
"Oh ... Istri pengertian. Idaman beet sih ini tante." Batin Dirga meronta.
Kesininya, makin takjub saja Dirga melihat karakter Mutia. Tak salah ia jatuh cinta pada sosok Mutia yang bersahaja. Bukan tentang rupa, tetapi lebih kepada attitude seorang Mutia, yang tabah jadi kacang di mata suaminya.
Dirga tau, Mutia hanya terlalu pandai menyimpan kepedihan hatinya diperlakukan sedemikian oleh sang suami.
[Tante ... Kalo mau nangis. Nangis aja. Dirga jadi lebih ngerti. Sebenarnya tante juga butuh di dengar dan mendengar. Aslinya tante rapuh.] Chat Dirga ke ponsel Mutia.
Iya, semua chat Dirga hanya centang dua abu-abu. Artinya semua chat Dirga gak di buka Mutia. Tapi Dirga tidak peduli. Dia tetap saja menulis seperti karangan bebas pada room chatnya pada Mutia.
[Pliiis tante. Ijinkan Dirga jadi penghibur hati tante. Om Pras memang sayang sama tente. Tapi gak gitu cara menyayangi wanita sebaik tante.] Ketiknya lagi.
[Tante Mumutku sayang. Ku makin cinta sama tante. Love you more, ayang aku]
Huh... Kambuh lagi ini rayuan pulau pisangnya si brondong. Atau Dirga memang lebay, dan terlalu peka. Saat melihat kekasihnya di perlakukan suaminya sedingin itu udah mau main adopsi aja, istri orang.
"Dirga ... Kita kearah mana?" tanya Pras memecah kesunyian dalam mobil tersebut. Mereka sudah masuk perbatasan kota yang mereka tuju.
"Kanan Om. Sudah ku kirim lokasinya ke ponsel tante." Jawab Dirga bohong. Padahal, mana ada dia mengirimkan alamat rumah sakit ke ponsel Mutia. Dirga hanya memancing, juga penasaran kenapa Mutia sanggup untuk tidak membuka chatnya yang sudah mirip skrip novel on going.
"Oh ... Ada ngechat?" polos Mutia tanpa rasa bersalah. Dan terpaksa membuka room chat dan membaca semua chat dari Dirga.
Buru buru Dirga mengirim alamat lokasi rumah sakit yang akan mereka tuju. Tak lupa mengirim chat pribadinya.
[Kok bisa ... Semua chat ku gak di baca. Gak ada notif ya?] Ketik Dirga saat ponsel Mutia masih on di tangan. Sehingga Mutia pasti akan segera membalasnya.
[Tidak sopan. Mas Pras sedang nyetir. Tapi tante berchat ria denganmu.] Balas Mutia cepat.
__ADS_1
"Sepertinya lurus aja Mas. Lokasi Rumah Sakitnya di jalur ini." Mutia membaca MAP yang Dirga kirim.
Memang Dirga tau. Walau gak di kirim MAP pun, mereka tak lama lagi akan tiba di Rumah Sakit yang letaknya memang di jalur arah luar kota tak jauh pula dari perbatasan wilayah. Dirga sengaja mengada-ngada mengirim alamat. Agar semua chatnya di baca oleh Mutia. Itu perkiraan Dirga.
Tapi ternyata tidak. Mutia hanya membaca sebentar, dan tidak semuanya ia baca. Entah, apa sungguh Mutia tidak lagi menganggap isi chat itu penting.
"Terima kasih sudah mengantar ..." Walau ucapan terima kasih Dirga tidak penting. Tapi Dirga tetap merasa harus mengucapkannya, pada Pras dan Mutia.
"Sudahlah, cepat temui ibumu. Dan kami pamit, akan mencari tempat untuk beristirahat dulu." Jawab Mutia dengan formal.
"Oh ... Iya. Sekali lagi terima kasih, tante. Om." Ulang Dirga yang kemudian merogoh sakunya, karena ponselnya berdering lagi.
Lembayung senja nampak berpijar di langit yang berarak gelap. Pertanda malam segera datang. Mutia dan Pras sudah melepas lelah di sebuah hotel biasa di sudut kota itu.
