
Setelah melakukan obrolan yang lebih tepatnya seperti sebuah kesepakatan antara Pras dan Mutia, tentang kemana mereka pagi itu. Akhirnya, keduanya memang berangkat menuju Rumah Sakit di mana ibunya Dirga dirawat, sebelum siang nanti mereka berdua akan kembali ke kota tempat tinggal mereka. Sesungguhnya Mutia ingin menghindar, datang ke Rumah sakit itu bersama Pras, hatinya risau, takut saja jika Dirga akan melakukan hal-hal yang di luar dugaan. Bukankah Dirga memang selalu bertingkah konyol padanya, dan celakanya walau konyol, Mutia memang menikmati bahkan suka dengan perlakuan si brondong tengil itu.
Sesampainya di rumah sakit, Mutia hanya menarik nafas panjang, saat ia lebih dahulu masuk ruang rawat itu dan hanya melihat bu Larsih yang ada di dalamnya, setidaknya aman untuk huru hara yang terjadi dalam hatinya kan. Dan posisi Mutia itu di susul Pras suaminya.
“Kamu Pras …?” sapa suara wanita saat melihat sosok Pras berdiri di ambang pintu. Wanita itu adalah bu Larsih, ibu Dirga. Spontan Mutia latah, menoleh kearah belakangnya, memastikan jika Pria yang di maksud oleh ibu Dirga itu adalah suaminya. Dan ternyata di kenali oleh bu Larsih.
“Larsih …?” Pras semakin maju mendekati wanita yang masih terbaring di atas ranjang pesakitan tersebut.
“Pras … kamu. Benar ini kamu, ya ampun… kenapa kita jadi bisa bertemu begini?” Larsih bicara pelan dan terasa sekali, seperti takjub dan tak percaya, jika ia bisa dipertemukan dengan lelaki bernama Pras.
Ceklek … drama pertemuan dua orang yang lama tak saling jumpa itu terpotong iklan. Iklan produk susu atau pembentuk otot. Ah, entahlah. Yang pasti saat kedua orang itu melanjutkan pembicaraan, Dirga tampak keluar dari dalam kamar kecil yang ada di ruang rawat tersebut. Dengan hanya menggunakan handuk terlilit di pinggangnya. Jangan lupa, Dirga itu juga suka ngegym, bentuk otot perutnya sudah terbentuk kotak-kotak. Dan itu membuat wajah Mutia bersemu merah, menahan malu. Cepat-cepat ia membuang muka, menghindar tatapan lama pada brondong penuh pesona itu.
“Oh, ada tamu. Maaf. Lupa bawa baju.” Ujar Dirga cepat, sebab tak menyangka jika di luar toilet itu sudah ada Mutia dan Pras, sedang bertamu.
Huru hara dalam hati Mutia yang sempat redam dan teduh tadi pun, sekonyong-konyong bangkit kembali. Sudah bertemu wajah si tamvan, di kasih bonus liat separuh badan sang mantan idola yang sungguh belum sirna dari hatinya pulak. Oh Tuhan, di lihat dosa. Di cuekin mubazirkan. Otak Mutia jadi traveling tipis-tipis. Itu pemandangan indah gaees. Kulit dan otot yang masih seger dan kencceng banget. Tapi, aman. Mutia masih ingat di mana ia berada sekarang. Di depannya tidak hanya ada Dirga. Tetapi juga ada suaminya dan ibunda si brondong tampan itu. Sedapat mungkin Mutia harus bisa jaga mata, demi pencitraan.
__ADS_1
“Darwis mana?” Pras angkat bicara. Melanjutkan pembicaraan yang tentu sudah menjadi tujuan utamanya berbicara. Mana ia perduli dengan iklan lewat tadi. Tentu di matanya, itu unfaedah banget.
“Sudah tujuh tahun Darwis meninggal Pras.” Jawab Larsih pelan. Dan obrolan itu di tangkap rungu Dirga. Ia kaget, mendengar obrolan antara ibunya dan suami kekasih hatinya tersebut.
“Om Pras kenal dengan ibu dan ayah …?” Dirga segera ikut dalam obrolan Pras dan ibunya. Tentu saat tubuhnya sudah tertutup pakaian, tidak seperti tadi yang setengah bu6il.
