PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )

PESONA BRONDY ( Berondong Trendy )
BAB 24 : INSECURE


__ADS_3

Biasanya Mutia hanya berbagi cerita perihal suaminya sedikit bicara dan tidak peka. Jika lawan bicaranya adalah Shane, Visha dan Nunuk. Tapi tidak saat bersama Cia. Ia bahkan dengan sesungukkan meminta pendapat Cia apakah ia sungguh bersalah.


“Selama ini aku sudah mirip paranormal. Yang harus pintar menafsir apa saja yang Mas Pras sukai. Untuk semua masakanku, Mas Pras tidak pernah komplain. Apakah itu enak atau tidak. Aku tak tau kesukaannya apa ? Jika di tanya … Gimana Mas, enak? Ciaaa… itu artinya aku minta di komentari. Tapi jawabnya. Bersyukur saja dengan yang ada. Aku harus tabahkan Ci?” Mutia memulai narasinya. Dan Cia hanya menyediakan telinga untuk jadi pendengar.


“Sampai penampilanku … dia tidak pernah menghina kegendutanku, dan tidak pernah memuji saat BB ku ideal. Ci … aku mahluk sosial. Aku butuh pujian. Aku butuh komunikasi antar sesama manusia terlebih suamiku sendiri. Apa aku salah merasa seperti orang yang cinta sendiri? Sekuat baja menjalani semuanya dengan meraba tanpa aba-aba. Dan rambu larangan dari rang yang sudah ku pilih untuk hidup selamanya denganku?” Mutia sungguh merasa benar jika baginya itu sudah termasuk dalam golongan di zolimi.


“Kamu hanya sedang melebarkan masalah kecil. Di luar sana, masih banyak yang lebih sakit dari kamu. Suaminya selingkuh, KDRT, Mabuk, Judi bahkan tak pernah menafkahi secara lahir dan batin dengan benar. Tetapi mereka tetap bertahan. Tidak buru-buru memutuskan untuk berkhianat seperti kamu.” Waw … Skakmat! Cia kemana saja kemarin? Saat semuanya belum bermulai. Mungkin Mutia tidak akan menjadi pelaku perslengkian.


“Aku tidak berkhianat Ci. Aku hanya sedang 'main' sebut saja ini refreshing.” Jawabnya tetap membenarkan tindakannya dengan Dirga.


“Oh … sedang main? Ya sudahlah, jangan terlalu jauh mainnya. Takut nyasar dan lupa pulang.” Cia akhirnya menyerah dengan keputusan Mutia yang sedang gilak. Beralasan suami tak pandai memujinya saja, ia sudah merasa benar melakukan perslengkian. Dasar edan.


Hari pun berlalu. Cia yang kemudian memang tinggal menetap di lantai dua ruko tempat Salon Kecantikan milik Mutia itu beroperasi. Cia tidak memiliki basic di bidang hairstyles. Maka benar saja, ia di percayakan mengelola keuangan, sebagai asisten Mutia. Dan mengawasi dengan teliti pegawai yang bekerja di sana. Sehingga kinerja mereka terpantau dan para pelangganpun di layani dengan lebih baik lagi. Membuat Mutia memang bisa lebih longgar untuk datang ke tempat kerja paruh waktunya itu.


[Tante Imutku sayang … bisa ke kost?] gak usah tanya itu dari siapa? Pasti dari si brondong Tengil.


[Ngaco … ngapain?] Balas Mutia yang baru saja duduk di balik kemudi mobilnya, akan berangkat ke Salon.


[Dedeg demam, tan. Pacarnya di jenguk donk] Balas Brondng itu, entah beneran atau cuma modus.


[Bohong] Ketik Mutia singkat.


Sebuah pic thermometer terpampang jelas, ada deret angka di sana. Tiga Puluh Sembilan koma Delapan Puluh Sembilan Derajat Celcius.


“Itu panas banget, Ga.” Mutia menunda keberangkatannya. Demi menguhubungi kekasih labilnya terlebih dahulu. Dengan panggilan Video Call.

__ADS_1


“Yang bilang panas bohongan siapa?” terlihat tubuh itu rebah dengan wajah lesu.


“Ya … maaf. Tante kira kamu bercanda. Obat sudah ?” tanyanya agak panik.


“Belum …”


“Kenapa?”


“Ga punya stok.”


“Huh … mau makan apa?” tanya Mutia masih dalam mode cemas.


“Makan bibir tante.” Jawabnya iseng.


