
Sejak kenal dan dekat dengan Dirga, hidup Mutia sangat penuh warna. Terutama akan perasaannya yang random pada Dirga. Jangan terlalu fokus pada perbedaan usia Pras dan Dirga, sebab Dirga bahkan cocok jadi anak Pras. Sehingga dari kekencangan kulit keduanya jelas berbeda. Ketampanan Dirga pun tidak bisa di sejajarkan dengan pria yang sudah 17 tahun membina rumah tangga dengan Mutia. Tapi nanti, sebaik-baiknya Mutia menyimpan Dirga pasti akan tua juga. Yess… keriput kulit Dirga juga pasti akan muncul pada masanya.
Yang membuat hati Mutia oleng bukan hanya pesona ketrendyannya, toh jika ingin sungguh di cari. Pria tampan itu banyak juga beragam. Celakanya, Dirga memiliki sifat yang manis versi Mutia yang kurang perhatian dari suaminya. Dirga yang selalu punya telinga untuk mendengarkan sedikit kisah keseharian Mutia yang monoton sebagai ibu runah tangga. Dirga yang sangat memanfaatkan mulutnya untuk sesekali menanggapi curhatan Mutia, yang membuat Mutia merasa kehadirannya di anggap penting dalam hidup.
Mutia sungguh merasa di manjakan oleh Brondong Trendy itu.
Bagi Mutia jika sudah berbagi kisah dengan Dirga, membuat hatinya tenang, Dirga mampu meredakan perasaan galau yang hanya di buat-buat, juga pupil matanya yang selalu di manjakan oleh paras rupa Dirga yang di atas rata-rata pria tampan lainnya.
Perasaan ada tempat berbagi cerita di saat ia masih sebagai IRT saja sudah sangat membuat Mutia senang. Apalagi sekarang, saat Mutia memiliki kesibukan lain di luar rumah. Membuat cerita mereka bisa lebih acak lagi untuk di bahas bersama. Bahkan, seringnya Mutia tidak berada di rumah, memudahkan akses untuk Mutia keluar. Dan bisa lebih sering bertemu dengan brondong pujaannya.
Perbelitan lidah yang mereka lakukan sudah tidak hanya sekali. Perjanjian untuk tidak kontak fisik sudah terskip dengan sendirinya. Atas keinginan bersama. Kini, bagian tubuh depan Mutia malah sudah mulai tersentuh pelan, memabukkan oleh si brondong. Mutia tidak menyalahkan tangan itu. Ia terbuai. Saat hatinya merasa senang, ada hati yang cemburu untuknya. Gilak, Mutia merasa ia sangat istimewa di hati seorang Dirga. Hanya saat Dirga bilang ia tak suka Mutia cipika cipiki dengan lelaki lain, yang bukan suaminya.
Cinta atau sudah menjadi gairah bod0h yang Dirga dan Mutia lakukan di rooftop itu. Hanya berjarak dua langkah geser ke kanan dari pintu yang masuk dan keluar. Mutia dan Dirga saling menyalurkan emosi yang memuncak dalam hati keduanya. Dirga yang terbakar api cemburu, dan Mutia yang ingin menunjukkan permintaan maafnya. Melalui decakan kuat yang sama –sama enggan untuk segera mereka berdua akhiri.
Kadang Tuhan masih berpihak pada orang jahat, di bantu setan. Ciuman dalam dan lama tadi pun terlerai dengan perasaan terpaksa. Namun, itu adalah momen terberuntung bagi keduanya. Sebab saat keduanya hanya terlihat berdiri berhadapan. Bersama itu pula pintu keluar masuk rooftop itu di buka oleh seseorang.
__ADS_1
“Mutiara …?” Suara laki-laki menyebut nama Mutia dengan sebutan Mutiara. Itu adalah panggilan yang Pras dan para sahabatnya buat untuknya. Selalu lengkap. Mutiara, bukan hanya Mutia.
“Berto …?” Mutia menyebut nama sahabat suaminya dengan sedikit getir. Sumpah demi apapun, Mutia merasa persendian kakinya ciut, ingin pingsan. Tidak tau harus beralasan apa. Pergi dari ruang acara dan kini terciduk berduaan dengan brondong di atas rooftop.