“Iya Dir, Pras ini teman ayahmu. Tepatnya, dulu kami satu sekolah sejak SMP hingga SMA. Waktu ibu tinggal di kota yang sama dengan Pras ini.” Jelas ibunya.
“Wah … kok bisa kebetulan gini sih.” Dirga mendekati sang ibu. Dan membuka plastik mangkuk berisi bubur di samping tempat tidur ibunya.
“Kamu tau sendiri Pras, kami menikah karena apa. Dan restu orang tua Darwis bagaimana pada kami, sehingga pulang ke desaku adalah pilihan yang bisa kami ambil saat itu. Kami menjadi orang desa yang bermata pencaharian sebagai petani saja. Saat Darwis masih ada, kehidupan kami lumayan enak, karena dia memang bertanggung jawab atas nafkah dan lainnya. Tapi, ketika ia tiada dan meninggalkan aku 3 orang anak. Aku harus kerja keras.” Sepertinya hubungan Larsih dan Pras ini memang dekat di masa lalu. Buktinya tanpa sungkan. Wanita yang tangannya di infus itu, langsung bicara tanpa menutupi apapun dari Pras.
“A aa. Ibu sudah janji, kalo Dirga sudah mandi. Ibu mau makan.” Dirga mengingatkan obrolan sebelumnya dengan sang ibu yang sempat malas untuk makan. Dan Larsih pun patuh, dengan telaten Dirga menyuapi ibunya yang terkadang masih berbicara pada Pras. Dan fix, kehadiran Mutia tidak di anggap dipojokan ruangan itu, karena asyiknya Pras ngobrol pada ibu Dirga, di sela suapan bubur yang terus Dirga masukan kedalam mulut sang ibu.
“Dirga … bagaimana hasil pemeriksaan kondisi kesehatan ibumu?” tanya ras beralih pada Dirga di hadapannya.
__ADS_1
“Dokternya belum datang untuk visite Om. Jadi belum ada kepastiannya.”Jawab Dirga santai, sesantai gerakannya menyuaapi ibunya, sambil sesekali melirik Mutia sebab posisinya sangat mendukung untuk mencuri pandang istri orang tersebut.
“Jangan hanya menunggu, tetapi kamu bisa saja mendatangi ruangan perawat supaya lekas diketahui. Kalau pelayanannya lambat, minta rujukan saja. Kita bawa ibumu ke tempat kita. Selain banyak pilihan rumah sakit, lebih canggih. Juga kamu tidak perlu jauh dan meninggalkan pekerjaanmu. Untuk menjaga ibumu.” Uwaaauuu. Mutia jarang-jarang mendnegar suaminya bicara sepanjang ini untuk sebuah kepedulian. Mutia sedikit curiga, jika Larsih bukan hanya teman di masa lalu, tetapi. Bisa saja ini bagian dari orang terdekatnya di masa persekolahan. Tetapi, Mutia tetap berusaha untuk tetap diam.
“Hah… perlu Om? Sampai pindah rumah sakit?” tanya Dirga menanggapi saran Pras.
“Ya kalau di sini hanya di rawat dengan infus kemudian tak di lakukan visite. Tidak jelas kan apa penyakitnya.” Jawab Pras kemudian. Dirga hanya mengangguk. Seraya mengambil ponsel di kantong celananya.
[Cie … cie. Ada yang baru ketemu mantan nih kayaknya] ketik Dirga mengirim chat pada Mutia yang dilihatnya sejak tadi memegang ponsel, akibat kurang kkerjaan. Spontan Mutia mendongak dan melihat wajah datar Dirga yang baru selesai mengetik tanpa rasa bersalah, sudah menuduh Pras dan ibunya memiliki hubungan di masa lalu.
[Jangan ngawur. Mereka teman bahkan sejak masa SMP. Kamu dengar sendiri tadi] balas Mutia cepat, daripada lama-lama memandangi wajah si tampan.
[Emang aku perduli mereka teman sejak kapan. Yang pasti hubungan mereka baik. Boleh niih, tuker pasangan. Kali, suami tante masih cinta sama ibu. Yaaah, impas kan. Aku cintanya tante]
Bersambung …
__ADS_1