
Jujurly, Mutia tersanjung dengan pengakuan Dirga. Akan barisan kata yang seolah benar dan tulus itu. Tapi, selama ia berhasil meredam rasanya pada Dirga, ia sudah berjanji tidak mau lagi jatuh pada kasus yang sama. Mutia menggelangkan kepalanya, dan memasang senyum yang hanya terangkat pada salah satu sisi bibirnya. Mutia ingin angkat bicara, tetapi di ambang pintu sudah ada pegawai salonnya yang terlihat bingung ingin berbicara. Bahkan tergesa untuk mengambil posisi di depan pintu yang terbuka sejak tadi.
“Buk … ada bapak di depan.” Irama jantung Mutia mendadak koplo. Ada angin apa Pras tiba-tiba ke salonnya di siang bolong. Bahkan sedang ada Dirga di ruang tunggu tersebut. ‘Ada bapak di depan’ sejak kapan? Mutia mendadak overthinking. Bisa saja sejak tadi Pras di depan dan mendengar semua obrolannya dengan Dirga.
“Mama Ra-ra.” Belum Mutia menjawab apapun dari dalam. Sebab Mutia lebih memilih berjalan keluar ruang tunggu khusus itu.
“Iya mas ada apa?” tanya Mutia mendekati suaminya.
“Kita bareng ke butik apa itu. Kamu tau kan bulan depan putri mas Yudho dan mbak Nunuk menikah.” Ujarnya dengan wajah datar seperti biasa. Mutia tidak bisa menebak. Apakah kehadiran Dirga di ketahui Pras atau tidak, di dalam sana.
“Oh … sebentar ku ambil tas.” Mutia memilih gercep. Tanpa alasan ina inu, ia segera kembali ke ruangan yang di dalamnya ada Dirga. Dan ingin tetap menyembunyikan brondongnya itu dari Pras, tapi gagal. Dirga sudah lebih dahulu keluar, dan mereka berselisih di depan pintu.
“Jangan keluar, ada mas Pras.” Suara Mutia pelan sekali di dekat Dirga.
“Aku hanya ingin menyapanya.” Jawab Dirga cepat.
“Kembali duduk. Dan pulanglah setelah aku dan mas Pras sudah pergi.”Perintah Mutia lagi, sambil menarik ujung kemeja Dirga. Tapi, Dirga itu bukan hanya Brondong trendy, sebab ia nekat juga. Mana ia perduli dengan larangan Mutia. Ia tetap saja ke depan dan sungguh menyapa Pras suami wanita idamannya tersebut.
“Siang Om …”Sapa Dirga sok kenal pada Pras.
__ADS_1
“Heem …siapa?” Pras dengan nada datarnya menerima uluran tangan yang merujuk ke depannya.
“Dirga Om. EO yang mengurus Aniv Om dan tante Mutia. Juga nanti yang akan mengurus acaranya Nia anak tante Nunuk.” Dirga dengan antusias membantu Pras mengingat ia siapa.
“Oh … yang ada di acara Hasan kemarin juga.” Pras menjawab dan secara langsung seolah bilang, kalau dia sesungguhnya tidak lupa. Jika Dirga adalah lelaki yang bersama istrinya di rooftop saat acara Hasan berlangsung.
“Yess … Om benar. Dan sekarang kami tengah membahas kelanjutan kerja sama untuk acara putri tante Nunuk. Sepertinya, kemampuan pegawai salon tante Mutia cukup baik. Sehingga mungkin nanti kami kembali bekerja sama.” Bual Dirga, yang samar ingin bilang korelasi dan kewajarannya berada di salon Mutia.
“Dirga … silahkan lanjutkan obrolan dengan mereka ya. Tante mau fitting baju dengan Mas Pras.” Mutia sudah muncul dari balik pintu keluar. Dan segera memberi kode pada suaminya agar segera pergi meninggalkan brondong yang gagal berlama-lama bersamanya di salon itu.
“Oh … iay tante. Terima kasih kesempatannya.” Ujar Dirga menjawab dengan mata yang terus menatap bagaimana datarnya dua orang, suami istri itu saat masuk mobil. Yang saling mandiri. Gak ada gandeng-gandengan tangan. Gak ada buka-bukaan pintu. Semua natural tidak ada manis buatan, dan keduanya memang se biasa itu.
