sahabat ibunya tersebut.
“Sudahlah, jaga ibumu dengan baik. Urusan biaya kamu tidak perlu memikirkannya, semua Om yang tanggung. Tetapi, maaf. Om tidak bisa selalu ikut menjaga ibumu. Sekarang pun om dan tante mu, akan Kembali kerumah.” Pamit Pras pada Dirga tanpa basa basi.
“Iya Om. Sekali lagi terima kasih.” Jawab Dirga sopan dan penuh hormat. Seolah ia adalah anak manis nan santun. Padahal, ia sebangsa dengan kucing garong.
Ibu Dirga sudah sadarkan diri, tetapi matanya terasa berat untuk terbuka. Mungkin pengaruh obat yang tentu memaksanya untuk selalu mengantuk dan ingin tidur. Hal itu membuatnya tak sempat membahas apapun pada Dirga yang memang selalu ada di ruang rawatnya yang baru. Sampai hari baru pun tak ia sadari telah datang menjelang.
Rumah sakit yang kini menangani penyakit ibu Dirga memang jauh lebih lengkap dan memiliki tim medis yang tentu lebih handal dari yang sebelumnya. Bahkan jadwal operasi pemasangan ring jantung Lasrih pun sudah terbit. Dan siap di pasang.
“Dir … kenapa kamu menyetujui ibu di bawa kemari? Kamu tau berapa biaya yang akan Pras keluarkan untuk ibu. Pasti mahal. Kamu sungguh tidak tau diri. Mengapa kamu tidak biarkan ibu mati saja, daripada menerima kebaikan dari pria yang istrinya kamu peluk.” Rupanya hanya jantung Lasrih yang sakit, tapi tidak dengan ingatan dan otaknya. Ia masih ingat betul bagaimana Mutia dan Dirga berpelukan di ruang rawat sebelumnya.
Bersambung ….
__ADS_1