“Pras … ayook.” Lanjut Berto memberi kode pada sosok tubuh yang selanjutnya datang menusul dan kini sejajar dengan Berto. Ya Tuhan, apa yang bisa Mutia lakukan untuk menciptakan prasa yang membenarkan perbuatannya di tempat itu.
“Mama Ra-Ra.” Pras menyebutkan panggilan khususnya pada sang istri ynag kepucatannya terselamatkan oleh keremangan malam.
“Malam Om, saya Dirga. Maaf, Istri Om ada di sini dengan saya. Sebab, Salon yang ibuk Mutia miliki akan mengadakan kerja sama dengan EO kami. Kebetulan kami bertemu di sini, jadi sekalian melihat lokasi yang mungkin bisa di gunakan untuk sesi pemotretan.” Uwaaaauuu… si Brondy ternyata tidak hanya tampan, tapi cerdas juga. Dari mana ide itu ? terdengar benar dan masuk akal.
“Iya pak. Begitulah.” Jawab Dirga tidak panjang lebar.
Sementara Pras tidak menanggapi penjelasan Dirga, bola matanya hanya menatap Mutia dengan lekat. Dia memang di sebut batu, sehingga memilih diam saja saat Dirga menjelaskan mengapa ia dan Mutia berdua-duaan di atas.
“Mas … tadi aku akan masuk lagi ke dalam.” Mutia bersuara, walau masih sangat kikuk. Tapi berusaha terlihat tenang dan anggun. Ikut bersandiwara, jika kebersamaannya dengan Dirga adalah urusan bisnis.
__ADS_1
“Ya … kami mau merokok dulu di sini.” Jawab Pras datar.Tidak dengan Mutia, tubuhnya sudah ia buat lebih dekat dengan sang suami. Dan Tumben itu di manfaatkan Pras dengan mengecup kening istrinya. Sebelum Mutia melangkah menuju pintu keluar. Iya, pintu penyelamat wajah Mutia yang pasti.
“Dirga permisi Om, Pak Dosen.”Pamit Dirga menyusul Mutia yang sudah lebih dahulu hilang dan menjauh dari tempat mereka berada sebelumnya.
Harusnya Mutia dan Dirga turun menggunakan lift. Tapi bodohnya setan di kepala Dirga masih betah nongkrong. Sehingga tangannya menarik lengan Mutia, menuju lorong tangga. Dan lagi, bibir Mutia ia sambar, dengan lebih dalam namun tetap lembut. Tangannya memegang tengkuk Mutia agar kelapala wanitanya tidak berusaha melepas atau menciptakan jarak.
Tangan Dirga kemudian tak hanya meremas tengkuk Mutia, tapi kadang nyasar kebagian-bagian yang membuat Mutia makin terbuai dengan sentuhan Brondy itu. Astaga … indahnya mendua. Resah itu yang membuat dada Mutia terguncang-guncang. Sedang ada pertikaian dalam hati seorang Mutia, antara takut terciduk saat ciuman mereka makin terasa bergelora. Dengan rasa nikmat yang di hadirkan pemuda tanggung itu. Padahal ini bukan lah adegan yang baru bagi Mutia, Toh saat berpacaran dengan Dino, mereka sering melakukan ini. Saat dengan Pras yang bahkan lebih dari itu mereka lakukan, karena memang pasangan sahnya. Mutia hanya sebagai pelaku dengan dalih pengabdian sebagai istri. Berusaha mendapatkan haknya dan menjalankan kewajibannya. Tapi, ada pa dengan Dirga. Kenapa rasanya senyaman dan secandu ini. Apa bibir Dirga mengandung nikotin. Sehingga susah lepas dan tak ingin ia tolak.
Tubuh Mutia makin menempal, tangan Mutia juga tidak lepas dari tengkuk Dirga.
Ganti.
Kini Mutia yang tidak ingin ciuman itu berakhir, sembari tubuhnya menikmati sentuhan absurd yang makin meresahkan jiwanya dan membuatnya basah di bawah sana.
“Tante … janji yang boleh begini hanya aku dan Om Pras saja.” Dirga melepas ciuman panas mereka, menempelkan jidat keduanya dan meminta wanitanya berjanji untuk setia pada dua pria. Sinting.
__ADS_1
Bersambung