“Tidak, baru saja.” Mana Mutia tau, jawaban itu benar atau tidak. Kan wajah suaminya memang begitu. Huh … malas Mutia memperpanjang pikiran halunya. Bikin pening saja.
[Sayang … maafin soal Aline ya. Dirga bukannya mau bohong. Tapi, ngelepasin Aline itu susah waktu itu. Tapi. Pas KKN kemarin. Aline udah ku putusin kok. Aku sayang tante Mutia ketimbang dia.] isi chat Dirga yang berada di kolom arsip Mutia. Iya. Dirga hanya di arsipkan tidak di blokir. Jadi, Mutia bisa kapan saja membuka untuk membaca chat Dirga yang memang terlihat semacam dertean pernyataan sendiri dan pertanyaan panjang tanpa jawaban.
Mutia hanya mengelus dada, dan membuang nafas dengan beret. Setelah membaca isi chat tersebut. Lalu membuang pandangannya ke luar jendela mobil yang Pras kemudi.
“Tidak lama, hanya menghabiskan satu puntung rokok saja.” Kemudian Pras melanjutkan kalimatnya, tanpa di minta. Iya. Mutia cukup puas dengan jawaban ‘tidak, baru saja’. Lalu merasa itu adalah penjelasan yang sudah cukup dan seperti biasa. Lalu, setelah Mutia terlihat frustasi setelah membaca chat Dirga. Kenapa Pras kemudian mengatakan jika ia sudah menghabiskan satu puntung rokok. Itu artinya lebih dari lima menit, Pras berada di luar salon itu untuk menunggunya. Lalu, bagaimana dengan obrolannya di ruang tunggu, yang tidak tertutup tadi. Bisa jadikan, yang Mutia dan Dirga perbincangkan itu di dengar oleh Pras.
__ADS_1
“Woh … cukup lama juga. Kenapa mas Ga telpon dulu kalo mau datang, jadi kelamaan nunggu kan.” Mutia sesegera mungkin memasang akting jika ia tidak sedang resah.
“Satu puntung rokok itu gak lama, mama Ra-ra.” Jawab Pras melepas seftbeltnya. Sebab mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Dan kerempongan pun terjadi di dalam butik itu. Karena di sana sudah ada Nunuk dan kawan-kawan. Rupa-rupa tatapan mata para sahabatnya di sana. Saat melihat Mutia yang datang bersama sang suami.
Ada tatapan menertawai Mutia, yang di mata Shane Mutia adalah seorang aktris pendatang baru yang sudah berhasil mengelabui suaminya. Ada pula tatapan kasihan pada Pras, si suami setia yang tak tau jika istrinya sudah bermain gila, dengan brondongan. Ada pula tatapan bangga Nunuk, pada Mutia yang sangat apik menutupi hubungannya. Nunuk yakin, hubungannya dengan Dirga tidak hanya berhasil ia tutupi dari mereka, tapi Pras juga.
“Haiii kesayangaaan. Lama kita tidak jumpa. Sulit banget sih hubungin kamu. Makanya ku sampai minta Mas Yudho hubungin suamimu yang antar ke sini.” Celoteh Nunuk sambil bercipika-cipiki pada Mutia.
“Iya … maaf Mbak. Tadi juga langsung di culik Mas Pras di salon.” Jawab Mutia seadanya.
“Pahaaam. Ya udah, antri yak. Biasa Vinsha suka lama kalo lagi urusan desain pakaiannya.” Tunjuk Nunuk pada Vinsha yang dsedang di ukur-ukur badannya oleh si penjahit.
“Tumben banyak yang datang ke Butik ini. Biasanya sepi-sepi saja.” Ujar Mutia yang matanya sudah terpendar keseluruh penjuru ruangan tersebut. Dan matanya mengkap sosok Desti di sana. Mutia selalu kenal dengan Desti, pegawai EO yang sama tempat Dirga bekerja.
“Iya haloo … udah di mana? Ku share lok aja.” Desti melewati tubuh Mutia agak cepat sambil menelpon seseorang yang sepertinya akan datang ketempat yang sama dengannya.
Bersambung ….
__ADS_1