Pras tentu lebih lelah, karena ia menjadi supir kurang lebih 4 jam perjalanan. Medan yang baru di tempuh, membuatnya harus lebih fokus, karena tak biasa.
"Mama Rara. Dirga itu tidak punya dana taktis. Kamu bantu dia, taroh saja di bagian admin atau pihak rumah sakit." Ujar Pras saat duduk santai di teras kamar, dengan mengisap tembakau kesayangannya.
"Tadi ... Dia di desak adiknya. Makanya aku berinisiatif mengantarnya." Jawab Pras. Mungkin seperti inilah komunikasi Pras dengan Indah, mantan sekretarisnya. Isi pembicaraan mereka lebih kepada perintah, bukan musyawarah.
"Oh ..." Jawab Mutia pendek.
"Aku masih capek. Kamu saja ke Rumah Sakit sendiri. Ambil uang 10jt. Terserah. Kamu kasih ke Dirga atau langsung ke ibunya, atau ke rumah sakitnya. Aku mau tidur." Agak panjang Pras memberikan perintah dan lebih detail.
"Nanti saja aku ke sana. Mas belum makan malam." Bantah Mutia. Tidak mungkin ia terlihat antusias dengan perintah suaminya. Sedangkan yang ia temui adalah brondong yang pernah terlalu indah dalam kalbunya.
"Nanti saja aku makan. Tunggu kamu pulang dari rumah sakit." Tegasnya yang kemudian masuk kedalam kamar hotel. Mengecup kening Mutia sebentar, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Mutia tampak linglung sebentar. Namun, kemudian bergegas mematuhi semua perintah sang suami.
"Mas ... Mas. Hatimu baik sekali. Seandainya kamu tau, jika Dirga dan aku sempat main hati. Apa kamu masih bisa sebaik ini pada kami, Mas." Menetes air mata Mutia saat di tangannya sudah ada uang cash 10jt rupiah. Sesuai perintah sang suami, agar uang itu ia berikan pada Dirga yang sedang berkesusahan.
"Gimana keadaan ibumu, Ga ...?" Tanpa mengetuk Mutia sudah tiba saja di kamar rawat inap Larsih, ibunya Dirga.
"Masih belum keluar hasilnya. Tapi ya memang harus di rawat inap dulu." Jawab Dirga.
"Kamu belum mandi. Sana, bersihkan tubuhmu makan juga. Nanti tante yang jaga ibu mu." Mutia menyerahkan sekantong plastik berisi pakaian lengkap untuk Dirga. Ya ... Selain singgah mengambil uang. Mutia juga menyempatkan diri untuk membeli pakaian ganti untuk mantan kekasihnya itu.
"Waaaw .. ada dalaman juga. Emang ayang tau ukurannya?" Goda Dirga berani, sebab ia yakin jika Pras tak ikut serta dengan Mutia.
"Huuush ... Jaga bicaramu Ga." Hardiknya dengan pelan penuh tekanan.
"Sumpah kangen, yaaaank " Dirga sudah memeluk Mutia tanpa permisi. Tidak dapat lagi hatinya melawan rasa rindu menderu yang sejak lama membuncah di hatinya.
"Ga ... Tolong. Kita tidak harus begini." Lerai Mutia dengan pelukan yang sebenarnya juga di rindukannya.
"Sebentar lagi ayaaank. Masih kangen." Rengeknya di telinga Mutia.
"Kita udah gak ada hubungan apa-apa Ga. Pliiis, jangan begini." Mutia masih berusaha melepas pelukan erat itu.
"Sumpah ... Tante gak sayang Dirga? Trus kenapa sampe anterin Dirga kesini?" Huh... Brondong pemaksa itu tetap saja berusaha menguasai tubuh mantan kekasihnya.
"Udah tante bilang, Om Pras yang mau." Jawabnya masih dalam pelukan Dirga.
"Ga ..., Tolong kita jangan begini." Pintanya lirih. Mutia tau, semakin membentak dan menekan Dirga itu percuma. Maka memohon dengan baik-baik adalah cara terjitu untuk membuat Dirga patuh.
__ADS_1
"Kamu sama siapa Dir ...?" Suara lemah agak parau terdengar dalam ruang rawat inap rumah sakit itu. Tepat saat Dirga melepas pelukannya pada Mutia.
Bersambung ...