“Ga …!” Kulit wajah Mutia menghangat, agak merah sedikit karena malu melandanya.


“Oke … tante ke sana, sekarang.” Ke kost Dirga itu bukan yang pertama kali, pernah sebelumnya Mutia di ajak bertandang ke tempat brondong itu tinggal. Karena ada sesuatu yang harus di ambil saat mereka sedang berkencan. Tapi, Mutia hanya menunggu di mobil. Tidak masuk ke dalam kamarnya.


Dan kabar sakitnya Dirga sekarang cukup membuat Mutia panik. Sepanik Mutia tau, jika Radit atau Raisa sakit. Ya … Dirga yang kini sudah punya tahta khusus di dalam hati Mutia. Mutia sudah dapat memastikan jika ia sayang pada brondong ketceh itu. Sehingga sudah mulai rela berkorban demi si ketceh itu. Atau jangan-jangan Mutia sudah OTW bucin pada Brondong rahasianya itu.


“Kamarmu nomor berapa, Ga?” tanpa basa-basi Mutia segera menghibugi Dirga dengan panggilan suara. Sambil terus menyusuri jalan yang Dirga lewati untuk menuju kostnya.


“Hah …? Tante beneran ke kost?” Dirga terdengar kaget. Entah itu akting atau sungguhan.


“Pake tanya … kamu kan lagi sakit. Ini tante bawakan obat dan bubur pesananmu.” Jawab Mutia sambil berjalan dan celingak-celinguk memasuki lorong menuju kost Dirga.

__ADS_1


“Wah jadi ngerepotin, tan.” Jawabnya datar. Mungkin karena sedang sakit, Mutia merasa jika suara Dirga terdengar berbeda. Tidak manja seperti biasanya.


“Tante udah masuk ke jalan kemarin yang kamu lewati, terus tante kemana ini?” tanya Mutia terdengar tak sabar.


“Heem, yang sebelah kanan. Cat Oren. Kamar nomor 3, tan.” Ucapnya dengan suara yang terdengar bulat dan menggema. Entah kenapa.


Mutia sudah berada di depan puntu kamar yang bertulis nomor 3. Pintu itu terlihat terbuka sedikit, dan ada sendal yang nampak seperti milik perempuan. Warnanya cream, model jepit ada pita di bagian tengahnya. Tidak mungkin itu milik Dirga.


“Permisi …” Mutia bersuara tepat di depan pintu yang setengah terbuka itu.


“Iya …” Suara perempuan terdengar menyahuti dari dalam. Di susul sosok tubuh wanita melangkah mendekati asal suara di depan pintu.


“Ini kostnya Dirga …?” tanya Mutia pada wnita muda yang mendekatinya dari dalam.


“Iya …” Jawab wanita itu terlihat bingung dan menatap Mutia bagai tatapan menelanjangi Mutia dari atas dan ke bawah, berkali-kali. Pun Mutia melakukan hal yang sama, mencermati wanita muda, cantik dan sexy itu dengan seksama. Dengan perasaan yang tidak enak.


“Oh … ini titip ya. Obat dan bubur pesanannya. Bilang maaf, saya buru-buru.” Mutia tidak berminat berlama-lama di sana. Hatinya tiba-tiba ciut, melihat cewek yang menyambut Obat dan bubur tadi. Spek idaman semua laki-laki.


“Hah … oh iya.” Hanya itu jawaban cewek itu. Menyambut paper bag yang Mutia serahkan. Dengan perasaan agak bingung.


[Dia siapa?] Mutia tak sabar ingin tau siapa wanita yang ada dalam kamar kost Dirga. Saat ia berada dalam mobilnya, menyalakan mesin agar AC ikut hidup. Mutia segera mengirim pesan singkat.


[Siapa …?] Dirga justru balik bertanya pada Mutia, tidak mengerti.


Mutia mematikan ponselnya. Kesal rasanya saat sudah bersemangat menjenguk kekasih hati yang sakit dan cukup membuatnya cemas. Tetapi setelah tiba di tempat, bukan wajah yang di rindukan yang muncul melainkan seorang wanita muda. Pake celana pendek sepaha lagi. Mutia insecure di buatnya.

__ADS_1


Menenggelamkan diri dengan kesibukan di Salon adalah pilihan Mutia sekarang. Tanpa gangguan notif dari ponsel yang selama ini tak pernah jauh dari genggamannya. Lalu memutuskan untuk kembali ke sanggar milik Shane bersama Cia, sahabatnya.


Bersambung …


__ADS_2